Sejarah Kelam Hari Valentine yang Jarang Diketahui Publik
- Wikimedia
Gadget – Setiap 14 Februari, dunia dipenuhi warna merah muda, bunga mawar, cokelat berpita, dan ungkapan manis “Happy Valentine’s Day.” Namun, di balik gemerlap perayaan kasih sayang ini, tersimpan kisah kelam seorang martir Kristen yang dieksekusi karena menentang kebijakan kekaisaran Roma.
Hari Valentine yang kini identik dengan romansa sebenarnya tidak lahir dari cinta, melainkan dari pengorbanan, pemberontakan, dan transformasi budaya. Artikel ini mengungkap akar sejarahnya yang kompleks, tragis, dan sering kali diabaikan dalam narasi modern.
Siapa Sebenarnya Santo Valentinus?
Tidak banyak yang tahu bahwa “Santo Valentinus” bukanlah satu orang, melainkan beberapa martir Kristen awal yang hidup pada abad ke-3 Masehi. Gereja Katolik menghormati setidaknya dua tokoh utama yang dirayakan pada
14 Februari:
- Valentinus dari Roma – seorang imam di Roma
- Valentinus dari Terni – seorang uskup di Terni, Italia tengah
Meski kisah mereka berbeda, kedua tokoh ini digabungkan dalam tradisi populer menjadi satu sosok legendaris: Pendeta Valentine.
Kisah Pendeta Valentine: Menentang Kaisar demi Cinta
Versi paling terkenal berasal dari Valentinus dari Roma. Pada masa pemerintahan Kaisar Claudius II (268–270 M), Roma sedang terlibat dalam banyak peperangan. Sang kaisar percaya bahwa pria lajang adalah prajurit yang lebih tangguh karena tidak terikat keluarga.
Oleh karena itu, ia melarang keras pernikahan bagi pria muda kebijakan yang kontroversial dan tidak manusiawi.
Namun, Pendeta Valentine menolak diam. Ia diam-diam menikahkan pasangan muda yang saling mencintai, melanggar dekrit kekaisaran. Tindakannya dianggap sebagai pengkhianatan terhadap negara.
Akibatnya, Valentine ditangkap, dipenjara, dan akhirnya dieksekusi mati pada 14 Februari 270 M.
Surat Terakhir: “Dari Valentine-mu”
Legenda menyebutkan bahwa selama di penjara, Valentine berteman dengan putri seorang sipir penjara yang buta. Konon, Valentine menyembuhkannya dari kebutaan melalui iman.
Sebelum dieksekusi, ia menulis surat perpisahan kepada gadis itu dan menandatangani dengan kalimat:
“From your Valentine”
(“Dari Valentine-mu”)
Kalimat inilah yang kemudian menjadi frasa ikonik Hari Valentine modern, meski maknanya telah bergeser jauh dari konteks aslinya: bukan sekadar rayuan, tapi pesan terakhir seorang martir yang rela mati demi cinta sesama manusia.