Xiaomi Siap Luncurkan Chip, OS & AI Sendiri pada 2026!

Xiaomi Siap Luncurkan Chip, OS & AI Sendiri pada 2026!
Sumber :
  • Xiaomi

Gadget – Dalam langkah berani yang menandai ambisi terbesarnya sejak berdiri, Xiaomi mengumumkan rencana revolusioner untuk mengintegrasikan tiga pilar teknologi inti chipset, sistem operasi, dan model AI skala besar dalam satu perangkat utuh pada tahun 2026. Langkah ini, yang disebut oleh CEO Xiaomi Lei Jun sebagai “Grand Convergence”, bukan sekadar strategi produk, melainkan deklarasi kemerdekaan teknologi dari ketergantungan pada ekosistem asing.

Waspada! Patch Keamanan Xiaomi Januari 2026 Perbaiki Zero-Click Exploit

Pengumuman ini disampaikan secara simbolis dalam acara Technology Awards Xiaomi 2025 di Tiongkok, di mana perusahaan memberikan penghargaan kepada 66 tim inovasi dari 154 proyek yang diajukan lintas divisi. Namun, sorotan utama jatuh pada tim XRING O1, penerima penghargaan tertinggi, atas keberhasilan mereka mengembangkan chip mobile flagship 3nm buatan Xiaomi sendiri.

Dengan XRING O1, Xiaomi tidak hanya melompat ke garis depan teknologi semikonduktor ia juga memasuki klub eksklusif global yang sejauh ini hanya dihuni oleh raksasa seperti Apple, Samsung, dan Qualcomm.

Kapan Xiaomi Masuk Formula 1? Analisis DNA Performa dan Target 2030

XRING O1: Chip 3nm Buatan Xiaomi yang Mengguncang Industri

XRING O1 bukan sekadar chipset biasa. Menurut Xiaomi, ini adalah chip flagship mobile pertama berbasis proses manufaktur 3nm generasi kedua yang dirancang sepenuhnya secara internal oleh tim insinyur Xiaomi.

Xiaomi Diam-Diam Rilis Redmi Soundbar Speaker 2 Pro, Bass Nendang dengan RGB

Spesifikasi teknis XRING O1 yang diungkapkan:

  • Arsitektur CPU deca-core quad-cluster (4 cluster berbeda untuk efisiensi & performa)
  • Proses fabrikasi 3nm generasi kedua (kemungkinan besar diproduksi oleh TSMC atau SMIC)
  • Didesain untuk integrasi mendalam dengan AI dan sistem operasi Xiaomi

Yang paling mencengangkan: Xiaomi menyatakan bahwa XRING O1 menjadikannya perusahaan pertama di daratan Tiongkok dan keempat di dunia yang berhasil meluncurkan chip mobile kelas 3nm. Ini adalah pencapaian monumental, mengingat pengembangan chipset membutuhkan investasi miliaran dolar, keahlian multidisiplin, dan infrastruktur R&D canggih.

Bagi banyak pengamat, XRING O1 adalah bukti bahwa Xiaomi tidak lagi hanya perakit perangkat, melainkan arsitek penuh ekosistem teknologinya sendiri.

Apa Itu “Grand Convergence”? Visi Xiaomi untuk 2026

Dalam pidatonya, Lei Jun menjelaskan bahwa XRING O1 hanyalah permulaan. Puncak dari strategi teknologi Xiaomi akan tiba pada 2026, ketika ketiga komponen berikut berjalan secara terintegrasi dalam satu perangkat:

  • Chipset buatan sendiri (seperti XRING O1)
  • Sistem operasi (OS) buatan sendiri (kemungkinan pengembangan dari HyperOS)
  • Model AI skala besar buatan sendiri (untuk asisten pintar, fotografi, otomasi, dll.)

Konvergensi ini, menurut Lei Jun, akan menciptakan pengalaman pengguna yang mulus, aman, dan sangat dioptimalkan karena setiap lapisan perangkat lunak dan keras dirancang untuk saling memahami secara mendalam.

