ATSI: Harga Internet Seluler Sudah Murah, Layanan Internet Indonesia Terbentur Spektrum
- Istimewa
- ATSI mengklaim harga internet seluler Indonesia sudah kompetitif (murah) dibandingkan biaya per gigabyte di negara-negara tetangga.
- Percepatan kualitas Layanan Internet Indonesia harus dibedakan antara fokus 4G di wilayah rural dan pengembangan 5G di perkotaan.
- Tantangan terbesar peningkatan kecepatan adalah keterbatasan spektrum frekuensi, kondisi geografis, dan kompleksitas perizinan infrastruktur.
Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) merespons tegas arahan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terkait tuntutan layanan internet Indonesia yang lebih cepat dan terjangkau. Sekjen ATSI, Merza Fachys, menilai pernyataan Komdigi masih terlalu umum. Merza menekankan bahwa layanan fixed broadband (internet rumah) dan internet seluler memiliki karakteristik berbeda, sehingga perlu dibedakan strateginya. Dia menggarisbawahi, harga internet seluler saat ini sudah "sangat murah" bila dibandingkan dengan tarif per gigabyte di negara-negara tetangga.
Membedah Harga: Klaim Seluler Sudah Murah
Merza Fachys meminta publik melakukan perbandingan harga dengan basis yang tepat. Ia yakin, jika dibandingkan dengan biaya per gigabyte di kawasan Asia Tenggara, tarif internet seluler di Indonesia tergolong kompetitif. Klaim tersebut secara tidak langsung menangkis tudingan bahwa seluruh jenis layanan telekomunikasi di Indonesia masih mahal.
Namun demikian, ATSI mengakui bahwa layanan fixed broadband, atau internet yang dipasang di rumah, memerlukan peninjauan lebih lanjut. Sektor ini memang memiliki sejumlah aspek harga dan kualitas yang menantang dan butuh penanganan berbeda. Komdigi dan operator harus bekerja sama mencari solusi untuk mempercepat dan memurahkan segmen ini.
Strategi Jaringan Ganda: 4G untuk Rural, 5G untuk Kota
Tantangan peningkatan kecepatan layanan internet Indonesia tidak hanya terletak pada harga, tetapi juga pada kondisi geografis. Merza menyebut, Indonesia memiliki kompleksitas topografi yang jauh berbeda dengan negara tetangga seperti Singapura. Jika perbandingan hanya dilakukan di kota besar seperti Jakarta, kecepatan jaringan mungkin tidak jauh berbeda.
ATSI menyarankan pendekatan ganda untuk peningkatan kualitas jaringan secara merata. Mereka fokus pada penguatan layanan 4G di wilayah rural dan pinggiran kota. Sementara itu, pengembangan jaringan 5G harus didorong secara agresif di kawasan perkotaan yang padat penduduk.
Kebutuhan Spektrum dan Perizinan Jaringan
Penguatan 4G di luar kota membutuhkan dua faktor utama. Pertama, penambahan spektrum frekuensi yang memadai. Kedua, pembangunan backbone jaringan yang menjangkau daerah-daerah terpencil. Tanpa backbone yang kuat, layanan 4G tidak akan optimal.
Kebutuhan utama di wilayah perkotaan adalah ketersediaan spektrum frekuensi. Infrastruktur fiber optik di perkotaan relatif sudah tersedia, sehingga fokus utama adalah mengoptimalkan pita frekuensi. Sebaliknya, di luar kota, penggelaran fiber optik (FTTX) masih menjadi rintangan besar. Proses pembangunan infrastruktur ini memerlukan investasi besar, melibatkan jarak yang panjang, dan menghadapi kompleksitas pekerjaan lapangan yang tinggi.
Masalah perizinan juga turut menghambat percepatan pembangunan jaringan. Regulasi yang berbeda-beda di setiap daerah menyulitkan pembangunan jaringan antarkota. ATSI telah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk menyederhanakan proses perizinan ini. Kendala serupa juga terjadi pada pembangunan kabel laut antarwilayah kepulauan, yang proses perizinannya masih membutuhkan waktu panjang.
Implementasi Kebijakan Komdigi dan Dampaknya ke Depan
Arahan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, meminta operator seluler menghadirkan layanan internet yang lebih cepat dan lebih murah. Tuntutan ini disampaikan Komdigi setelah mereka meresmikan kebijakan registrasi kartu SIM menggunakan biometrik wajah, yang bertujuan memperkuat tata kelola kartu SIM dan menekan kejahatan digital.
Setelah perbaikan tata kelola keamanan digital ini berhasil, Komdigi mendesak operator seluler meningkatkan kualitas layanan. Meutya Hafid menegaskan bahwa percepatan internet adalah masukan langsung dari publik. Oleh karena itu, perbaikan layanan internet Indonesia harus menjadi prioritas, baik dari sisi kecepatan maupun keterjangkauan harga. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan ketersediaan sumber daya, terutama spektrum, akan menentukan seberapa cepat janji ini dapat terealisasi.