Pep Guardiola Dinilai Bikin Timnas Indonesia Rugi Besar, PSSI Kehilangan Aset Saat Han Willhoft King Pensiun

Han Willhoft-King
Sumber :
  • x.com

Ringkasan Berita:

Herdman Baru Latih Garuda, 3 Bintang Persib Ini Langsung Jadi Prioritas!
  • Media Inggris mengungkap keputusan pensiun Han Willhoft King yang pernah dikaitkan dengan Timnas Indonesia sehingga memunculkan sorotan pada PSSI yang kehilangan aset muda.
  • Karier yang sempat berkembang di Tottenham dan Manchester City terhenti karena cedera dan rasa jenuh sehingga membuka peluang besarnya untuk fokus kuliah.
  • Pilihan Han untuk menuju Oxford dinilai sebagai akhir dari peluang Timnas Indonesia memproyeksikan talenta mudanya di masa depan.

GadgetHan Willhoft King kembali menjadi sorotan setelah media Inggris menurunkan laporan lengkap mengenai keputusannya meninggalkan dunia sepak bola profesional. Nama gelandang bertahan ini pernah dikaitkan dengan Timnas Indonesia pada tahun 2023. Saat itu, publik mulai mengenal sosoknya saat sempat muncul spekulasi bahwa ia memiliki garis keturunan dari ayah yang besar di Jakarta. Harapan muncul karena posisinya sebagai gelandang bertahan dianggap cukup potensial untuk proyek jangka panjang PSSI.

John Herdman Latih Timnas Indonesia, Media Belanda: Ini Pelatih yang Punya Rekam Jejak Langka!

Pada masa itu, Indonesia tengah bersiap menuju Piala Dunia U17 2023. Bima Sakti mencari pemain yang sesuai kebutuhan tim. Han Willhoft King termasuk nama yang sempat diamati karena tampil bagi Tottenham Hotspur pada fase pengembangan akademi. Namun rencana memanggilnya batal setelah diketahui sang ayah tidak memiliki paspor Indonesia, yang otomatis membuat sang pemain bukan WNI. Satu satunya jalur untuk bermain bersama Timnas Indonesia adalah melalui naturalisasi.

Situasi tidak memungkinkan karena naturalisasi terhadap pemain berusia 17 tahun tidak dapat dilakukan. Itu membuat PSSI harus menunggu beberapa tahun jika memang ingin membuka peluang tersebut. Di sisi lain, perjalanan kariernya di Inggris sempat menunjukkan perkembangan. Musim panas 2024, Han bergabung ke Manchester City yang dilatih Pep Guardiola. Saat itu, ia dianggap sebagai aset masa depan sepak bola Inggris, terutama karena reputasinya sebagai pemain yang kuat dalam duel, disiplin, dan memiliki kualitas membaca permainan.

Viral di Vietnam! John Herdman Tolak Honduras, Pilih Latih Timnas Indonesia

Namun keputusan mengejutkan muncul pada pekan ini. The Guardian mengabarkan bahwa Han Willhoft King memilih pensiun dari sepak bola profesional pada usia 19 tahun. Ia memutuskan fokus melanjutkan pendidikan di Universitas Oxford. Media itu menggambarkan bahwa Han adalah pemain muda bertalenta yang digadang gadang bisa berkembang menjadi gelandang bertahan mapan di masa mendatang, tetapi serangkaian cedera dan situasi internal membuat pilihannya berubah total.

Ketika memperkuat Tottenham, ia sempat berlatih bersama Antonio Conte pada musim 2021 2022. Tetapi masalah cedera muncul di akhir musim dan kembali kambuh saat bergabung dengan Manchester City. Pada September 2024, cedera baru membuatnya absen panjang hingga pergantian tahun. Kondisi ini memperlambat adaptasinya dalam ritme permainan yang dituntut Guardiola.

Menurut laporan Mirror, Han tidak menikmati atmosfer latihan Manchester City. Macam bentuk latihan yang intens, pola kompetisi di akademi, serta level ekspektasi tinggi membuat dirinya tidak menemukan kenyamanan. Media itu menyebut bahwa wonderkid tersebut pensiun karena tidak menikmati latihan yang diterapkan oleh Pep Guardiola. Dalam sesi wawancaranya dengan Guardian, Han bahkan mengakui bahwa rasa bosan turut memengaruhi keputusannya.

Ia menggambarkan rutinitas hidup sebagai pemain muda yang hanya berlatih lalu pulang tanpa banyak aktivitas lain membuatnya kehilangan ketertarikan. Han mengatakan bahwa ia merasa tidak memiliki ruang gerak untuk mengeksplorasi minat lain. Situasi itu menjadi alasan kuat mengapa ia akhirnya memilih jalur akademik.

Cedera tetap menjadi faktor utama yang membuatnya berhenti dari lingkungan profesional. Namun Han juga menjelaskan bahwa dirinya membutuhkan stimulasi intelektual yang tidak ia dapatkan dalam rutinitas sepak bola. Lingkungan Oxford justru membuatnya merasa lebih tertantang. Ia merasa bisa berkembang dari sisi akademik dan sosial, sesuatu yang menurutnya tidak ia dapatkan saat masih aktif berlatih bersama Manchester City.

Keputusan ini sekaligus menutup peluang bagi Timnas Indonesia untuk kembali membuka pembahasan mengenai kemungkinan naturalisasi. PSSI kehilangan kesempatan mengembangkan pemain yang sempat memiliki potensi besar di level usia muda. Meski belum pernah resmi masuk radar administrasi federasi, namanya pernah menjadi pembahasan hangat pada 2023 ketika Piala Dunia U17 digelar di Indonesia.

Dinamika PSSI dan Peluang yang Kini Tertutup

Jika melihat konteks Indonesia, hilangnya kesempatan mengamankan pemain muda seperti Han Willhoft King memang terasa signifikan. Timnas Indonesia sedang membangun struktur jangka panjang dalam hal regenerasi, dan posisi gelandang bertahan adalah salah satu area yang sering menjadi perhatian. Potensi pemain diaspora yang tampil di liga top Eropa selalu menjadi pilihan strategis.

Namun semua peluang itu kini tertutup setelah Han resmi memilih pensiun. Ia tidak lagi berada dalam jalur pengembangan otomotif sepak bola Eropa. Bagi PSSI, situasi ini menandakan bahwa talenta diaspora tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tidak semua pemain muda yang muncul memiliki jalur karier yang konsisten hingga level senior.

Meski keputusannya tidak berkaitan langsung dengan PSSI, publik tetap melihat bahwa kesempatan itu hilang begitu saja. Sebab jika Han tidak pensiun dan berhasil menembus skuad utama Manchester City atau klub profesional lainnya, peluang Indonesia untuk mencoba membawanya ke proyek jangka panjang bisa saja terbuka.

Kini, fokus Indonesia beralih kepada pengembangan pemain yang sudah ada dalam sistem seperti Marselino Ferdinan, Ivar Jenner, dan pemain muda lain yang sedang dibina. Hilangnya satu peluang bukan akhir dari proyek regenerasi. Namun kasus ini menjadi pengingat bahwa pengincaran talenta diaspora membutuhkan waktu, proses, dan campuran faktor yang tidak bisa dikontrol federasi.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget