"Dia Membujuk Kami..." Cerita Pilu Sang Ayah Kenang Impian Rylan Henry Pribadi yang Belum Terwujud
- TikTok
Gadget – Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman Rylan Henry Pribadi, putra dari pengusaha Reza Pribadi sekaligus cucu dari konglomerat pendiri Napan Group, Henry Pribadi. Rylan, yang meninggal dunia akibat kecelakaan saat bermain ski di Niseko, Hokkaido, Jepang, pada 7 Januari 2026, meninggalkan duka mendalam sekaligus cerita tentang passion yang begitu besar.
Di tengah kesedihan yang menyeruak, sang ayah, Reza Pribadi, membuka satu fakta yang menyentuh hati para pelayat. Sebelum insiden tragis tersebut merenggut nyawanya, Rylan memiliki satu impian besar yang sedang ia perjuangkan: menempuh pendidikan di Jenewa, Swiss. Keinginan ini bukan semata-mata soal akademik, melainkan didorong oleh cinta matinya terhadap olahraga ski—olahraga yang ironisnya menjadi jalan terakhir hidupnya.
Reza mengenang bagaimana putranya berusaha keras meyakinkan kedua orang tuanya agar diizinkan kuliah di sana. Jenewa dianggap Rylan sebagai gerbang menuju lereng-lereng ski terbaik di dunia, tempat di mana ia merasa paling hidup. Cerita ini menjadi pengingat betapa Rylan adalah sosok yang penuh gairah dan tahu betul apa yang ia inginkan dalam hidupnya yang singkat namun bermakna.
"Dia Membujuk Kami..."
Dalam pidato perpisahan yang emosional, Reza Pribadi menceritakan betapa gigihnya Rylan merencanakan masa depannya. Bagi Rylan, ski bukan sekadar hobi liburan, melainkan bagian dari identitasnya. Ia bukan pemula yang nekat; Rylan telah berselancar di atas salju sejak usia balita.
"Dia bahkan mencoba membujuk kami untuk mengirimnya kuliah ke Jenewa agar dia bisa dengan mudah mengakses beberapa lereng ski terbaik di dunia," ungkap Reza dengan tegar.
Pernyataan ini menggambarkan betapa ski adalah satu-satunya hal yang bisa membuat mata Rylan berbinar dan bersemangat menjalani hari-harinya. Jenewa, dengan kedekatannya pada Pegunungan Alpen, adalah surga yang diimpikan Rylan. Sang ayah menegaskan bahwa keinginan Rylan tersebut menunjukkan betapa fokusnya sang anak pada hal yang ia cintai. Reza dan keluarga pun sebenarnya telah melihat betapa seriusnya Rylan menekuni olahraga ekstrem ini, mengingat ia sudah mencapai level advanced atau mahir.
Klarifikasi Tragedi: Bukan Karena Ceroboh
Di tengah duka, Reza Pribadi juga merasa perlu meluruskan spekulasi yang mungkin beredar mengenai penyebab kecelakaan putranya. Sebagai pemain ski yang sudah berlatih sejak usia tiga tahun, Rylan memiliki kemampuan teknis yang mumpuni. Reza menegaskan bahwa kecelakaan tersebut bukanlah akibat dari tindakan nekat atau pelanggaran aturan.
"Kami ingin mengklarifikasi bahwa Rylan melakukan hal yang benar. Kami sudah melarangnya untuk bermain di luar jalur (off-piste) dan dia mematuhi itu," tegas Reza.
Pernyataan ini menjadi penting untuk menjaga kehormatan sang anak. Rylan bermain di jalur yang aman dan sesuai aturan, namun takdir berkata lain. Kecelakaan di Niseko—salah satu destinasi ski paling populer namun juga menantang di dunia—menjadi bukti bahwa risiko selalu ada, bahkan bagi mereka yang sudah sangat berpengalaman sekalipun. Rylan pergi saat melakukan hal yang paling ia cintai, dengan cara yang benar dan bertanggung jawab.
Pesan Terakhir Sang Ibu
Momen pemakaman menjadi semakin emosional ketika ibunda Rylan memberikan salam perpisahan terakhir. Di samping Reza yang tampak berusaha menguatkan istrinya, sang ibu mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Rylan yang telah menjadi anak yang membanggakan.
