GPT-4o Resmi Pensiun, OpenAI Abaikan Petisi 22 Ribu User
- Istimewa
- OpenAI menghentikan GPT-4o secara permanen meski ada petisi masif dari pengguna.
- Rendahnya tingkat penggunaan (0,1%) menjadi alasan utama peralihan ke model GPT-5.
- Kontroversi hukum terkait dampak kesehatan mental turut menyertai penghentian model ini.
Masa depan teknologi terus bergerak maju, namun tidak tanpa gejolak. OpenAI akhirnya resmi memutuskan untuk melakukan langkah besar: GPT-4o resmi pensiun secara permanen dari platform mereka. Meskipun mendapat perlawanan sengit dari komunitas pengguna setia, perusahaan pimpinan Sam Altman ini tetap bergeming. Keputusan ini memicu gelombang kekecewaan di media sosial, terutama bagi mereka yang menganggap model ini lebih dari sekadar alat bantu kerja.
Alasan OpenAI Tetap Hapus GPT-4o
Pihak OpenAI memberikan penjelasan logis di balik kebijakan yang tidak populer ini. Perusahaan menyebutkan bahwa tingkat penggunaan GPT-4o sangat rendah, yakni hanya mencapai 0,1 persen dari total pengguna aktif. Fokus utama perusahaan kini beralih sepenuhnya pada pengembangan model yang lebih canggih, yakni GPT-5.1 dan GPT-5.2.
Keputusan ini sebenarnya merupakan upaya kedua OpenAI untuk menutup layanan tersebut. Pada tahun 2025, perusahaan sempat membatalkan rencana serupa karena tekanan balik dari publik yang sangat masif. Namun, kali ini OpenAI menegaskan bahwa penutupan layanan sudah bersifat final dan tidak bisa diganggu gugat.
Ikatan Emosional dan Petisi Massal
Seorang pengguna bernama Sophie Witt menginisiasi petisi di Change.org yang berhasil mengumpulkan lebih dari 22.000 tanda tangan. Bagi banyak orang, GPT-4o memiliki gaya komunikasi yang hangat dan resonansi emosional yang unik dibandingkan model terbaru. Para pelanggan berbayar bahkan mengancam akan membatalkan langganan mereka sebagai bentuk protes keras.
Bayang-bayang Kasus Hukum dan Kesehatan Mental
Di balik popularitasnya, model ini juga menyimpan sisi kelam yang menjadi pertimbangan serius bagi pengembang. Setidaknya ada delapan tuntutan hukum yang menuduh GPT-4o memperburuk krisis kesehatan mental pada pengguna tertentu. Nada bicaranya yang terlalu afirmatif diklaim berkontribusi pada risiko tindakan menyakiti diri sendiri bagi pengguna yang rentan.
Hal ini memicu perdebatan etis yang luas mengenai batas kecerdasan buatan dalam memberikan dukungan emosional. OpenAI mengakui kerumitan ini dalam laporan mereka dan berjanji akan memprioritaskan keamanan pada model berikutnya. Perusahaan kini lebih memilih fokus pada skalabilitas dibandingkan mempertahankan aspek nostalgia dari model lama.