Baterai Sodium-ion Guncang Pasar EV: Lebih Murah dari LFP?

Baterai Sodium-ion Guncang Pasar EV: Lebih Murah dari LFP?
Sumber :
  • Istimewa

Samsung Uji Baterai Silicon-Carbon 20.000 mAh, Benarkah?
  • Produksi massal CATL Naxtra mencapai kepadatan energi 175 Wh/kg, melampaui baterai LFP standar.
  • Prototipe solid-state dari Zhaona New Energy mencapai kepadatan 348.5 Wh/kg, mendekati performa NMC premium.
  • Baterai Sodium-ion berpotensi memangkas biaya sel hingga $40/kWh, membuat harga mobil listrik $20.000 menjadi realistis.
  • Baterai ini menunjukkan retensi kapasitas 90% pada suhu ekstrem -40°C, mengatasi kelemahan utama lithium di iklim dingin.

Mobil Listrik GAC 2027 Bisa Jalan 1.000 Km Tanpa Ngecas, Ini Teknologinya!

Industri kendaraan listrik (EV) menyaksikan pergeseran fundamental pada akhir tahun 2025. Baterai Sodium-ion, teknologi yang sebelumnya dianggap sekunder, kini muncul sebagai pesaing serius dalam persaingan daya EV global. Mengapa sodium tiba-tiba mendominasi narasi? Inovasi dari dua raksasa Tiongkok, CATL dan Zhaona New Energy, secara fundamental mendefinisikan ulang standar kepadatan energi dan biaya. Para produsen kini mengakui bahwa sodium menawarkan solusi berkelanjutan dan ekonomis.

Mengatasi Batasan Energi: CATL dan Zhaona Menetapkan Standar Baru

Baterai Mobil Listrik Ternyata Sangat Tahan Lama dan Tidak Cepat Drop Seperti Smartphone

Pergeseran drastis ini dipicu oleh dua perkembangan teknologi utama. Kedua perusahaan berhasil mengatasi hambatan kepadatan energi yang selama ini membatasi penggunaan sodium pada EV jarak jauh.

Produksi Massal Naxtra 175 Wh/kg

CATL meluncurkan merek Baterai Sodium-ion Naxtra pada April 2025. Mereka memulai produksi massal pada Desember, yang menjadi tonggak penting bagi industri. Sel Naxtra berhasil mencapai kepadatan energi 175 Wh/kg. Kinerja ini melampaui banyak baterai Lithium Iron Phosphate (LFP), yang biasanya berkisar antara 160 hingga 170 Wh/kg. Peningkatan performa ini memungkinkan EV berukuran penuh menempuh jarak hingga 500 kilometer. Oleh karena itu, sodium-ion kini bersaing langsung dengan alternatif berbasis lithium yang sudah ada di pasar utama.

Lompatan Solid-State Menuju Kepadatan Tinggi

Zhaona New Energy menambah pencapaian signifikan pada Desember 2025. Perusahaan itu memperkenalkan prototipe baterai sodium-ion solid-state. Prototipe tersebut menghasilkan kepadatan energi yang luar biasa: 348.5 Wh/kg. Desain inovatif ini menggunakan struktur berlapis keramik dan menghilangkan anoda, sebuah langkah yang meningkatkan kepadatan energi sekaligus stabilitas jangka panjang. Hasil luar biasa ini mendorong kinerja Baterai Sodium-ion semakin dekat dengan baterai lithium Nickel Manganese Cobalt (NMC) kelas atas.

Tiga Keunggulan Kunci Sodium-ion

Selain kepadatan energi, Baterai Sodium-ion memberikan tiga keuntungan kompetitif yang jelas. Keunggulan ini berkaitan langsung dengan keberlanjutan ekonomi, performa operasional, dan logistik.

Biaya Produksi Jauh Lebih Murah

Sodium sangat murah dan tersedia melimpah di seluruh dunia. Sumber daya ini dapat diekstraksi dari garam laut, tanpa memerlukan material mahal seperti kobalt atau nikel. Selain itu, baterai sodium-ion menghindari penggunaan tembaga dengan mengadopsi kolektor arus aluminium. Para analis memperkirakan sel sodium-ion dapat turun hingga $40/kWh, jauh lebih rendah daripada biaya LFP saat ini yang berkisar $70/kWh. Titik harga ini menjadikan mobil listrik seharga $20.000 (sekitar Rp325 juta) layak secara komersial tanpa subsidi pemerintah.

Keandalan di Iklim Ekstrem dan Keamanan Pengiriman

Baterai sodium-ion menunjukkan keandalan tinggi di iklim dingin. Baterai Naxtra mempertahankan 90% kapasitasnya bahkan pada suhu ekstrem -40°C. Ini menyelesaikan salah satu kelemahan terbesar lithium, yaitu penurunan jangkauan signifikan dalam kondisi beku.

Lebih lanjut, baterai sodium-ion dapat dikosongkan dengan aman hingga 0.0V tanpa menyebabkan kerusakan internal. Lithium harus mempertahankan muatan minimum untuk menghindari korsleting. Toleransi nol-tegangan ini meningkatkan keamanan selama penyimpanan dan transportasi. Risiko pelarian termal (thermal runaway) berkurang drastis, menyederhanakan pengemasan dan membantu menurunkan biaya logistik secara keseluruhan.

Strategi Hibrida: Menggabungkan Sodium dan Lithium

Banyak produsen baterai kini menerapkan pendekatan kimia ganda (dual-chemistry) daripada bergantung pada satu jenis sel. Dalam konsep hibrida, sel Baterai Sodium-ion digunakan untuk kinerja cuaca dingin yang superior, pengisian dan pengosongan cepat, serta biaya yang lebih rendah. Sementara itu, sel lithium-ion terus memberikan kepadatan energi tinggi untuk jangkauan mengemudi jarak jauh.

Desain campuran kimia ini bertujuan menyeimbangkan kinerja dan biaya produksi. Jarak tempuh panjang masih didorong oleh kimia lithium-ion, namun biaya keseluruhan dipangkas oleh sodium. Pendekatan ini memberi fleksibilitas lebih bagi produsen mobil menyesuaikan perilaku baterai untuk iklim dan kebutuhan regional yang berbeda.

Perspektif Jangka Panjang dan Perlombaan Global Sodium-ion

Produksi Baterai Sodium-ion saat ini sedang dipercepat di seluruh dunia. Tiongkok memimpin melalui perusahaan seperti CATL, BYD, dan HiNa Battery. Pabrik baru BYD di Qinghai telah memproduksi sel sodium-ion untuk kendaraan listrik tingkat pemula (entry-level).

India juga meningkatkan investasinya melalui Reliance dan KPIT, berfokus pada kendaraan komersial ringan. Di Eropa, TIAMAT yang berbasis di Prancis mengembangkan sel pengisian cepat, sementara di AS, perusahaan seperti Natron Energy menargetkan solusi penyimpanan energi skala jaringan listrik. Ketersediaan sodium yang luas menjamin rantai pasokan lebih stabil dan terjanggal dibandingkan lithium, mendorong percepatan transisi energi global.