China Pecahkan Rekor! Data Center Bawah Laut Bertenaga Angin Pertama di Dunia Siap Dukung Ledakan AI

China mengoperasikan Data Center Bawah Laut pertama di dunia
Sumber :
  • Wired

Pada data center konvensional, sekitar 25 hingga 40 persen konsumsi listrik justru digunakan untuk mengoperasikan sistem pendingin. Angka tersebut menjadi salah satu penyebab tingginya biaya operasional pusat data.

img_title Google Search AI Resmi Hadir, Pengguna Tak Bisa Tolak?

Melalui konsep data center bawah laut, air laut dimanfaatkan sebagai pendingin alami. Panas dari server dapat dilepas langsung ke lingkungan sekitar secara lebih efisien tanpa memerlukan pendingin mekanis dalam skala besar.

Menurut pemerintah China, metode ini mampu memangkas konsumsi listrik lebih dari 20 persen dibanding pusat data serupa yang berada di daratan.

img_title Solusi AI Deteksi Jatuh Lansia: Antara Keamanan dan Privasi

Selain lebih hemat energi, pendekatan tersebut juga mengurangi penggunaan air tawar yang selama ini menjadi kebutuhan penting dalam sistem pendinginan berbagai pusat data modern.

Energi Angin Lepas Pantai Jadi Kunci Infrastruktur AI Masa Depan

img_title Google I/O 2026: Bocoran Gemini AI dan Android 17 Terbaru

Keunggulan lain dari proyek ini adalah penggunaan energi angin lepas pantai sebagai sumber listrik utama.

Pemanfaatan energi terbarukan menjadi langkah penting karena kebutuhan listrik untuk AI diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Semakin banyak model AI yang dikembangkan, semakin besar pula daya komputasi yang diperlukan.

Pemerintah China sendiri telah menetapkan AI sebagai salah satu prioritas utama dalam strategi pembangunan teknologi nasional.

Pada 2025, pemerintah merilis rencana aksi nasional yang menargetkan percepatan pembangunan infrastruktur data center sekaligus meningkatkan penggunaan energi bersih sebelum tahun 2030.

Dengan memadukan pusat data bawah laut dan energi angin, China berupaya menciptakan infrastruktur digital yang tidak hanya kuat, tetapi juga lebih ramah lingkungan.

Bukan Teknologi Baru, Tetapi China Berhasil Membawanya ke Tahap Komersial

Konsep data center bawah laut sebenarnya bukan sepenuhnya baru.

Sebelumnya, Microsoft pernah menguji teknologi serupa melalui Project Natick di perairan Skotlandia pada 2018. Setelah dua tahun pengujian, perusahaan melaporkan bahwa sistem tersebut menunjukkan efisiensi tinggi dan tingkat keandalan yang menjanjikan.

Meski begitu, proyek tersebut tidak pernah dikembangkan menjadi layanan komersial.

China sendiri lebih dahulu mengoperasikan data center bawah laut komersial di Pulau Hainan sejak 2023. Namun, fasilitas terbaru di Shanghai memiliki keunggulan berbeda karena menjadi yang pertama di dunia yang mengombinasikan teknologi pusat data bawah laut dengan pasokan listrik dari pembangkit angin lepas pantai.

Halaman Selanjutnya
img_title