China Pecahkan Rekor! Data Center Bawah Laut Bertenaga Angin Pertama di Dunia Siap Dukung Ledakan AI

China mengoperasikan Data Center Bawah Laut pertama di dunia
Sumber :
  • Wired

Menurut peneliti dari Hong Kong Polytechnic University, Hanjiang Dong, keberhasilan China membawa teknologi ini ke tahap komersial didukung oleh beberapa faktor. Mulai dari tingginya kebutuhan pasar, kemampuan industri manufaktur, kemajuan rekayasa kelautan, hingga dukungan kebijakan pemerintah terhadap sektor AI.

img_title Jangan Asal Curhat ke ChatGPT, Gugatan Ini Ungkap Risiko Serius bagi Pengguna Rentan

Data Center Bawah Laut Dinilai Mampu Menghemat Air dalam Skala Besar

Selain efisiensi listrik, keberadaan data center bawah laut juga berpotensi mengurangi konsumsi air bersih.

img_title HoYoverse Kucurkan Rp230 Triliun Untuk Integrasi AI Di Game Masa Depan

Hal ini menjadi perhatian serius mengingat industri AI diperkirakan akan membutuhkan air dalam jumlah sangat besar untuk mendukung sistem pendinginan berbagai pusat data di seluruh dunia.

Lembaga United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) memperkirakan konsumsi air global untuk data center dapat mencapai 9,3 triliun liter pada tahun 2030.

img_title Hoyoverse Gelontorkan Rp230 Triliun Untuk Integrasi AI Di Game Terbaru

Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan air rumah tangga tahunan bagi sekitar 1,3 miliar penduduk Afrika Sub-Sahara.

Karena itu, penggunaan pendinginan alami melalui air laut dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya air tawar di masa depan.

Tetap Ada Risiko Lingkungan yang Perlu Diantisipasi

Meski menawarkan banyak keuntungan, para peneliti mengingatkan bahwa pembangunan pusat data di bawah laut tetap harus memperhatikan aspek lingkungan.

Beberapa potensi dampak yang menjadi perhatian meliputi perubahan sedimen dasar laut serta peningkatan suhu air di sekitar lokasi akibat panas yang dihasilkan oleh server.

Namun, berdasarkan berbagai kajian awal, dampak tersebut diperkirakan hanya terjadi dalam area yang relatif terbatas.

Profesor Biologi Kelautan dari Bournemouth University, Rick Stafford, menilai peningkatan suhu air akibat operasional pusat data kemungkinan tidak akan menyebar jauh dari lokasi instalasi apabila sistem pemantauan dilakukan secara konsisten.

Oleh sebab itu, pengawasan lingkungan secara berkelanjutan menjadi bagian penting agar teknologi ini tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga ekosistem laut.

Langkah Baru China Menuju Infrastruktur Digital yang Lebih Hijau

Operasional Shanghai Lingang Undersea Data Center menunjukkan bahwa pengembangan infrastruktur AI kini tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan kapasitas komputasi, tetapi juga pada efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan.

Halaman Selanjutnya
img_title