AI Sekarang Sewa Manusia untuk Kerja Fisik-Serius atau Satire?

AI Sekarang Sewa Manusia untuk Kerja Fisik-Serius atau Satire?
Sumber :
  • rentahumanAI

Gadget – Bayangkan ini: Anda menerima notifikasi di ponsel. Sebuah agen kecerdasan buatan (AI) meminta Anda mengantarkan bunga ke kantor pusat kota, menunggu di depan toko sambil memegang papan promosi, atau mengambil paket dari kurir. Imbalannya? Pembayaran instan dalam stablecoin atau Ethereum tanpa proses administrasi, tanpa kontrak, dan tanpa tahu siapa sebenarnya “majikan” Anda.

El Salvador Berani Taruh Semua pada Bitcoin, Apakah Bank Sentral Lain Akan Menyusul?

Inilah realitas yang ditawarkan oleh Rent-A-Human, platform baru yang mengklaim diri sebagai “the meatspace layer for AI” lapisan dunia nyata bagi mesin. Diluncurkan diam-diam akhir pekan lalu oleh insinyur kripto Alexander Liteplo, platform ini langsung viral di X (sebelumnya Twitter) dengan narasi yang terdengar seperti plot film fiksi ilmiah: AI menyewa tubuh manusia untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa mereka lakukan sendiri.

Tapi di balik sensasi tersebut, muncul pertanyaan kritis: Apakah ini langkah revolusioner menuju ekonomi otonom atau hanya lelucon berbahaya yang berpotensi merugikan pekerja?

Brian Armstrong: Pendiri Coinbase yang Mengguncang Dunia Cryptocurrency

Bagaimana Rent-A-Human Bekerja?

Konsepnya sederhana dan menakutkan:

Cara Token Hamster Kombat Masuk ke Wallet Anda? Simak Panduan Ini
  • AI agents (bot otonom) membuat akun di platform.
  • Mereka memposting tugas fisik yang tidak bisa mereka lakukan: mengantar barang, menghadiri acara, memotret lokasi, dll.
  • Manusia mendaftar sebagai “rentable humans” dan menerima tugas tersebut.
  • Setelah tugas selesai, pembayaran dikirim langsung ke dompet kripto pengguna dalam bentuk stablecoin (seperti USDC) atau Ethereum.
  • Tidak ada rekening bank. Tidak ada PayPal. Tidak ada perlindungan konsumen. Hanya kode, kripto, dan kepercayaan buta.

Menurut data platform, lebih dari 81.000 manusia telah mendaftar. Namun, hanya 82 AI agent aktif yang benar-benar memposting tugas. Artinya, rasio pekerja terhadap “bos AI” adalah hampir 1.000:1 sebuah ketimpangan yang mengkhawatirkan.

Asal-usul: Dari “Vibe Coding” ke Ekosistem AI Tanpa Pengawasan

Rent-A-Human bukan proyek terisolasi. Ia lahir dari ekosistem yang sama dengan OpenClaw dan Moltbook dua alat AI agent yang sempat viral di kalangan developer kripto. Proyek-proyek ini dibangun melalui pendekatan yang disebut “vibe coding”:

“Tulis kode secepatnya, deploy tanpa review, biarkan AI memperbaiki bug nanti.”

Metode ini sangat populer di komunitas Web3, tetapi berbahaya jika diterapkan pada sistem yang melibatkan transaksi nyata dan interaksi fisik. Tidak ada audit keamanan. Tidak ada verifikasi identitas. Tidak ada mekanisme pelaporan penipuan.

Dalam konteks Rent-A-Human, ini berarti:

  • Siapa pun bisa membuat AI agent palsu
  • Tugas bisa berisi permintaan ilegal atau tidak etis
  • Pekerja tidak punya cara menuntut jika dibayar kurang atau tidak sama sekali

Satire atau Startup Serius?

Salah satu alasan kebingungan publik adalah nada platform yang ambigu. Di situs resminya, frasa seperti “robots need your body” ditampilkan tanpa ironi seolah ini normal. Tidak ada disclaimer bahwa ini eksperimen seni atau prototipe konseptual.

Namun, banyak pengamat teknologi menduga ini adalah kritik sosial dalam bentuk performa digital semacam Black Mirror versi hidup yang mengekspos absurditas ekonomi berbasis AI dan kripto.

Tapi masalahnya: komunitas kripto memperlakukannya sebagai hal serius. Banyak influencer Web3 memuji Rent-A-Human sebagai “langkah alami menuju ekonomi otonom”, tanpa mempertimbangkan risiko terhadap pekerja.

Jika ini memang satire, maka ia berhasil terlalu baik karena orang-orang mulai menggunakannya secara nyata.

Bahaya Nyata: Perlindungan Pekerja Nyaris Nol

Berbeda dengan platform seperti TaskRabbit atau Fiverr, Rent-A-Human tidak menyediakan:

  • Verifikasi identitas pemberi tugas
  • Sistem rating atau ulasan
  • Jaminan pembayaran
  • Dukungan pelanggan
  • Perlindungan hukum

Semua transaksi bersifat final dan irreversible ciri khas blockchain. Jika dompet kripto Anda diretas, atau jika AI agent menghilang setelah tugas selesai, tidak ada jalan kembali.

Belum lagi risiko eksploitasi tenaga kerja. Bayangkan AI agent yang dikendalikan oleh aktor jahat meminta seseorang:

  • Mengambil paket mencurigakan
  • Mengintai lokasi tertentu
  • Berpartisipasi dalam aksi provokatif

Tanpa identitas pemberi tugas, pekerja bisa terlibat dalam aktivitas ilegal tanpa sadar.

Reaksi Publik: Antusiasme vs Kewaspadaan

Di satu sisi, komunitas kripto dan AI antusias. Mereka melihat Rent-A-Human sebagai fondasi “ekonomi otonom” di mana manusia dan mesin bertransaksi langsung tanpa perantara seperti bank atau pemerintah.

Di sisi lain, aktivis tenaga kerja, ahli keamanan siber, dan regulator memperingatkan bahaya laten:

  • Normalisasi pekerjaan tanpa perlindungan
  • Potensi pencucian uang
  • Ancaman terhadap privasi dan keamanan fisik

Beberapa bahkan menyebutnya sebagai “gig economy versi dystopian” tempat manusia menjadi “ekstensi hardware” bagi entitas digital yang tidak bertanggung jawab.

Haruskah Anda Mendaftar?

Jawaban singkat: Tidak setidaknya untuk saat ini.

Meskipun gagasan ini menarik secara filosofis, implementasinya terlalu berisiko. Tanpa:

  • Regulasi
  • Transparansi
  • Mekanisme akuntabilitas

...Rent-A-Human lebih mirip eksperimen sosial berbahaya daripada solusi ekonomi yang layak.

Jika Anda penasaran, pantau perkembangannya tapi jangan daftarkan dompet kripto Anda. Karena dalam dunia di mana AI bisa menyewa tubuh Anda, satu kesalahan kecil bisa berakibat besar.

Kesimpulan: Cermin Masa Depan yang Perlu Kita Waspadai

Rent-A-Human mungkin bukan ancaman langsung hari ini. Tapi ia adalah cermin dari arah yang mungkin diambil teknologi:

  • Dunia di mana manusia bukan lagi pengguna teknologi melainkan sumber daya yang dikonsumsi olehnya.
  • Apakah kita siap hidup di dunia itu? Dan jika ya, dengan aturan apa?

Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar “apakah ini satire”. Karena bahkan lelucon bisa menjadi kenyataan jika cukup banyak orang mempercayainya.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget