Dedi Mulyadi Ingin KUA Dibikin Estetik, Anak Muda Tak Perlu Nikah Sampai Berutang
- KDM Channel
Gadget – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong perubahan wajah Kantor Urusan Agama atau KUA agar lebih nyaman dan estetik. Langkah ini diarahkan untuk mengubah cara pandang anak muda bahwa menikah sederhana tetap bisa berlangsung layak dan sakral.
Dalam kunjungannya ke salah satu KUA, Dedi berdialog dengan pengurus dan menanyakan jumlah pasangan yang menikah setiap bulan. Dari informasi yang diterima, rata-rata ada sekitar 40 pasangan yang melangsungkan pernikahan dalam satu bulan.
Dedi Mulyadi Soroti Tren Nikah di KUA
Dedi Mulyadi menilai penurunan jumlah pasangan yang menikah dapat menunjukkan adanya pertimbangan yang lebih matang. Ia menyebut anak muda mulai mempertimbangkan pendidikan, kedewasaan, dan kemampuan keuangan sebelum memutuskan menikah.
Menurut Dedi, pernikahan tidak bisa hanya dipandang sebagai acara seremonial. Keputusan menikah perlu disertai kesiapan mental dan finansial agar tidak menimbulkan masalah setelah pesta selesai.
Ia kemudian meninjau fasilitas balai nikah yang tersedia di KUA tersebut. Dari peninjauan itu, masih terlihat sejumlah kekurangan, termasuk keterbatasan daya listrik dan fasilitas pendingin ruangan yang belum optimal.
Fasilitas Balai Nikah KUA Akan Ditingkatkan
Dedi Mulyadi menyatakan akan membantu meningkatkan fasilitas di KUA tersebut. Ia berencana menambah daya listrik, memasang AC, dan bahkan siap menanggung biaya listrik agar pelayanan kepada masyarakat lebih nyaman.
Perbaikan fasilitas ini dinilai penting agar pasangan yang menikah di KUA tidak merasa tempatnya kurang layak. Dedi ingin ruang balai nikah tetap sederhana, tetapi memiliki tampilan yang pantas untuk momen penting keluarga.
Ia juga menyampaikan rencana menata ulang ruangan balai nikah agar terlihat lebih modern dan nyaman. Ruang yang lebih estetik diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk memilih pernikahan sederhana.
Pesta Pernikahan Besar Jadi Sorotan
Selain fasilitas KUA, Dedi Mulyadi menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang memaksakan pesta pernikahan besar. Menurutnya, masih ada pasangan atau keluarga yang menggelar hajatan mewah meski kondisi keuangan belum memadai.
Pengurus KUA yang ditemui Dedi juga membenarkan fenomena tersebut. Ia menyebut ada warga yang memaksakan hajat besar, lalu kebingungan setelahnya hingga menjual tanah yang dimiliki.