“Ketika chip, OS, dan AI dikembangkan bersama dari awal, kita bisa mencapai efisiensi, keamanan, dan kecepatan yang tidak mungkin dicapai dengan komponen dari pihak ketiga,” ujar Lei Jun.

Ini adalah pendekatan yang mirip dengan Apple, tetapi dengan ambisi lebih luas: Xiaomi ingin menerapkannya tidak hanya di ponsel, tetapi juga di mobil listrik, perangkat rumah pintar, dan wearable bagian dari visi “people, car, and home” yang sedang dibangunnya.

Investasi Raksasa: Rp500 Triliun untuk Kemandirian Teknologi

Ambisi sebesar ini tentu membutuhkan dana luar biasa. Xiaomi mengungkap bahwa lima tahun lalu, perusahaan berkomitmen menggelontorkan 100 miliar yuan (sekitar Rp167 triliun) untuk R&D teknologi inti.

Faktanya? Mereka sudah menghabiskan 105 miliar yuan melebihi target awal.

Dan kini, Xiaomi mengumumkan fase kedua investasi:

200 miliar yuan tambahan (sekitar Rp334 triliun) dalam 5 tahun ke depan,
dengan fokus tajam pada chip, sistem operasi, dan AI.

Total investasi dalam satu dekade mendekati 300 miliar yuan (Rp500+ triliun) angka yang menunjukkan komitmen jangka panjang Xiaomi untuk tidak lagi menjadi “pengekor”, tapi pemimpin teknologi global.

Mengapa Ini Penting? Tantangan terhadap Hegemoni AS & Korea

Langkah Xiaomi memiliki implikasi geopolitik dan industri yang luas:

  • Mengurangi ketergantungan pada Android (Google) dan chipset Qualcomm
  • Memperkuat kedaulatan teknologi Tiongkok di tengah perang dagang dan sanksi AS
  • Menyaingi Huawei yang juga mengembangkan HarmonyOS dan Kirin chip
  • Menciptakan ekosistem tertutup yang kompetitif seperti Apple, tapi dengan skala lebih luas

Dengan Grand Convergence, Xiaomi tidak hanya ingin menjual ponsel ia ingin mengontrol seluruh pengalaman digital pengguna, dari perangkat di tangan hingga mobil di garasi dan lampu di rumah.

Tantangan di Depan: Bisa Bertahan Melawan Raksasa?

Meski ambisinya megah, Xiaomi menghadapi tantangan besar:

  • Validasi teknis: Apakah XRING O1 benar-benar kompetitif dengan A18 atau Snapdragon 8 Gen 4?
  • Adopsi OS: Migrasi dari Android ke OS sendiri berisiko kehilangan akses ke ekosistem Google (seperti yang dialami Huawei).
  • Kepercayaan pengguna: Integrasi AI harus benar-benar bermanfaat, bukan sekadar gimmick.
  • Regulasi global: Perangkat dengan teknologi “buatan Tiongkok” bisa menghadapi hambatan di Eropa atau AS.

Namun, dengan cadangan kas kuat, basis pengguna global 600+ juta, dan dukungan implisit dari kebijakan teknologi nasional Tiongkok, Xiaomi mungkin satu-satunya perusahaan selain Huawei yang benar-benar mampu menyaingi Apple dalam integrasi vertikal.

Kesimpulan: 2026 Bisa Jadi Titik Balik Xiaomi

Jika berhasil, Grand Convergence 2026 akan menjadi momen paling penting dalam sejarah Xiaomi lebih besar dari peluncuran Mi 1 pada 2011 atau HyperOS pada 2023. Ini adalah saat Xiaomi bertransformasi dari smartphone brand menjadi platform teknologi penuh.

Bagi konsumen, ini berarti perangkat yang lebih cepat, aman, dan terintegrasi. Bagi industri, ini adalah sinyal bahwa era dominasi AS dalam teknologi konsumen mulai retak, digantikan oleh pemain Asia yang berani berinovasi secara mandiri.

Satu hal pasti: dunia harus mulai memandang Xiaomi bukan hanya sebagai pembuat ponsel murah, tapi sebagai arsitek masa depan ekosistem digital global. Dan 2026 akan menjadi ujian terbesarnya.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget