Keamanan Siber Perempuan: Urgensi Fitur Proteksi di Smartphone
- Istimewa
- Sebanyak 23,3 juta perempuan di Indonesia diperkirakan mengalami berbagai bentuk kekerasan pada 2024.
- Menteri PPPA mendesak adanya fitur keamanan siber yang tertanam langsung pada sistem smartphone.
- Program SHECURE Digital menjadi langkah kolaborasi nyata untuk melindungi kelompok rentan di ruang digital.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi, menyoroti urgensi keamanan siber perempuan di Indonesia. Arifah menyatakan bahwa regulasi pemerintah saat ini belum cukup kuat untuk membendung ancaman digital yang terus berkembang. Ia mendorong penerapan teknologi proteksi yang terintegrasi langsung dalam perangkat komunikasi masyarakat.
Tingkatkan Keamanan Siber Perempuan Melalui Teknologi Terintegrasi
Arifah mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap maraknya kejahatan siber yang menyasar perempuan dan anak-anak. Data tahun 2024 menunjukkan sekitar 23,3 juta perempuan mengalami kekerasan fisik, seksual, maupun psikologis. Selain itu, sebanyak 7,5 persen perempuan Indonesia pernah menjadi korban pelecehan secara daring.
Menurut Arifah, perlindungan digital memerlukan pendekatan yang lebih dinamis dan nyata. Ia menegaskan bahwa keamanan tidak boleh hanya berhenti pada aspek literasi saja. Teknologi mumpuni yang tertanam dalam sistem operasi ponsel kini menjadi kebutuhan mendesak bagi kelompok rentan.
Fondasi Hukum dan Tantangan Ruang Digital
Pemerintah sebenarnya telah memperkuat fondasi hukum melalui Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). Keamanan siber juga telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Namun, aturan tersebut harus bekerja di ruang yang sama dengan tempat terjadinya kekerasan.
Oleh karena itu, Arifah menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah melalui inisiatif SHECURE Digital. Program ini menggandeng UNFPA dan ITSEC Asia untuk memperkuat ekosistem digital nasional.
Implementasi Tiga Pilar SHECURE Digital
Program SHECURE Digital dirancang dengan tiga pilar utama: pencegahan, perlindungan, dan pemberdayaan. Pilar pertama adalah SHECURE CLASS yang berfokus pada edukasi dan literasi pertahanan diri. Peserta akan belajar mengelola privasi dan menghadapi ancaman penipuan di dunia maya.
Pilar kedua, SHECURE SHIELD, menghadirkan solusi teknis untuk melindungi pengguna secara aktif. Inisiatif ini mengedepankan prinsip privasi tanpa pengawasan berlebih, sehingga pengguna memegang kendali penuh. Terakhir, SHECURE VOICES membangun budaya digital yang saling menghormati melalui kampanye kesadaran komunitas.