Bos Instagram di Sidang: Scrolling 16 Jam Bukan Kecanduan Klinis?

Bos Instagram di Sidang: Scrolling 16 Jam Bukan Kecanduan Klinis?
Sumber :
  • Istimewa

Huawei Mate 80 Pro Siap Rilis Global, Cek Fitur Unggulannya!
  • CEO Instagram Adam Mosseri menolak istilah "kecanduan klinis" dan lebih memilih label "problematic use".
  • Penggugat menyoroti desain algoritma dan fitur umpan tanpa akhir sebagai pemicu pemakaian kompulsif pada remaja.
  • Persidangan mengungkap kasus remaja yang menghabiskan waktu hingga 16 jam sehari di dalam aplikasi.

Honor Magic 8 Pro Rilis Grip Kamera Profesional, Saingi DSLR?

CEO Instagram, Adam Mosseri, kini tengah menghadapi sorotan tajam dalam persidangan terbaru. Ia memberikan kesaksian terkait isu kecanduan Instagram yang melibatkan jutaan pengguna muda. Pihak pengadilan menempatkan desain produk dan algoritma platform di bawah pengawasan ketat regulator.

Persidangan ini memicu perdebatan sengit mengenai pola penggunaan media sosial yang ekstrem. Apakah durasi scrolling selama berjam-jam merupakan penyakit medis atau sekadar kebiasaan buruk? Mosseri dengan tegas menolak penggunaan label medis tertentu untuk menjelaskan fenomena ini.

Aplikasi YouTube Apple Vision Pro Resmi Rilis, Dukung Video 8K!

Desain Algoritma dan Gugatan Kecanduan Instagram

Pihak penggugat menyatakan bahwa Instagram sengaja merancang fitur yang mendorong perilaku kompulsif. Mereka menunjuk mekanisme umpan tanpa akhir (infinite scroll) dan notifikasi konstan sebagai penyebab utama. Selain itu, algoritma platform dianggap menjebak remaja sejak usia dini.

Saksi utama mengungkapkan fakta yang mengejutkan di ruang sidang. Seorang remaja dilaporkan menggunakan aplikasi hingga 16 jam dalam satu hari. Oleh karena itu, penggugat menuntut tanggung jawab perusahaan atas dampak psikologis yang muncul.

Perbedaan Antara Kecanduan Klinis dan Problematic Use

Mosseri mengajukan istilah "problematic use" untuk menggambarkan penggunaan yang berlebihan. Menurutnya, diagnosis medis memerlukan faktor yang lebih kompleks daripada sekadar durasi. Ia menekankan bahwa gaya hidup dan faktor pribadi pengguna juga menentukan kondisi tersebut.

Secara hukum, perbedaan istilah ini sangat krusial bagi masa depan perusahaan Meta. Jika terbukti menyebabkan kecanduan Instagram secara klinis, beban tanggung jawab hukum akan meningkat. Perusahaan mungkin harus mengubah total cara kerja fitur inti mereka di masa depan.

Dampak Kesehatan Mental dan Perlindungan Remaja

Otoritas kesehatan telah lama mengaitkan durasi penggunaan media sosial dengan masalah mental. Berbagai studi menunjukkan peningkatan angka kecemasan dan gangguan tidur pada kelompok usia remaja. Masalah citra tubuh juga menjadi perhatian utama dalam diskusi kesehatan mental ini.

Namun, hubungan sebab-akibat langsung masih menjadi bahan perdebatan panjang. Banyak ahli berpendapat bahwa bukti yang ada saat ini masih bersifat asosiasi. Artinya, pemakaian lama berkorelasi dengan masalah mental, namun bukan satu-satunya penyebab utama.

Langkah Mitigasi yang Tersedia Saat Ini

Instagram sendiri telah memperkenalkan berbagai fitur untuk membatasi waktu layar. Pengguna dapat mengaktifkan pengingat harian dan batas durasi penggunaan aplikasi. Selain itu, fitur kontrol orang tua juga tersedia untuk membantu pengawasan aktivitas anak.

Meskipun begitu, para kritikus menganggap langkah tersebut belum cukup efektif. Mereka menilai mekanisme utama yang mengejar keterlibatan pengguna tetap mendominasi. Fitur keselamatan dianggap hanya sebagai tambahan tanpa mengubah akar masalah pada desain algoritma.

Implikasi Masa Depan bagi Industri Media Sosial

Kasus ini memberikan tekanan besar bagi pengembang produk di seluruh dunia. Perusahaan harus mulai mempertimbangkan bagaimana fitur mereka memengaruhi perkembangan otak remaja. Jika metrik utama hanya mengejar keterlibatan (engagement), risiko regulasi akan semakin besar.

Bagi orang tua, situasi ini mempertegas pentingnya literasi digital di lingkungan keluarga. Selain mengandalkan fitur aplikasi, pengawasan terhadap perubahan suasana hati remaja sangat diperlukan. Langkah ini menjadi kunci untuk mencegah dampak buruk teknologi yang lebih dalam.

Persidangan Mosseri bukan sekadar debat istilah medis di ruang sidang. Kasus ini mempertanyakan batas tanggung jawab antara pilihan pengguna dan desain teknologi. Keputusan akhir pengadilan nantinya akan menentukan standar keamanan baru bagi seluruh platform digital.