Revolusi Teknologi Biosensing BRIN: Deteksi Dini Cepat

Revolusi Teknologi Biosensing BRIN: Deteksi Dini Cepat
Sumber :
  • BRIN

RI Targetkan Mandiri, Kuasai Teknologi Satelit Nasional
  • Teknologi Biosensing BRIN kini fokus pada pengembangan perangkat terintegrasi untuk mendeteksi penyakit infeksius berbahaya (TBC, kanker).
  • Riset ini mengoptimalkan efektivitas dan efisiensi analisis medis melalui gabungan komponen biologis dan detektor fisikokimia.
  • BRIN juga mengarahkan inovasi biosensing untuk menjamin kualitas dan keamanan program pangan nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).

Razer Kenalkan AVA: AI Agent Canggih untuk PC dan Cloud

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggarisbawahi peran strategis Teknologi Biosensing BRIN dalam meningkatkan efektivitas analisis di sektor kesehatan dan pangan. Melalui penggabungan komponen biologis spesifik dan detektor fisikokimia, teknologi ini mampu mendeteksi berbagai penyakit secara lebih akurat, cepat, dan mudah. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Elektronika (PRE) BRIN, Ni Luh Wulan Septiani, menjelaskan bahwa pengembangan ini menjadi fokus utama Kelompok Riset Bioelektronika dan Biosensing. Wulan menegaskan bahwa fokus riset biosensing adalah menciptakan device biosensor yang terintegrasi dengan sistem pembaca. Dengan demikian, perangkat ini dapat diaplikasikan secara luas, khususnya pada bidang medis.

Peran Strategis Teknologi Biosensing BRIN dalam Kesehatan

5 Tren Gadget MWC 2026: Inovasi Robot Mini & AI Ekspresif

BRIN saat ini sedang gencar mengembangkan berbagai perangkat biosensor untuk mendeteksi penyakit infeksius dan berbahaya. Penyakit seperti tuberkulosis (TBC), hepatitis, demam berdarah, dan kanker menjadi target utama inovasi ini. Pengembangan perangkat deteksi dini ini sangat penting. Kecepatannya diharapkan mampu mendukung sistem layanan medis agar penanganan penyakit dapat dilakukan sejak stadium awal.

Memahami Prinsip Kerja Biosensor

Wulan menjelaskan bahwa biosensor yang dikembangkan terbagi menjadi dua jenis berdasarkan mekanisme kerjanya: biosensor optikal dan biosensor elektrokimia. Kedua jenis ini bekerja dengan prinsip memanfaatkan perubahan sifat fisik material saat berinteraksi dengan target deteksi.

Prinsip kerja biosensing menggunakan material dan komponen biologis sebagai indikator utama. Perubahan sifat fisis material akibat interaksi dengan senyawa target akan dikonversi menjadi sinyal terukur.

Sebagai contoh, pada biosensor optikal, perubahan sinyal dapat berupa perubahan warna material. Penggunaan partikel emas (Au) untuk mendeteksi keberadaan senyawa lain, seperti biomarker kanker, menunjukkan perubahan warna dari merah menjadi ungu sebagai indikasi. Sementara itu, biosensor elektrokimia mengkonversi interaksi menjadi perubahan arus listrik.

Meskipun demikian, Wulan menekankan bahwa metode perubahan warna saja belum cukup. Metode tersebut baru menunjukkan keberadaan senyawa, namun belum mencakup skala atau jumlahnya. Oleh karena itu, BRIN terus menyempurnakan metode Teknologi Biosensing BRIN agar hasilnya lebih komprehensif.

Inovasi Biosensing untuk Keamanan Pangan dan Layanan Medis

Selain fokus pada deteksi penyakit, riset biosensing PRE BRIN juga diarahkan untuk menghasilkan solusi di sektor lain yang berdampak luas bagi masyarakat. Salah satu bidang utama adalah pengembangan sensor kualitas pangan.

Inovasi ini bertujuan memberikan alternatif solusi bagi pemerintah. BRIN berupaya membantu pemerintah menjaga kualitas program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya bagi siswa sekolah.

Tidak berhenti di situ, Kelompok Riset Bioelektronika dan Biosensing turut mengembangkan inovasi pendukung layanan medis. Mereka menciptakan vein finder, sebuah perangkat yang berfungsi membantu tenaga kesehatan. Perangkat ini dapat menentukan titik vena optimal saat proses pengambilan darah, sehingga meningkatkan kenyamanan pasien dan efisiensi layanan medis.

Prospek dan Dampak Riset Nasional

Pengembangan Teknologi Biosensing BRIN menunjukkan komitmen kuat BRIN dalam menyediakan solusi teknologi berbasis riset. Kunjungan ilmiah mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) ke Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun menjadi bukti nyata upaya BRIN dalam mentransfer pengetahuan.

Mahasiswa memperoleh pemahaman langsung mengenai peran strategis lembaga riset dalam menghadirkan teknologi yang berdampak nyata bagi masyarakat. Kegiatan edukatif ini sekaligus menjadi dorongan BRIN untuk menumbuhkan minat generasi muda Indonesia terhadap dunia riset dan inovasi nasional yang kompetitif.