Sebelum Bunuh Diri, Dokter Aulia Risma Minta Harapan Akan Pengampunan dan Akhir yang Damai

Buku Diary Dokter Aulia Risma Sebelum Bunuh Diri: Ini Isi Lengkapnya!
Sumber :
  • VIVA.co.id

Gadget – Kematian tragis Aulia Risma Lestari, seorang dokter muda dan mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi FK Undip Semarang, mengguncang publik.

img_title Apa Itu YouTube Music Recap 2025 Indonesia?

Di balik senyum lembutnya, tersimpan kisah pilu yang merobek hati banyak orang.

Diary yang ditulis oleh Aulia menjadi saksi bisu penderitaannya.

img_title Miliano Jonathans Jadi Rebutan di Bursa Transfer 2026

Dalam catatan harian tersebut, Aulia menumpahkan segala rasa sakit, kesepian, dan keputusasaan yang ia alami selama menempuh pendidikan PPDS.

Dikutin dari tvOneNews.com (15/8/2024), tidak hanya tekanan fisik dan mental yang dialami Aulia.

img_title Cara Download Video Facebook HD Pakai FvidGo, Praktis Tanpa Ribet

Diary tersebut juga mengungkapkan dugaan bullying yang dilakukan oleh rekan-rekannya di PPDS Anestesi Undip.

Lebih mengejutkan lagi, Aulia diduga juga menjadi korban pelecehan seksual verbal selama menjalani pendidikannya.

Catatan Harian Dokter Aulia Risma Sebelum Bunuh Diri

Pada 5 Juli 2024, Aulia menulis tentang betapa beratnya beban yang ia rasakan selama menjalani pendidikan. 

Diary yang ditulis oleh Aulia menjadi saksi bisu penderitaannya.

Dalam catatan harian tersebut, Aulia menumpahkan segala rasa sakit, kesepian, dan keputusasaan yang ia alami selama menempuh pendidikan PPDS. Berikut beberapa isinya:

"1 semester aku berjuang di sini.  Terlalu berat untukku.  Sakit sekali.  Beban fsiknya begitu besar.  Aku ingin berhenti. Sakit sekali, sungguh sakit.  Rasanya masih sama, Aku ingin berhenti.  Aku tidak sanggup setiap hari bekerja seperti ini.  Ada yang bisa menolong saya? Apa Tuhan tau saya tersiksa? Apa Tuhan tau aku kesakitan? Kenapa di setiap aku berharap.  Tidak pernah ada jawabannya.  Apa Tuhan membenciku?  Aku selalu menjerit mohon pertolongan.  Tapi kenapa aku dibiarkan?  Apa aku dilahirkan hanya untuk mengakhiri? 

Seni kehidupan mana yang kulihat dahulu sehingga aku setuju untuk memililih dilahirkan?  Aku tidak serta merta menyerah tanpa berusaha.  Aku sudah menanggung banyak.  Aku manusia biasa.  Punggungku terasa amat sangat sakit setiap pulang.  Pulang dini hari, bukan duduk-duduk saja.  

Aku merasakan sakit yang luar biasa malam ini.  Aku tidak sanggup lagi meneruskan siklus ini.  Aku mohon, maafkan aku.  Maafkan aku yang menyerah.  Aku sudah berjuang.  Aku sudah sangat berusaha.  Aku mohon, Aku mohon.  Aku tidak sanggup lagi.  Bila harus menanggung lebih lama lagi.  Aku sendirian, aku berjuang sendiri. Tidak ada yang menolongku.  Aku tidak ingin sesakit ini lebih lama lagi.  Semoga Tuhan mengampuniku.  Tuhan, aku sakit.  Aku mohon tempat aku pulang.."

Halaman Selanjutnya
img_title