Heboh Viral Tamu Diusir di Malam Hari, Ini Identitas Pemilik Hotel Syariah Pekalongan!
- tiket.com
Klarifikasi dari Pihak Hotel
Menanggapi kegaduhan ini, manajemen Hotel Indonesia Syariah Pekalongan merilis klarifikasi resmi melalui akun TikTok mereka, @HotelIndonesiaPekalongan. Dalam video klarifikasi, pihak hotel menjelaskan bahwa Rama diusir karena tidak mematuhi prosedur yang berlaku.
Pihak hotel menyatakan bahwa Rama ingin langsung masuk ke kamar tanpa menyelesaikan konfirmasi terkait biaya tambahan yang merupakan bagian dari kebijakan hotel. Mereka juga mengklaim bahwa belum ada konfirmasi check-in dari aplikasi perjalanan atas nama Rama, sehingga meminta tambahan biaya sebagai prosedur standar.
Namun, klarifikasi ini tidak sepenuhnya meredakan kemarahan warganet. Banyak yang menyoroti pentingnya transparansi harga sejak awal, terutama dalam aplikasi pemesanan.
Siapa Pemilik Hotel Indonesia Syariah Pekalongan?
Di tengah kontroversi ini, banyak warganet yang penasaran dengan identitas pemilik hotel. Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, nama Hj. Afifah disebut-sebut sebagai pemilik Hotel Indonesia Syariah Pekalongan.
Informasi ini muncul dari sebuah unggahan viral di platform Threads oleh akun Instagram @demendolan. Namun, hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai identitas lengkap Hj. Afifah, termasuk akun media sosial atau profil pribadinya. Hal ini membuat spekulasi semakin marak di kalangan netizen.
Menariknya, nama hotel ini sempat muncul sebagai Hotel Ghoib Indonesia Pekalongan di Google Maps. Nama tersebut kini tidak lagi ditemukan, memicu dugaan bahwa pihak hotel sengaja mengganti nama untuk meredam dampak negatif dari insiden ini. Rating rendah di Google Maps untuk "Hotel Ghoib Indonesia" (hanya 1,2/5) memperkuat kritik terhadap pelayanan hotel.
Respons PHRI dan Dampak pada Reputasi Hotel
Kasus ini menarik perhatian Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Pekalongan. Dalam pernyataan yang dibagikan melalui video Rama (bagian kelima), PHRI menegaskan pentingnya transparansi harga, terutama dalam aplikasi pemesanan online, untuk menjaga kepercayaan tamu dan reputasi pariwisata di Pekalongan.
Insiden ini juga berdampak signifikan pada reputasi Hotel Indonesia Syariah Pekalongan. Banyak warganet yang menyatakan kekecewaan mereka, terutama karena label syariah yang seharusnya identik dengan keadilan dan keramahan. Beberapa pengguna bahkan membagikan pengalaman serupa di hotel lain, memperkuat seruan agar platform pemesanan seperti Traveloka meningkatkan pengawasan terhadap mitra hotel.