"Beristirahatlah dengan tenang putraku. Terima kasih sudah menjadi putra terbaik. Dan aku berharap kau berpikir aku adalah ibu terbaik yang dimiliki. Aku mencintaimu," ucap sang ibu dengan suara bergetar.
Untuk mengenang sosok Rylan yang ceria dan penuh talenta, pihak keluarga memutarkan sebuah video tribut. Video tersebut bukan sekadar kumpulan foto, melainkan bukti visual betapa istimewanya Rylan di mata orang-orang terdekatnya. Keluarga ingin dunia tahu bahwa Rylan bukan hanya "cucu konglomerat", tetapi pemuda yang hangat, berprestasi, dan memiliki mimpi besar.
Warisan Keluarga Besar Napan Group
Nama belakang "Pribadi" yang disandang Rylan tentu menarik perhatian publik. Ia adalah generasi ketiga dari salah satu keluarga bisnis paling berpengaruh di sejarah ekonomi Indonesia. Kakeknya, Henry Pribadi, adalah tokoh sentral di balik berdirinya Napan Group, sebuah konglomerasi yang pernah merajai berbagai sektor di era 1980-an hingga 1990-an.
Untuk memahami latar belakang Rylan, kita perlu melihat jejak raksasa bisnis yang dibangun oleh keluarganya:
Profil Henry Pribadi dan Napan Group
Awal Mula Perintisan Henry Pribadi (Liem Oen Hauw) lahir di Kudus pada 1948. Bersama dua saudaranya, Andry dan Wilson Pribadi, ia mendirikan Napan Group pada Maret 1972. Ketiga bersaudara ini dikenal sebagai "Pribadi Bersaudara" yang memiliki insting bisnis tajam.
Era Kejayaan 90-an Pada dekade 1990-an, Napan Group mencapai puncak kejayaannya. Mereka tidak hanya bermain di satu kolam, tetapi melakukan diversifikasi bisnis yang masif. Mulai dari manufaktur, petrokimia, perkebunan, properti, hingga perbankan.
Pendapatan Fantastis Kekuatan bisnis Napan Group tercermin dari laporan pendapatan mereka. Pada tahun 1996, grup ini mencatatkan pendapatan tembus lebih dari Rp1 triliun—angka yang sangat fantastis pada masa itu, menempatkan mereka dalam jajaran elit konglomerat nasional.
Sektor Bisnis Strategis Hingga kini, unit usaha yang berafiliasi dengan keluarga ini masih aktif di berbagai sektor vital, termasuk industri kemasan plastik, pengolahan terigu, properti mewah, hingga perhotelan. Reza Pribadi, ayah Rylan, melanjutkan estafet ini dengan fokus pada sektor investasi dan pertambangan, baik di dalam maupun luar negeri.
Bela Sungkawa dari Tokoh Nasional
Kepergian Rylan di usia muda tak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga kolega bisnis sang ayah. Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, turut menyampaikan rasa kehilangan mendalam. Hubungan kedua keluarga ini ternyata cukup dekat, mengingat Rylan adalah sahabat dari putra Anindya Bakrie.
"Sebagai sahabat karib, saya juga turut merasakan kehilangan atas berpulangnya Rylan di usia yang masih sangat muda. Apalagi Rylan juga merupakan sahabat putra saya," tulis Anindya di akun Instagram pribadinya.
Anindya mengenang Rylan sebagai pemuda yang merepresentasikan paket lengkap: kepintaran, tata krama, sportivitas, dan kerja keras. Ucapan ini menegaskan bahwa di balik nama besar keluarganya, Rylan Henry Pribadi adalah pribadi yang memang layak dicintai dan dibanggakan. Tragedi Niseko telah merenggut nyawanya, namun mimpi dan semangatnya akan tetap hidup dalam kenangan orang-orang yang mencintainya.
| Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di : | |
|---|---|
| @gadgetvivacoid | |
| Gadget VIVA.co.id | |
| X (Twitter) | @gadgetvivacoid |
| Whatsapp Channel | Gadget VIVA |
| Google News | Gadget |