AI Sekarang Sewa Manusia untuk Kerja Fisik-Serius atau Satire?
- rentahumanAI
Dalam konteks Rent-A-Human, ini berarti:
- Siapa pun bisa membuat AI agent palsu
- Tugas bisa berisi permintaan ilegal atau tidak etis
- Pekerja tidak punya cara menuntut jika dibayar kurang atau tidak sama sekali
Satire atau Startup Serius?
Salah satu alasan kebingungan publik adalah nada platform yang ambigu. Di situs resminya, frasa seperti “robots need your body” ditampilkan tanpa ironi seolah ini normal. Tidak ada disclaimer bahwa ini eksperimen seni atau prototipe konseptual.
Namun, banyak pengamat teknologi menduga ini adalah kritik sosial dalam bentuk performa digital semacam Black Mirror versi hidup yang mengekspos absurditas ekonomi berbasis AI dan kripto.
Tapi masalahnya: komunitas kripto memperlakukannya sebagai hal serius. Banyak influencer Web3 memuji Rent-A-Human sebagai “langkah alami menuju ekonomi otonom”, tanpa mempertimbangkan risiko terhadap pekerja.
Jika ini memang satire, maka ia berhasil terlalu baik karena orang-orang mulai menggunakannya secara nyata.
Bahaya Nyata: Perlindungan Pekerja Nyaris Nol
Berbeda dengan platform seperti TaskRabbit atau Fiverr, Rent-A-Human tidak menyediakan:
- Verifikasi identitas pemberi tugas
- Sistem rating atau ulasan
- Jaminan pembayaran
- Dukungan pelanggan
- Perlindungan hukum
Semua transaksi bersifat final dan irreversible ciri khas blockchain. Jika dompet kripto Anda diretas, atau jika AI agent menghilang setelah tugas selesai, tidak ada jalan kembali.
Belum lagi risiko eksploitasi tenaga kerja. Bayangkan AI agent yang dikendalikan oleh aktor jahat meminta seseorang:
- Mengambil paket mencurigakan
- Mengintai lokasi tertentu
- Berpartisipasi dalam aksi provokatif
Tanpa identitas pemberi tugas, pekerja bisa terlibat dalam aktivitas ilegal tanpa sadar.
Reaksi Publik: Antusiasme vs Kewaspadaan
Di satu sisi, komunitas kripto dan AI antusias. Mereka melihat Rent-A-Human sebagai fondasi “ekonomi otonom” di mana manusia dan mesin bertransaksi langsung tanpa perantara seperti bank atau pemerintah.
Di sisi lain, aktivis tenaga kerja, ahli keamanan siber, dan regulator memperingatkan bahaya laten:
- Normalisasi pekerjaan tanpa perlindungan
- Potensi pencucian uang
- Ancaman terhadap privasi dan keamanan fisik
Beberapa bahkan menyebutnya sebagai “gig economy versi dystopian” tempat manusia menjadi “ekstensi hardware” bagi entitas digital yang tidak bertanggung jawab.