Revolusi Teknologi Biosensing BRIN: Deteksi Dini Cepat

Revolusi Teknologi Biosensing BRIN: Deteksi Dini Cepat
Sumber :
  • BRIN

BRIN Pacu Riset Teknologi 6G Indonesia Lewat Antena Mikrostrip
  • Teknologi Biosensing BRIN kini fokus pada pengembangan perangkat terintegrasi untuk mendeteksi penyakit infeksius berbahaya (TBC, kanker).
  • Riset ini mengoptimalkan efektivitas dan efisiensi analisis medis melalui gabungan komponen biologis dan detektor fisikokimia.
  • BRIN juga mengarahkan inovasi biosensing untuk menjamin kualitas dan keamanan program pangan nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).

RI Targetkan Mandiri, Kuasai Teknologi Satelit Nasional

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggarisbawahi peran strategis Teknologi Biosensing BRIN dalam meningkatkan efektivitas analisis di sektor kesehatan dan pangan. Melalui penggabungan komponen biologis spesifik dan detektor fisikokimia, teknologi ini mampu mendeteksi berbagai penyakit secara lebih akurat, cepat, dan mudah. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Elektronika (PRE) BRIN, Ni Luh Wulan Septiani, menjelaskan bahwa pengembangan ini menjadi fokus utama Kelompok Riset Bioelektronika dan Biosensing. Wulan menegaskan bahwa fokus riset biosensing adalah menciptakan device biosensor yang terintegrasi dengan sistem pembaca. Dengan demikian, perangkat ini dapat diaplikasikan secara luas, khususnya pada bidang medis.

Peran Strategis Teknologi Biosensing BRIN dalam Kesehatan

Razer Kenalkan AVA: AI Agent Canggih untuk PC dan Cloud

BRIN saat ini sedang gencar mengembangkan berbagai perangkat biosensor untuk mendeteksi penyakit infeksius dan berbahaya. Penyakit seperti tuberkulosis (TBC), hepatitis, demam berdarah, dan kanker menjadi target utama inovasi ini. Pengembangan perangkat deteksi dini ini sangat penting. Kecepatannya diharapkan mampu mendukung sistem layanan medis agar penanganan penyakit dapat dilakukan sejak stadium awal.

Memahami Prinsip Kerja Biosensor

Wulan menjelaskan bahwa biosensor yang dikembangkan terbagi menjadi dua jenis berdasarkan mekanisme kerjanya: biosensor optikal dan biosensor elektrokimia. Kedua jenis ini bekerja dengan prinsip memanfaatkan perubahan sifat fisik material saat berinteraksi dengan target deteksi.

Prinsip kerja biosensing menggunakan material dan komponen biologis sebagai indikator utama. Perubahan sifat fisis material akibat interaksi dengan senyawa target akan dikonversi menjadi sinyal terukur.

Sebagai contoh, pada biosensor optikal, perubahan sinyal dapat berupa perubahan warna material. Penggunaan partikel emas (Au) untuk mendeteksi keberadaan senyawa lain, seperti biomarker kanker, menunjukkan perubahan warna dari merah menjadi ungu sebagai indikasi. Sementara itu, biosensor elektrokimia mengkonversi interaksi menjadi perubahan arus listrik.

Halaman Selanjutnya
img_title