Logitech G Pro X Superlight 2c: Monster Kecil Periferal eSports
- Istimewa
- Mouse gaming kompetitif ini 5% lebih kecil dari versi standar, ideal untuk fingertip dan claw grip.
- Bobotnya hanya 51 gram, menjadikannya salah satu mouse nirkabel teringan di kelas premium.
- Mengusung sensor Hero 2 dan polling rate 8.000 Hz untuk akurasi dan latensi sangat rendah.
- Disertai fitur perangkat lunak canggih seperti BHOP Mode dan Kalibrasi Sensor Hero.
Dunia periferal gaming kompetitif telah lama mengenal Logitech G Pro X Superlight sebagai standar emas. Namun demikian, para pemain yang menginginkan manuver mikro super lincah, atau mereka dengan ukuran tangan lebih kecil, menuntut presisi yang lebih tinggi. Menjawab kebutuhan mendesak ini, Logitech secara resmi merilis varian terbarunya: Logitech G Pro X Superlight 2c. Huruf 'c' yang melekat pada namanya menegaskan identitasnya sebagai versi Compact, menandakan penyusutan dimensi signifikan tanpa mengorbankan performa teknis flagship.
Ergonomi Ultra-Ringan untuk Kontrol Penuh
Logitech merancang ulang dimensi Superlight. Logitech G Pro X Superlight 2c kini hadir dengan ukuran panjang 118,4 mm, lebar 61,2 mm, dan tinggi 38,6 mm. Secara keseluruhan, mouse ini menjadi sekitar 5% lebih kecil dibandingkan varian standar yang sudah sangat populer di kalangan atlet eSports.
Keberhasilan rekayasa Logitech terlihat dari bobotnya. Mouse ini hanya memiliki bobot 51 gram, menempatkannya di jajaran mouse ultra-ringan teratas di pasaran saat ini. Meskipun ukurannya menyusut drastis, Logitech tetap mempertahankan desain solid shell yang kokoh. Desain ini menghindari penggunaan lubang-lubang eksternal (honeycomb) yang sering dipakai merek lain untuk mengurangi bobot. Secara ergonomis, desain kompak ini sangat cocok mendukung gaya genggam fingertip dan claw grip, memudahkan pemain melakukan koreksi bidikan (micro-adjustments) dengan presisi.
Responsif Tanpa Risiko Double-Click
Untuk tombol utama, Logitech G Pro X Superlight 2c mengadopsi teknologi switch Lightforce Hybrid. Teknologi ini menggabungkan kecepatan optimal dari switch optik dengan sensasi klik renyah (tactile) khas switch mekanik tradisional. Hasilnya adalah tombol yang sangat responsif, sekaligus menghilangkan risiko double-click yang mengganggu. Penggunaan teknologi optik pada sensor pemicu memastikan tidak adanya keausan fisik, menjamin durabilitas jangka panjang.