Google Kurangi Akses Kode Android Jadi 2 Kali Setahun—Apa Dampaknya?

Google Kurangi Akses Kode Android Jadi 2 Kali Setahun—Apa Dampaknya?
Sumber :
  • Gizchina

Beberapa poin utama kritik:

Signal vs WhatsApp: Mana Aplikasi Chat Terbaik untuk Privasi dan Keamanan?
  • Android semakin dimonopoli oleh kepentingan vendor besar.
  • Inovasi dari bawah (bottom-up) melalui komunitas kini terhambat.
  • Google menggunakan alasan teknis untuk menutupi kontrol yang lebih ketat atas ekosistem.

Meski begitu, ada juga yang memahami keputusan Google terutama dari sisi manajemen proyek skala besar. “Pengembangan Android bukan lagi proyek kecil. Kompleksitasnya luar biasa,” tulis seorang mantan insinyur Android.

Nova Launcher Mungkin Segera Tutup, Apakah Era Custom Android Akan Berakhir?

Apa Arti Ini bagi Masa Depan Android?

Tahun 2026 akan menjadi tahun uji coba kritis bagi model biannual ini. Jika berhasil, Google mungkin akan memperluas pendekatan serupa ke proyek open source lainnya. Namun jika komunitas merespons dengan menurunnya partisipasi atau fragmentasi lebih dalam, tekanan untuk kembali ke model yang lebih terbuka bisa muncul.

DeepSeek Siapkan Agen AI Canggih Tantang Dominasi AS

Yang jelas, Android tidak lagi se-terbuka dulu. Meski tetap open source secara lisensi, praktik keterbukaannya kini dikompromikan demi efisiensi internal sebuah pengorbanan yang mungkin terasa wajar bagi Google, tapi pahit bagi para pembela kebebasan digital.

Kesimpulan: Efisiensi vs. Transparansi Siapa yang Menang?

Keputusan Google untuk merilis kode AOSP hanya dua kali setahun adalah tanda jelas bahwa prioritas perusahaan telah bergeser: dari kolaborasi komunitas ke pengendalian terpusat, dari transparansi penuh ke efisiensi operasional.

Bagi pengguna biasa, perubahan ini mungkin tidak terasa ponsel mereka tetap aman dan fitur tetap hadir tepat waktu. Tapi bagi developer independen, aktivis privasi, dan penggemar ROM kustom, ini adalah pukulan telak terhadap kemandirian teknologi mereka.

Android dulu lahir sebagai alternatif terbuka terhadap sistem tertutup. Kini, di usia ke-17, ia berjalan di garis tipis antara warisan itu dan realitas bisnis modern. Pertanyaannya bukan lagi “apakah Android open source?”, tapi “seberapa terbuka Android masih mau menjadi?”

Dan jawaban itu, sayangnya, kini lebih banyak ditentukan di ruang rapat Google bukan di forum komunitas.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget