Bos Baru Xbox: Konsol Tetap Prioritas, Bukan Sekadar Publisher
- Microsoft
- Asha Sharma resmi menjabat sebagai CEO Xbox menggantikan Phil Spencer yang memasuki masa pensiun.
- Manajemen baru menegaskan komitmen penuh terhadap pengembangan hardware konsol dan perangkat genggam (handheld).
- Microsoft menerapkan kebijakan AI yang ketat untuk menjaga orisinalitas karya kreatif tanpa otomasi berlebih.
Asha Sharma resmi memimpin Masa Depan Xbox sebagai CEO baru per Februari 2026. Dalam wawancara terbarunya, ia menegaskan bahwa konsol Xbox tidak akan hilang dari pasar gaming global. Bersama Matt Booty sebagai Chief Content Officer, Sharma menjawab keraguan fans mengenai spekulasi Microsoft yang dianggap akan mundur dari bisnis hardware. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa ekosistem gaming Microsoft tetap berpusat pada perangkat keras mereka sendiri.
Komitmen Hardware dan Game Eksklusif
Transisi kepemimpinan ini terjadi saat spekulasi mengenai peluncuran game Xbox di platform pesaing semakin kencang. Matt Booty menjelaskan bahwa sistem studio mereka tetap bekerja sinergis dengan tim pengembangan hardware. Optimasi game untuk perangkat masa depan, termasuk potensi Xbox handheld, tetap menjadi prioritas utama tim internal. Sharma juga memastikan bahwa strategi Masa Depan Xbox tetap menghargai loyalitas pemain yang telah berinvestasi selama 25 tahun terakhir.
Oleh karena itu, Microsoft menepis teori bahwa mereka hanya akan menjadi vendor perangkat lunak pihak ketiga. Fokus perusahaan kini adalah membangun sistem federasi studio yang mendukung proyek eksperimental maupun game blockbuster tahunan. Struktur ini bertujuan untuk melindungi risiko kreatif sambil tetap melayani audiens inti mereka. Keberhasilan Xbox bukan berasal dari mengejar tren, melainkan dari konsistensi melayani basis penggemar setianya.
Batasan Tegas Penggunaan AI di Game
Meski memiliki latar belakang kuat di bidang AI, Sharma menetapkan batasan yang sangat tegas bagi para pengembang. Ia melarang penggunaan kecerdasan buatan yang menghasilkan konten berkualitas rendah atau hasil karya derivatif yang tidak memiliki jiwa. Teknologi AI hanya berfungsi sebagai alat bantu efisiensi, seperti mempercepat pengecekan bug atau melakukan optimasi kode pemrograman secara otomatis.
Selain itu, Matt Booty menegaskan tidak ada perintah dari atasan untuk memaksakan AI ke dalam proses kreatif. Penulisan cerita, desain seni, dan aspek desain inti tetap menjadi ranah eksklusif para pengembang manusia. Microsoft percaya bahwa alat baru seharusnya menciptakan lebih banyak spesialisasi pekerjaan, bukan justru menggantikan peran manusia. Kualitas tinggi tetap menjadi standar utama dalam setiap judul yang mereka rilis ke publik.