Banding FTC Kembali Ancam Monopoli Meta, WhatsApp & IG Terancam
- Istimewa
- Komisi Perdagangan Federal (FTC) secara resmi mengajukan banding untuk melawan putusan pengadilan federal yang memenangkan Meta dalam kasus monopoli.
- Upaya banding FTC Meta ini menghidupkan kembali skenario terberat: pemisahan WhatsApp dan Instagram dari induk perusahaan.
- FTC menuduh Meta mempertahankan dominasi pasar bukan melalui persaingan yang sehat, tetapi dengan membeli pesaing utamanya.
Komisi Perdagangan Federal (FTC) Amerika Serikat secara resmi melanjutkan upaya hukumnya melawan raksasa teknologi Meta Platforms Inc. Regulator ini mengajukan banding FTC Meta terhadap putusan pengadilan tahun lalu yang membebaskan induk perusahaan Facebook dari tuduhan monopoli. Keputusan signifikan ini secara langsung menghidupkan kembali ancaman divestasi WhatsApp dan Instagram. FTC meyakini dominasi pasar yang dipegang Meta tidak berasal dari persaingan yang sehat, melainkan hasil dari strategi akuisisi agresif.
Strategi Kontroversial Meta: Tuduhan Dominasi Pasar Tidak Sehat
Direktur Biro Kompetisi FTC, Daniel Guarnera, menyoroti strategi pertumbuhan Meta yang dinilai sangat kontroversial. Dia menilai, dominasi pasar yang dimiliki Meta bukanlah cerminan dari persaingan yang legitimate.
Guarnera secara tegas menyatakan bahwa Meta mempertahankan posisi dominan dan rekor keuntungannya selama lebih dari satu dekade. Perusahaan tersebut melakukannya bukan melalui persaingan yang sah. Mereka justru memilih membeli ancaman kompetitif yang paling signifikan.
Regulator AS menunjukkan komitmen serius terhadap kasus ini. Guarnera bahkan menyiratkan adanya kesinambungan pengawasan ketat, meskipun terjadi perubahan rezim politik di AS. Dia menegaskan, FTC di bawah pemerintahan baru berkomitmen penuh memperjuangkan kasus ini. Tujuannya memastikan persaingan usaha yang sehat bagi seluruh bisnis dan masyarakat Amerika.
Implikasi Kunci: Ancaman Divestasi WhatsApp dan Instagram Kembali Membayangi
Langkah banding yang diambil FTC ini membawa implikasi sangat signifikan terhadap struktur bisnis Meta ke depan. Jika FTC berhasil memenangkan banding, skenario pemulihan (remedy) yang paling ditakuti kembali terbuka. Skenario tersebut adalah pembatalan akuisisi WhatsApp dan Instagram.
Opsi pemisahan perusahaan tersebut sempat tertutup rapat setelah kekalahan FTC pada persidangan tingkat pertama. Kini, risiko perombakan besar-besaran terhadap konglomerat media sosial yang dipakai oleh miliaran orang di seluruh dunia tersebut kembali menjadi ancaman nyata. Investor dan manajemen Meta harus kembali bersiap menghadapi potensi risiko hukum ini.
Mengapa Putusan Awal Ditolak Hakim Boasberg?
Sebagai catatan, Hakim Distrik AS James Boasberg sebelumnya menolak argumen pemerintah. Hakim mempertimbangkan kesuksesan platform pesaing Meta di pasar. Kehadiran TikTok dan YouTube dinilai mencegah Meta dikategorikan sebagai pemegang monopoli Meta saat ini.
Dalam putusan tertulisnya, Hakim Boasberg berpendapat bahwa Meta mungkin pernah bertindak monopolistik di masa lalu. Namun, keberhasilan pesaing kuat yang ada saat ini secara efektif menggugurkan status monopoli tersebut. Argumentasi tersebut menjadi landasan utama kemenangan Meta pada tahun lalu.
Respon Meta dan Fokus Inovasi di Tengah Tekanan Hukum
Gugatan antimonopoli terhadap Meta Platforms sendiri bermula pada tahun 2020. Saat itu, pemerintah berargumen bahwa aksi korporasi Meta mencaplok pesaingnya telah menekan iklim kompetisi dan merugikan konsumen. Persidangan tahun lalu bahkan menghadirkan kesaksian langsung dari eksekutif kunci, termasuk Mark Zuckerberg.
Menanggapi perkembangan terbaru ini, Juru Bicara Meta Andy Stone menyatakan keyakinan penuh bahwa posisi hukum perusahaan tetap kuat. Dia menilai, putusan awal hakim sudah sangat tepat.
Chief Legal Officer Meta, Jennifer Newstead, juga menyambut baik hasil putusan sidang tahun lalu dan mengakui persaingan pasar yang ketat. Stone menegaskan, Meta akan tetap fokus pada inovasi dan investasi di Amerika, terlepas dari tekanan hukum yang terus berlangsung.
Analisis Akhir: Masa Depan Struktural Raksasa Media Sosial
Perjuangan hukum yang panjang melawan monopoli Meta ini menyoroti bagaimana regulator AS akan mendefinisikan persaingan di era digital. FTC berupaya keras membuktikan bahwa akuisisi strategis telah merusak pasar, sementara Meta mengklaim persaingan sudah sehat berkat munculnya kompetitor baru.
Hasil dari banding FTC Meta akan menentukan nasib struktural salah satu perusahaan teknologi paling berpengaruh di dunia. Putusan pengadilan banding akan memutuskan apakah Meta harus merombak struktur bisnisnya melalui divestasi, atau tetap berdiri sebagai konglomerat media sosial terbesar di dunia.