PDNS Biang Kerok! Skor Ketahanan Siber Nasional RI Anjlok
- Istimewa
- Skor National Cybersecurity Index (NCSI) Indonesia anjlok drastis dari 63,64 menjadi 47,50 poin.
- Pemicu utama penurunan tajam ini: Kegagalan sistem saat diserang ransomware Lockbit 3.0 pada Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2.
- Peringkat dunia Indonesia merosot 36 posisi, dari urutan ke-48 menjadi ke-84 dari total 136 negara.
JAKARTA – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) secara gamblang mengungkap penyebab merosotnya Ketahanan Siber Nasional Indonesia. Kasus serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 pada 2024 menjadi biang keladi utama anjloknya skor tersebut. Kejadian siber masif ini memicu penurunan signifikan National Cybersecurity Index (NCSI) yang dirilis pada 2025.
Ketua BSSN, Nugroho Sulistyo Budi, menjelaskan bahwa NCSI merekam kondisi keamanan siber pada tahun sebelumnya. Nugroho memastikan bahwa insiden PDNS memberikan dampak besar terhadap citra dan kesiapan siber Indonesia di mata dunia. Serangan tersebut mengakibatkan Indonesia kehilangan banyak poin dalam indeks global.
Analisis Mendalam: PDNS Picu Kejatuhan Peringkat Siber
Laporan terbaru dari National Cybersecurity Index (NCSI) mencatat skor Ketahanan Siber Nasional Indonesia hanya mencapai 47,50 poin. Angka ini turun sangat tajam. Sebelumnya, pada laporan 2023, Indonesia masih mencatatkan skor solid 63,64 poin.
Penurunan drastis ini menyeret posisi Indonesia jauh ke bawah. Indonesia kini menempati peringkat ke-84 dunia. Padahal, sebelumnya negara kita berada di urutan ke-48 dari 136 negara yang diukur.
Nugroho menegaskan bahwa hasil pemotretan NCSI 2025 merefleksikan peristiwa 2024. “Tahun 2024 ada apa? Ada kasus PDNS,” tegas Nugroho usai Rapat Kerja bersama Komisi I DPR RI (20/1/2026). Serangan ransomware Lockbit 3.0 yang menargetkan layanan PDNS 2 terbukti merusak kredibilitas sistem pertahanan digital nasional.
Peringatan BSSN: Ancaman Kesiapan Infrastruktur Digital
Meskipun skor NCSI anjlok, Nugroho mengingatkan bahwa berdasarkan Global Cybersecurity Index (GCI), Indonesia masih bertahan pada kategori Tier 1. Namun demikian, kesiapan operasional di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah besar.
BSSN saat ini bertanggung jawab memantau lebih dari 700 entitas pemerintah pusat dan daerah. Jumlah ini belum mencakup sektor swasta yang cakupannya jauh lebih luas. Nugroho menyoroti bahwa banyak instansi hanya fokus pada pemanfaatan sistem elektronik dan aplikasi, tetapi mengabaikan aspek keamanan siber.