China Pecahkan Rekor! Data Center Bawah Laut Bertenaga Angin Pertama di Dunia Siap Dukung Ledakan AI

China mengoperasikan Data Center Bawah Laut pertama di dunia
Sumber :
  • Wired

GadgetVIVA - China kembali mencuri perhatian dunia lewat terobosan di sektor teknologi dan energi bersih. Negeri Tirai Bambu resmi mengoperasikan data center bawah laut pertama di dunia yang memanfaatkan listrik dari pembangkit energi angin lepas pantai. Langkah ini menjadi tonggak baru dalam pengembangan infrastruktur digital yang lebih hemat energi sekaligus mendukung pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

img_title Jangan Asal Curhat ke ChatGPT, Gugatan Ini Ungkap Risiko Serius bagi Pengguna Rentan

Di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi akibat berkembangnya AI generatif, pusat data menjadi infrastruktur yang sangat vital. Namun, di balik kemampuannya mengolah miliaran data setiap detik, data center juga dikenal sebagai fasilitas yang mengonsumsi listrik dalam jumlah sangat besar. Karena itu, China mencoba menghadirkan solusi berbeda dengan memindahkan sebagian infrastruktur tersebut ke bawah laut.

Gambar data center dalam Project Natick

Photo :
  • Tempco

img_title HoYoverse Kucurkan Rp230 Triliun Untuk Integrasi AI Di Game Masa Depan

Pendekatan ini bukan sekadar inovasi teknis, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang China dalam membangun ekosistem AI yang lebih berkelanjutan.

Data Center Bawah Laut China Mulai Beroperasi di Shanghai

img_title Hoyoverse Gelontorkan Rp230 Triliun Untuk Integrasi AI Di Game Terbaru

Fasilitas yang diberi nama Shanghai Lingang Undersea Data Center mulai beroperasi pada Mei 2026. Lokasinya berada sekitar 10 kilometer dari garis pantai Shanghai dengan kedalaman sekitar 10 meter di bawah permukaan laut.

Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara perusahaan teknologi HiCloud Technology dan perusahaan milik negara China Communications Construction, dengan nilai investasi mencapai sekitar 1,6 miliar yuan atau setara Rp4,2 triliun.

Berbeda dari pusat data konvensional yang dibangun di daratan, fasilitas ini memanfaatkan suhu laut sebagai sistem pendingin alami bagi ribuan server yang beroperasi di dalamnya. Sementara itu, kebutuhan listriknya dipasok langsung dari pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai yang berada tidak jauh dari lokasi.

Dengan kapasitas mencapai 24 megawatt, data center tersebut mampu menangani kebutuhan komputasi berskala besar yang dibutuhkan berbagai layanan digital dan pengembangan AI.

Mengapa Data Center Bawah Laut Dinilai Lebih Efisien?

Salah satu tantangan terbesar dalam pengoperasian data center adalah sistem pendinginan. Server yang bekerja tanpa henti menghasilkan panas tinggi sehingga membutuhkan pendingin khusus agar tetap stabil.

Halaman Selanjutnya
img_title