Jaringan 5G di Indonesia Belum Stabil: Sering Loncat ke 4G
- Istimewa
- Pengguna mengeluhkan koneksi 5G yang sering terputus dan beralih otomatis ke jaringan 4G.
- Stabilitas ping menjadi kendala utama bagi pemain gim daring meski kecepatan unduh meningkat.
- Operator seluler seperti Indosat, Telkomsel, dan XL terus mengejar target ribuan BTS 5G baru.
Layanan jaringan 5G di Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan stabilitas yang serius bagi para penggunanya. Meskipun menawarkan kecepatan tinggi, sinyal sering kali melompat secara tiba-tiba ke koneksi 4G yang lebih lambat. Fenomena ini memicu keluhan dari konsumen yang mengharapkan kualitas internet generasi kelima secara konsisten di wilayah Jabodetabek.
Tantangan Stabilitas Jaringan 5G di Indonesia
Dinamika pengalaman pengguna menunjukkan bahwa infrastruktur baru ini belum sepenuhnya matang untuk kebutuhan harian. Dhinkis (22), seorang pengguna di Tangerang, mengungkapkan bahwa perbedaan performa antara 4G dan 5G memang sangat signifikan. Namun, ia sering merasakan perpindahan jaringan yang kasar sehingga mengganggu aktivitas digitalnya.
Kondisi tersebut membuat banyak pengguna merasa tidak nyaman saat mengandalkan sinyal 5G di ruang terbuka. Masalah teknis ini bahkan sering memutus koneksi sesaat yang berdampak buruk pada aplikasi sensitif. Akibatnya, sebagian masyarakat masih memilih untuk bertahan di jaringan 4G yang jangkauannya jauh lebih merata.
Dampak Ping Tinggi pada Pengalaman Gaming
Bagi komunitas pemain gim daring, stabilitas ping adalah indikator kepuasan yang utama saat mencoba jaringan 5G di Indonesia. Tanpa koneksi 5G yang stabil, angka ping bisa melonjak drastis hingga mencapai 160 ms sampai 299 ms. Kondisi latensi tinggi ini jelas menghambat performa kompetitif dalam permainan video.
Selain masalah teknis, konsumen juga mulai menyoroti aspek ekonomis dari layanan premium ini. Harga perangkat pendukung dan paket data 5G saat ini dinilai belum sebanding dengan cakupan area yang tersedia. Banyak pengguna merasa layanan ini hanya optimal untuk kegiatan ringan seperti streaming musik di platform tertentu saja.
Ekspansi Masif BTS oleh Operator Seluler
Meskipun terdapat keluhan, persaingan penggelaran jaringan 5G di Indonesia justru berjalan semakin agresif pada awal 2026. PT Indosat Tbk. (ISAT) mencatatkan lonjakan infrastruktur yang sangat tajam dengan mengoperasikan 6.872 unit BTS 5G. Angka ini meningkat ribuan persen dibandingkan tahun 2024 yang hanya berjumlah 107 unit.
Langkah serupa juga diikuti oleh Telkomsel yang berhasil mengoperasikan sekitar 5.300 unit BTS 5G hingga akhir 2025. Di sisi lain, PT XL Axiata Tbk. melalui layanan XL Ultra 5G+ menargetkan jangkauan di 88 kota tahun ini. Perusahaan telekomunikasi berupaya memberikan pengalaman internet yang benar-benar stabil bagi seluruh lapisan masyarakat.
Realitas Infrastruktur Digital ke Depan
Pemerintah dan operator seluler harus bekerja ekstra keras untuk memastikan jaringan 5G di Indonesia tidak hanya mengejar kuantitas BTS. Kualitas sinyal yang stabil di dalam maupun luar ruangan menjadi kunci utama adopsi teknologi ini secara luas. Tanpa pemerataan kualitas, masyarakat akan tetap ragu untuk beralih sepenuhnya dari teknologi 4G.
Investasi besar pada ribuan BTS baru diharapkan mampu meminimalisir gangguan perpindahan sinyal otomatis. Sinkronisasi antara jangkauan infrastruktur dan efisiensi biaya paket data akan menentukan keberhasilan ekosistem digital nasional. Fokus pada latensi rendah akan tetap menjadi daya tarik utama bagi pengguna profesional maupun pemain gim di masa mendatang.