Sejarah Kelam Hari Valentine yang Jarang Diketahui Publik
- Wikimedia
Akar Lain: Festival Lupercalia, Perayaan Kesuburan Romawi Kuno
Namun, sejarah Hari Valentine tidak hanya berpusat pada kisah Santo Valentinus. Ada teori lain yang menghubungkannya dengan Lupercalia, festival pagan Romawi kuno yang dirayakan setiap 13–15 Februari.
Lupercalia adalah ritual kesuburan yang melibatkan:
- Penyembelihan kambing dan anjing
- Pemukulan wanita dengan kulit binatang (dipercaya meningkatkan kesuburan)
- Undian pasangan acak antara pria dan wanita
Festival ini sangat populer di masa Republik dan Kekaisaran Romawi tapi dianggap “tak bermoral” oleh Gereja Kristen yang mulai berkembang.
Pada tahun 496 M, Paus Gelasius I secara resmi menghapus Lupercalia dan menggantinya dengan Hari Santo Valentinus pada 14 Februari. Tujuannya jelas: mengkristenkan tradisi pagan dan mengalihkan fokus dari ritual seksual ke nilai-nilai cinta, pengorbanan, dan kesetiaan.
Valentine Jadi Hari Romantis? Berkat Puisi Abad ke-14
Meski Hari Santo Valentinus sudah ada sejak abad ke-5, ia belum dikaitkan dengan cinta romantis hingga ratusan tahun kemudian.
Perubahan besar terjadi pada abad ke-14, ketika penyair Inggris Geoffrey Chaucer menulis puisi “Parlement of Foules” (1382). Dalam puisinya, ia menggambarkan burung-burung memilih pasangan pada 14 Februari, sebagai hari cinta.
"For this was on Saint Valentine’s Day,
When every fowl cometh there to choose his mate."
Puisi ini menjadi titik balik budaya mengubah Hari Valentine dari peringatan religius menjadi simbol cinta romantis. Tradisi ini menyebar di kalangan bangsawan Eropa, lalu berkembang menjadi pertukaran surat cinta (valentines) pada abad ke-18, dan akhirnya komersialisasi massal pada abad ke-20.
Mengapa Sejarah Asli Valentine Sering Dilupakan?
Dalam era modern, Hari Valentine telah dikomersialisasi secara global oleh industri bunga, cokelat, dan kartu ucapan. Akibatnya, narasi tragis dan spiritual di baliknya tentang keberanian, pengorbanan, dan perlawanan terhadap tirani terkubur di bawah konsumsi massal.
Padahal, memahami akar sejarah ini justru bisa memperdalam makna cinta: bukan hanya sebagai perasaan romantis, tapi juga sebagai tindakan keberanian, empati, dan solidaritas.
Kesimpulan: Valentine Lebih dari Sekadar Cokelat
Hari Valentine bukanlah hari yang lahir dari dongeng manis. Ia adalah hasil perpaduan kompleks antara martir Kristen, ritual kuno, dan evolusi sastra Eropa. Di balik setiap bunga mawar dan cokelat, ada darah seorang pendeta yang rela mati demi mempertahankan hak manusia untuk mencintai.