Banding FTC Kembali Ancam Monopoli Meta, WhatsApp & IG Terancam
- Istimewa
Mengapa Putusan Awal Ditolak Hakim Boasberg?
Sebagai catatan, Hakim Distrik AS James Boasberg sebelumnya menolak argumen pemerintah. Hakim mempertimbangkan kesuksesan platform pesaing Meta di pasar. Kehadiran TikTok dan YouTube dinilai mencegah Meta dikategorikan sebagai pemegang monopoli Meta saat ini.
Dalam putusan tertulisnya, Hakim Boasberg berpendapat bahwa Meta mungkin pernah bertindak monopolistik di masa lalu. Namun, keberhasilan pesaing kuat yang ada saat ini secara efektif menggugurkan status monopoli tersebut. Argumentasi tersebut menjadi landasan utama kemenangan Meta pada tahun lalu.
Respon Meta dan Fokus Inovasi di Tengah Tekanan Hukum
Gugatan antimonopoli terhadap Meta Platforms sendiri bermula pada tahun 2020. Saat itu, pemerintah berargumen bahwa aksi korporasi Meta mencaplok pesaingnya telah menekan iklim kompetisi dan merugikan konsumen. Persidangan tahun lalu bahkan menghadirkan kesaksian langsung dari eksekutif kunci, termasuk Mark Zuckerberg.
Menanggapi perkembangan terbaru ini, Juru Bicara Meta Andy Stone menyatakan keyakinan penuh bahwa posisi hukum perusahaan tetap kuat. Dia menilai, putusan awal hakim sudah sangat tepat.
Chief Legal Officer Meta, Jennifer Newstead, juga menyambut baik hasil putusan sidang tahun lalu dan mengakui persaingan pasar yang ketat. Stone menegaskan, Meta akan tetap fokus pada inovasi dan investasi di Amerika, terlepas dari tekanan hukum yang terus berlangsung.
Analisis Akhir: Masa Depan Struktural Raksasa Media Sosial
Perjuangan hukum yang panjang melawan monopoli Meta ini menyoroti bagaimana regulator AS akan mendefinisikan persaingan di era digital. FTC berupaya keras membuktikan bahwa akuisisi strategis telah merusak pasar, sementara Meta mengklaim persaingan sudah sehat berkat munculnya kompetitor baru.
Hasil dari banding FTC Meta akan menentukan nasib struktural salah satu perusahaan teknologi paling berpengaruh di dunia. Putusan pengadilan banding akan memutuskan apakah Meta harus merombak struktur bisnisnya melalui divestasi, atau tetap berdiri sebagai konglomerat media sosial terbesar di dunia.