Relaksasi TKDN Smartphone AS Ancam Samsung dan Xiaomi?
- Istimewa
- Kebijakan khusus bagi vendor Amerika Serikat dinilai merusak level bermain yang setara (level playing field).
- Apple berpotensi mendominasi segmen premium karena memiliki fleksibilitas harga dan distribusi yang lebih cepat.
- Vendor seperti Samsung dan Xiaomi yang patuh pada aturan manufaktur lokal terancam beban biaya produksi lebih tinggi.
Wacana kebijakan relaksasi TKDN smartphone AS memicu guncangan hebat bagi stabilitas industri perangkat telekomunikasi di Indonesia. Langkah pemerintah ini berpotensi mengubah peta persaingan serta memberikan tekanan berat pada vendor yang selama ini patuh membangun fasilitas produksi lokal.
Dampak Relaksasi TKDN Smartphone AS terhadap Struktur Biaya
Pengamat pasar smartphone, Aryo Meidianto, menilai pemberian kelonggaran khusus untuk produk asal Amerika Serikat seperti Apple akan menciptakan ketimpangan biaya. Pasalnya, aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) selama ini mewajibkan vendor global untuk berinvestasi pada perakitan hingga riset di dalam negeri.
Jika kebijakan ini berlaku, pasar akan terbagi menjadi dua kelas pemain. Kelompok pertama adalah vendor yang bebas dari beban TKDN, sementara kelompok kedua tetap terikat aturan manufaktur yang padat modal.
Kondisi tersebut memberikan keuntungan besar bagi Apple dalam mengatur margin keuntungan. Sebaliknya, kompetitor seperti Samsung, Oppo, dan Vivo harus bekerja keras menyeimbangkan struktur biaya pabrikasi mereka yang jauh lebih berat.
Tekanan Hebat di Segmen Flagship dan Potensi Google Pixel
Aryo memprediksi persaingan di kelas premium akan menjadi area yang paling terdampak. Selama ini, merek asal Korea Selatan dan China mendominasi pasar kelas atas Indonesia melalui lini perangkat lipat dan ponsel flagship.
Namun, kehadiran iPhone dengan ketersediaan stok yang lebih cepat dapat mengancam posisi Samsung Galaxy S series. Selain Apple, Google juga berpotensi mengambil momentum dengan memasarkan lini Google Pixel secara resmi jika pembebasan aturan ini benar-benar terwujud.
Pasar smartphone premium pun dipastikan akan jauh lebih sengit. Konsumen mungkin akan lebih melirik produk AS jika harga dan waktu distribusi mereka menjadi lebih kompetitif akibat penghapusan hambatan administratif.