Ancaman Mendesak: Tiga Pola Serangan Siber Agen AI Baru
- Istimewa
- Adopsi agen AI secara fundamental memperluas permukaan ancaman siber bagi perusahaan.
- Penyerang kini fokus mengekstrak perintah sistem internal AI, bukan sekadar manipulasi keluaran (prompt injection).
- Serangan tidak langsung, yang memanfaatkan konten eksternal, membutuhkan upaya yang jauh lebih kecil dan efektif.
- Perusahaan wajib mendefinisikan ulang batasan kepercayaan untuk mengamankan sistem agentic pada tahun 2026.
Jakarta—Adopsi Kecerdasan Buatan (AI) dan AI Agen di berbagai sektor industri berlangsung sangat cepat. Namun, kecepatan ini sayangnya juga diikuti oleh adaptasi para penyerang siber. Penelitian terbaru menyoroti bahwa isu Keamanan Agen AI kini memasuki fase kritis karena musuh langsung mengeksploitasi sistem segera setelah kapabilitas baru AI diperkenalkan.
Mateo Rojas-Carulla, Kepala Penelitian Keamanan Agen AI di Check Point Software, menjelaskan bahwa transisi ini memperluas permukaan ancaman siber secara mendasar. Sistem agentic yang baru ini bersifat interaktif; mereka mampu menjelajahi dokumen, memanggil alat eksternal, dan mengatur alur kerja multi-langkah. Rojas-Carulla memperingatkan, risiko yang ditimbulkan oleh agen AI berbeda dari serangan berbasis API atau aplikasi web konvensional. Vektor serangan baru muncul lebih cepat dari yang organisasi antisipasi.
Transformasi Ancaman Siber: Permukaan Serangan Agen AI
Tim Check Point menganalisis perilaku penyerang pada kuartal keempat tahun 2025. Hasilnya menunjukkan musuh segera menyesuaikan taktik mereka begitu agen AI mulai berinteraksi dengan konten dan alat eksternal.
Para penyerang tidak lagi menggunakan metode lama. Mereka mencari celah spesifik dalam logika alur kerja AI yang baru. Analisis tersebut menemukan bahwa filter sanitasi masukan tradisional tidak lagi memadai saat model berinteraksi dengan sumber konten yang tidak tepercaya.
Transisi dari Model Statis ke Sistem Agentic
Agen AI berbeda dari model bahasa statis. Model bahasa statis hanya memproses permintaan dan memberikan keluaran. Sementara itu, sistem agentic bertindak otonom; mereka mengambil inisiatif berdasarkan instruksi internal.
Sistem agentic yang mampu mengatur alur kerja multi-langkah secara otomatis menciptakan risiko yang jauh lebih tinggi. Jika penyerang berhasil mengkompromikan instruksi internal agen, mereka secara efektif dapat mengambil kendali atas proses bisnis vital.