Kenali Perbedaan IGRS, ESRB, dan PEGI dalam Rating Gim

Kenali Perbedaan IGRS, ESRB, dan PEGI dalam Rating Gim
Sumber :
  • Istimewa

Fitur Baru Google Play Store: Kini Bisa Cari Review Pakai Keyword
  • IGRS merupakan sistem klasifikasi nasional Indonesia yang dikelola langsung oleh Komdigi.
  • Perbedaan utama terletak pada norma budaya lokal yang membuat IGRS lebih konservatif.
  • Pelanggaran terhadap standar IGRS memicu sanksi administratif berat hingga pemutusan akses.

Anthropic Hapus Akses Unlimited Claude untuk Agen AI

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) kini memperketat pengawasan terhadap Indonesia Game Rating System (IGRS). Langkah ini muncul setelah sejumlah gim populer mendapatkan penilaian yang tidak sesuai dengan konten aslinya. Meskipun sistem rating seperti ESRB dan PEGI sudah menjadi standar global, Indonesia merasa perlu memperkuat kedaulatan digital melalui IGRS.

Perbandingan Karakteristik IGRS dengan ESRB dan PEGI

Waspada! Ancaman Malware Laptop Serang 54% Pengguna

Secara mendasar, IGRS, ESRB, dan PEGI memiliki kesamaan dalam misi perlindungan konsumen. Ketiganya menyediakan transparansi bagi orang tua untuk memantau konten yang anak-anak mereka konsumsi. Penggunaan simbol usia seperti 3+, 13+, hingga 18+ menjadi indikator utama dalam ketiga sistem klasifikasi ini.

Namun, perbedaan besar muncul pada wilayah operasional dan otoritas pengelolanya. ESRB beroperasi sebagai lembaga mandiri di Amerika Utara, mencakup wilayah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sementara itu, PEGI menjadi standar regional yang berlaku di 38 negara Eropa untuk memastikan keseragaman konten.

Berbeda dengan kedua raksasa tersebut, IGRS merupakan sistem nasional murni milik Indonesia. Pemerintah melalui Komdigi mengelola penuh sistem ini guna memastikan setiap gim selaras dengan nilai-nilai budaya bangsa. Hal inilah yang membuat IGRS seringkali memberikan rating lebih tinggi pada konten yang sensitif secara norma lokal.

Mekanisme Verifikasi dan Integrasi Global

Pengembang gim global biasanya lebih menyukai ESRB dan PEGI karena keduanya telah terintegrasi dengan International Age Rating Coalition (IARC). Melalui IARC, pengembang cukup mengisi satu kuesioner digital untuk mendapatkan rating di banyak negara sekaligus. Sistem algoritma ini menawarkan efisiensi tinggi bagi pelaku industri dalam memasarkan produk mereka.

Sebaliknya, IGRS masih menerapkan metode verifikasi yang jauh lebih ketat dan manual. Selain pengembang melakukan penilaian mandiri (self-assessment), pemerintah Indonesia juga menurunkan tim penilai resmi. Tim ini bertugas melakukan uji petik (game testing) secara langsung untuk memverifikasi kebenaran kuesioner tersebut.

Langkah verifikasi manual ini bertujuan untuk menutup celah manipulasi data oleh pengembang nakal. Komdigi ingin memastikan bahwa deskriptor konten, seperti unsur kekerasan atau transaksi dalam aplikasi, benar-benar sesuai dengan realita permainan. Fokus ini menjadi pembeda krusial dalam menjaga akurasi rating di pasar domestik.

Konsekuensi Hukum dan Dampak bagi Pengembang

Pemerintah Indonesia memberikan posisi hukum yang sangat kuat bagi IGRS melalui Permen Kominfo No. 2/2024. Regulasi ini memungkinkan pemerintah untuk menjatuhkan sanksi administratif bagi penyelenggara sistem elektronik (PSE) yang membangkang. Jika sebuah gim tidak memiliki rating yang valid, Komdigi memiliki wewenang penuh untuk memblokir akses gim tersebut.

Sanksi ini jauh lebih keras daripada mekanisme yang diterapkan oleh ESRB di Amerika Utara. ESRB umumnya menggunakan pendekatan regulasi mandiri industri dengan memberikan denda finansial atau penarikan produk dari ritel. Di sisi lain, Inggris menerapkan kekuatan hukum pada PEGI, di mana penjualan gim dewasa kepada anak-anak bisa berujung pada tuntutan pidana.

Para pelaku industri gim di Indonesia harus segera beradaptasi dengan standar ketat IGRS ini. Pemahaman mendalam mengenai klasifikasi usia bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan syarat mutlak untuk bertahan di pasar Indonesia. Transparansi konten menjadi kunci utama agar pengembang terhindar dari risiko denda besar maupun pemutusan akses layanan secara permanen.