TikTok Klarifikasi Isu PHK 90% Karyawan Tokopedia, Benarkah Operasi Teknologi Kini Dipindahkan ke China?

TikTok Tokopedia
Sumber :
  • Istimewa

GadgetVIVA - Kabar mengenai PHK Tokopedia kembali mengundang perhatian publik. Setelah muncul laporan yang menyebut sebagian besar karyawan Tokopedia telah terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK), TikTok akhirnya memberikan penjelasan resmi mengenai perubahan organisasi yang tengah dilakukan di perusahaan hasil integrasi Tokopedia dan TikTok Shop.

img_title TikTok Luncurkan Mini Dramas & Mini Games, Main dan Nonton Langsung di Aplikasi!

Isu ini menjadi perbincangan karena tidak hanya menyangkut jumlah karyawan yang terdampak, tetapi juga muncul dugaan bahwa sebagian besar fungsi teknologi Tokopedia kini dialihkan ke China setelah perusahaan diakuisisi oleh ByteDance, induk perusahaan TikTok.

Di sisi lain, TikTok menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk membangun bisnis yang lebih efisien sekaligus memperkuat pertumbuhan jangka panjang di tengah persaingan industri e-commerce yang semakin ketat.

img_title 3 Rahasia Live TikTok 2026 yang Bikin Penonton Betah dan Gift Mengalir

PHK Tokopedia Disebut Menyisakan Sebagian Kecil Tim Teknologi

Berdasarkan informasi yang beredar, gelombang PHK terbaru disebut berdampak besar terhadap divisi teknologi Tokopedia. Sejumlah sumber menyebutkan lebih dari 450 karyawan teknologi dirumahkan dalam proses restrukturisasi terakhir.

img_title Kesepakatan UMG dan TikTok: Lindungi Hak Cipta Artis dari AI

Jika dibandingkan dengan kondisi sebelum Tokopedia bergabung dengan TikTok, jumlah tersebut dinilai cukup signifikan. Sebelum akuisisi, divisi teknologi Tokopedia dikabarkan memiliki sekitar 1.100 karyawan.

Kini, menurut sumber yang mengetahui proses tersebut, jumlah personel teknologi yang masih bekerja di Indonesia tinggal sekitar 35 orang. Sementara itu, sebagian besar fungsi pengembangan teknologi disebut telah berada di bawah koordinasi tim ByteDance.

Meski demikian, informasi tersebut berasal dari narasumber internal dan belum seluruh rinciannya dikonfirmasi secara independen oleh perusahaan.

Selain tim teknologi, restrukturisasi juga disebut berdampak pada berbagai unit lain. Namun, sejumlah divisi strategis seperti bisnis, trust and safety, serta sebagian fungsi operasional masih tetap dipertahankan untuk mendukung aktivitas perusahaan di Indonesia.

TikTok Tokopedia Jelaskan Alasan Restrukturisasi

Menanggapi kabar tersebut, juru bicara TikTok menyampaikan bahwa perusahaan memang sedang melakukan penyelarasan organisasi, khususnya pada divisi riset dan pengembangan (Research & Development/R&D).

Menurut perusahaan, langkah tersebut bertujuan agar sumber daya yang dimiliki dapat lebih fokus mendukung inovasi, meningkatkan kualitas layanan, serta menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Dalam keterangannya, TikTok menjelaskan bahwa penyelarasan organisasi dilakukan untuk memperkuat dukungan terhadap tiga kelompok utama dalam ekosistem mereka, yaitu pelaku usaha, komunitas kreator, dan para penjual yang memanfaatkan platform TikTok Shop maupun Tokopedia.

Artinya, perusahaan menilai perubahan struktur organisasi merupakan bagian dari strategi bisnis jangka panjang, bukan sekadar pengurangan jumlah tenaga kerja.

Di tengah transformasi industri digital yang berlangsung cepat, restrukturisasi semacam ini memang menjadi langkah yang cukup umum dilakukan perusahaan teknologi global untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mempercepat proses pengambilan keputusan.

Operasional Teknologi Disebut Beralih ke China

Salah satu isu yang paling banyak mendapat perhatian adalah kabar mengenai perpindahan fungsi teknologi Tokopedia ke China.

Sejumlah sumber menyebut seluruh pengembangan sistem inti Tokopedia maupun TikTok Shop kini dikelola oleh tim ByteDance yang berada di China. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan sebelum proses akuisisi, ketika mayoritas pengembangan teknologi dilakukan oleh talenta lokal di Indonesia.

