Di Balik Habis Gelap Terbitlah Terang: Menggali Ulang Esensi Emansipasi Raden Ajeng Kartini

Di balik Habis Gelap Terbitlah Terang
Sumber :
  • kominfo

Gadget – Setiap bangsa memiliki visi sendiri mengenai masa depan yang ingin mereka capai. Dalam sejarah pergerakan global, sejak revolusi Prancis hingga pemberontakan Komune Paris tahun 1848, proletar Eropa telah bergerak kolektif menuntut perbaikan nasib di tengah sistem kapitalisme yang sedang tumbuh. Namun, konteks perjuangan di Hindia-Belanda memiliki dinamika tersendiri yang berbeda. Sebelum munculnya gerakan terorganisir berbasis ideologi intelektual, perlawanan terhadap kolonialisme Belanda lebih banyak dimotori oleh tokoh-tokoh militer seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Pattimura, hingga Tjut Nyak Dhien.

img_title Membaca Kartini, Membaca Ulang Habis Gelap Terbitlah Terang

Meskipun keberanian para pejuang ini tak terbantahkan, mereka belum menghasilkan karya tulis yang mampu merangsang pemikiran intelektual kaum terpelajar mengenai cita-cita masa depan masyarakat yang ideal. Titik balik itu terjadi pada awal abad ke-20 dengan terbitnya buku kumpulan surat-surat pribadi Raden Ajeng Kartini berjudul Door Duisternis tot Licht, atau yang lebih dikenal sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang. Publikasi pada tahun 1911 ini menjadi bacaan wajib bagi kaum terpelajar yang mulai menyadari pentingnya arah kemajuan zaman. Gagasan yang terkandung di dalamnya merepresentasikan pandangan seorang individu yang menyerap cahaya pengetahuan modern Barat, lalu menggunakannya sebagai lensa kritis untuk melihat kekangan sistem feodal dan kolonial yang membelenggu kemajuan masyarakat jajahan.

Jejak Pengaruh dalam Pergerakan Kebangsaan

img_title 5 Legenda Sepak Bola Dunia yang Paling Mencengangkan Sepanjang Sejarah

Signifikansi karya Kartini dapat ditelusuri melalui catatan-catatan historis kaum pergerakan. Dalam buku kenangan Budi Utomo yang terbit tahun 1918, Raden Ayu Sriati Mangunkusumo menyoroti bagaimana kesadaran perempuan mulai bergeser. Ia mencatat bahwa sebelumnya suara perempuan sering dianggap lemah dan tidak didengar, namun pemikiran Kartini menjadi awal perubahan yang memengaruhi banyak orang. Jika kesadaran kebangsaan Budi Utomo sempat dikritik karena terlalu bersifat Jawasentris, pengaruh Kartini terlihat lebih luas dalam catatan pergerakan Perhimpunan Indonesia di Belanda. Kelompok ini secara resmi menyebut Kartini sebagai pelopor gerakan emansipasi perempuan Indonesia.

Tak hanya nama, gagasan Kartini bahkan diadopsi ke dalam struktur organisasi. Berbagai klub sosial dibentuk dengan menyematkan namanya, termasuk Raden Adjeng Kartini-Club di Bandung yang dipimpin oleh Douwes Dekker. Klub ini, meski tidak berfokus pada propaganda politik langsung, membahas isu reformasi birokrasi dan otonomi daerah. Hal ini membuktikan bahwa gaung Kartini telah menyatu dalam aktivitas antikolonial tanpa disadari sepenuhnya oleh pemerintah kolonial saat itu.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Australia Resmi Akui Palestina: Dunia Kaget, Israel Kena Tekanan Baru!