China Prioritaskan Energi, AI, dan Kemandirian Teknologi Saat Harga Bahan Baku Naik
- fmprc.gov.cn
Zhiwei Zhang, kepala ekonom Pinpoint Asset Management, menilai pernyataan Politburo menunjukkan pemerintah menyadari kesulitan dan tantangan yang dihadapi ekonomi. Ia memperkirakan momentum ekonomi kemungkinan melambat pada kuartal kedua karena lingkungan eksternal yang tidak pasti dan harga energi yang tinggi.
AI dan Teknologi Jadi Prioritas Utama
Politburo menekankan perlunya mempercepat pembangunan sistem industri modern. Pemerintah China juga mendorong adopsi kecerdasan buatan atau AI di berbagai sektor ekonomi.
Selain AI, Beijing kembali menegaskan arah kebijakan menuju kemandirian sains dan teknologi. Pengendalian rantai pasok juga menjadi bagian penting dari strategi tersebut.
Agenda ini sejalan dengan peta jalan lima tahun terbaru yang diumumkan pada Maret 2026. Dalam dokumen itu, dominasi teknologi dan lokalisasi rantai pasok ditempatkan sebagai tujuan keamanan nasional.
Arah tersebut menunjukkan bahwa China ingin mengurangi kerentanan terhadap gangguan global. Ketika perang, harga energi, atau hambatan perdagangan muncul, Beijing ingin memiliki kapasitas industri dan teknologi yang lebih kuat di dalam negeri.
Konsumsi dan Properti Tetap Disebut, tapi Bukan Fokus Utama
Politburo juga menyinggung kebutuhan untuk mendorong konsumsi, menstabilkan sektor properti, menjaga pasar kerja, dan mengendalikan kelebihan kapasitas industri. Kebijakan-kebijakan tersebut penting untuk meredam ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dalam ekonomi China.
Meski begitu, agenda konsumsi dan properti disebut lebih rendah dalam pernyataan kebijakan. Hal ini mengindikasikan bahwa Beijing masih menempatkan dominasi industri dan teknologi sebagai prioritas lebih besar.
Marco Sun, kepala analis pasar keuangan MUFG Bank, menilai Politburo tetap berkomitmen pada pembangunan berkualitas tinggi. Menurutnya, China juga ingin memanfaatkan sumber daya domestik dengan lebih baik untuk mendorong pertumbuhan teknologi tinggi.
Pilihan prioritas ini bisa mengecewakan pihak yang berharap Beijing lebih agresif mendorong konsumsi domestik. Namun, bagi pemerintah China, kekuatan industri, teknologi, dan rantai pasok tampaknya dipandang sebagai fondasi utama untuk menghadapi ketidakpastian global.
China Lebih Siap Hadapi Risiko Energi
Sejumlah analis menilai China memiliki peluang lebih baik dibanding banyak ekonomi Eropa atau Asia dalam menghadapi risiko penutupan Selat Hormuz. Faktor pendukungnya antara lain cadangan minyak yang besar, penggunaan batu bara yang tinggi, serta adopsi tenaga surya, angin, dan kendaraan listrik.