Informasi ini memunculkan kekhawatiran mengenai berkurangnya keterlibatan tenaga teknologi Indonesia dalam pengembangan platform e-commerce yang selama bertahun-tahun dibangun oleh Tokopedia.

Namun hingga kini, TikTok belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai lokasi operasional tim teknologi maupun pembagian peran antara tim di Indonesia dan pusat pengembangan global mereka.

Akuisisi Tokopedia Jadi Titik Awal Integrasi

Perubahan organisasi yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari proses akuisisi Tokopedia oleh ByteDance yang resmi diumumkan pada awal 2024.

Saat itu, GoTo melepas sekitar 75 persen kepemilikan Tokopedia kepada ByteDance sebagai bagian dari kesepakatan strategis untuk mengintegrasikan Tokopedia dengan TikTok Shop.

Langkah tersebut dilakukan setelah pemerintah Indonesia melarang platform media sosial menjalankan layanan e-commerce secara langsung. Kebijakan itu sempat membuat TikTok Shop menghentikan operasionalnya di Indonesia sebelum akhirnya kembali beroperasi melalui kerja sama dengan Tokopedia.

Melalui transaksi tersebut, ByteDance menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan sekitar 75 persen, sementara GoTo tetap mempertahankan hampir 25 persen saham Tokopedia.

Sebagai bagian dari kesepakatan bisnis, GoTo masih memperoleh pendapatan berupa imbalan jasa e-commerce yang dibayarkan secara berkala.

GoTo Masih Mendapat Manfaat Finansial

Meskipun tidak lagi menjadi pemegang saham mayoritas, GoTo masih menikmati manfaat ekonomi dari kerja sama tersebut.

Sepanjang 2025, nilai imbalan jasa e-commerce yang diterima GoTo dilaporkan mencapai sekitar Rp820 miliar. Angka tersebut meningkat sekitar 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp622 miliar.

Selain memperoleh pendapatan jasa, GoTo juga tetap mencatat bagian laba maupun rugi Tokopedia sesuai dengan proporsi kepemilikan saham yang masih dimiliki perusahaan.

Hal ini menunjukkan bahwa hubungan bisnis antara kedua perusahaan masih terus berjalan meskipun kendali operasional berada di bawah ByteDance.

Persaingan E-Commerce Asia Tenggara Semakin Ketat

Di tengah restrukturisasi internal, tantangan lain juga datang dari persaingan industri e-commerce yang semakin kompetitif.

Berdasarkan laporan Ecommerce in Southeast Asia 2026 yang diterbitkan Momentum Works, nilai pasar e-commerce Asia Tenggara mencapai sekitar US$157,6 miliar sepanjang 2025 atau tumbuh lebih dari 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, dari sisi nilai transaksi bruto atau Gross Merchandise Value (GMV), Tokopedia berada di posisi paling rendah di antara para pemain utama kawasan.

Tokopedia mencatat GMV sekitar US$9 miliar selama 2025.

Sebagai perbandingan, Shopee masih menjadi pemimpin pasar dengan GMV mencapai sekitar US$83,2 miliar. Sementara itu, TikTok Shop mencatat pertumbuhan paling agresif dengan GMV sekitar US$45,6 miliar atau meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Di posisi berikutnya terdapat Lazada dengan nilai transaksi sekitar US$18 miliar.

Jika performa TikTok Shop digabungkan dengan Tokopedia yang kini berada dalam satu ekosistem, total GMV keduanya mencapai sekitar 65,7 persen dari pencapaian Shopee di Asia Tenggara.

Transformasi Bisnis Jadi Fokus Utama TikTok Tokopedia

Restrukturisasi yang terjadi di Tokopedia menunjukkan bahwa perusahaan tengah memasuki fase baru setelah bergabung dengan ByteDance. Di satu sisi, langkah efisiensi dinilai dapat mempercepat integrasi teknologi dan memperkuat daya saing bisnis di kawasan.

Namun di sisi lain, besarnya jumlah PHK karyawan Tokopedia juga memunculkan perhatian terhadap keberlangsungan talenta digital Indonesia serta masa depan pengembangan teknologi lokal.

Ke depan, publik akan menantikan bagaimana strategi integrasi antara TikTok Tokopedia mampu meningkatkan daya saing perusahaan tanpa mengurangi kontribusi sumber daya manusia di Indonesia. Selain itu, keberhasilan perusahaan menjaga keseimbangan antara efisiensi bisnis, inovasi teknologi, dan pemberdayaan talenta lokal akan menjadi faktor penting dalam menghadapi persaingan e-commerce yang semakin dinamis di kawasan Asia Tenggara.