Perusahaan Mulai Serius Tangani Risiko Keamanan AI
- TechRadar
- Sebanyak 64% perusahaan kini menilai risiko keamanan AI sebelum menerapkan alat kecerdasan buatan, meningkat tajam dari tahun sebelumnya.
- Hampir seluruh perusahaan (94%) meyakini AI akan menjadi pendorong perubahan terbesar dalam strategi keamanan siber pada tahun 2026.
- Kebocoran data dan kerentanan teknis AI menjadi kekhawatiran terbesar para CEO, sementara CISOs lebih fokus pada ransomware.
- Meskipun ancaman AI meningkat, 77% perusahaan kini menggunakan AI sebagai alat pertahanan utama.
Perusahaan global akhirnya menunjukkan sikap proaktif terhadap ancaman digital yang dibawa oleh Kecerdasan Buatan (AI). World Economic Forum (WEF), melalui laporan Global Cybersecurity Outlook 2026 yang disusun bersama Accenture, mengungkap tren positif ini. Risiko keamanan AI kini menjadi perhatian serius. Faktanya, hampir dua dari tiga perusahaan, atau 64%, kini wajib menilai risiko terkait AI sebelum alat tersebut diimplementasikan. Angka ini melonjak tajam dari hanya 37% pada tahun lalu.
Kenaikan Drastis Penilaian Risiko Keamanan AI
Perubahan sikap ini muncul karena perusahaan mengakui adanya peningkatan kerentanan. Laporan WEF mencatat 87% responden percaya bahwa kerentanan terkait AI telah meningkat dalam setahun terakhir. Ini mendorong perusahaan menyusun strategi keamanan siber berdampingan dengan pengembangan AI.
Para eksekutif mengakui AI akan mengubah lanskap pertahanan siber secara total. Mayoritas responden, mencapai 94%, sepakat bahwa alat AI akan menjadi pendorong perubahan terbesar dalam strategi keamanan siber pada tahun 2026 mendatang.
Fokus Ancaman Bergeser
Meskipun ancaman tradisional seperti phishing masih mendominasi, dampak AI mempercepat intensitas serangan. Perusahaan mulai merasakan ancaman yang berbeda. Kekhawatiran terbesar para CEO saat ini berpusat pada penipuan (fraud) dan kerentanan AI.
Di sisi lain, kebocoran data menjadi perhatian terbesar bagi para CEO, mencakup 34% kekhawatiran. Sementara itu, kerentanan teknis sistem AI menunjukkan peningkatan kekhawatiran terbesar, naik dari 5% (2025) menjadi 13% (2026). Meskipun terjadi pergeseran fokus, eksploitasi kerentanan perangkat lunak tetap menjadi kekhawatiran ketiga tertinggi bagi semua jenis pemimpin.
AI: Ancaman Sekaligus Solusi Pertahanan Siber
Meskipun terdapat kesepakatan luas bahwa ancaman berbasis AI telah meningkat, perusahaan justru beralih menggunakan AI untuk merespons serangan. Sebanyak 77% organisasi kini memanfaatkan AI dalam operasi keamanan siber mereka. Hal ini menunjukkan peran ganda AI dalam ekosistem digital.
Aplikasi AI yang paling umum dalam keamanan siber meliputi deteksi phishing (52%), deteksi intrusi (46%), dan otomatisasi operasi keamanan (43%). Penerapan alat ini membantu perusahaan menghadapi volume ancaman yang semakin besar. Namun, implementasi AI juga menghadapi hambatan signifikan. Kekurangan tenaga ahli (54%), kebutuhan validasi manusia (41%), dan ketidakpastian mengenai risiko (39%) menjadi penghalang utama adopsi AI di bidang keamanan siber.
Perbedaan Prioritas antara CEO dan CISO
Laporan WEF menunjukkan adanya perbedaan persepsi yang menarik antara level kepemimpinan C-Suite mengenai ancaman spesifik.
Para CEO kini menempatkan penipuan dan kerentanan AI sebagai kekhawatiran tertinggi mereka. Namun, Kepala Keamanan Informasi (CISO) memiliki fokus berbeda. Mereka paling khawatir terhadap ancaman ransomware dan gangguan rantai pasok. Perbedaan ini menggarisbawahi tantangan dalam menyelaraskan prioritas antara risiko bisnis (CEO) dan risiko operasional teknis (CISO).
Proyeksi Ancaman AI di Masa Depan
Melihat ke depan, WEF memprediksi ancaman berbasis AI akan menjadi jauh lebih canggih dan meyakinkan. Ancaman utama yang diprediksi meliputi phishing yang sangat meyakinkan, penipuan deepfake, dan rekayasa sosial (social engineering) yang sepenuhnya otomatis.
Meskipun AI mempercepat evolusi metode serangan, metode serangan yang paling umum tetaplah phishing. Metode ini telah lama menjadi inti dari serangan siber. Ke depan, perusahaan harus terus memperkuat pertahanan mendasar sambil mempersiapkan diri menghadapi serangan yang dimodifikasi oleh kecanggihan Kecerdasan Buatan.