Intel Serang Nvidia! GPU Baru untuk Server AI Segera Meluncur
- Reuters
Gadget – Persaingan di industri semikonduktor memasuki babak baru yang jauh lebih intens. Intel, raksasa prosesor yang selama puluhan tahun mendominasi pasar PC, kini secara terbuka menyatakan niatnya menantang hegemoni Nvidia di pasar GPU (Graphics Processing Unit) untuk kecerdasan buatan (AI). Langkah ini bukan sekadar manuver pemasaran melainkan strategi eksistensial untuk merebut kembali relevansi di era AI yang didominasi oleh chip khusus.
Dalam pengumuman yang disampaikan langsung oleh CEO Intel Lip-Bu Tan di sela-sela Cisco AI Summit, perusahaan mengonfirmasi bahwa mereka sedang mengembangkan GPU khusus untuk pusat data (data center) AI, dengan fokus utama pada kebutuhan pelanggan enterprise global. Yang mengejutkan, Intel bahkan telah merekrut mantan eksekutif Qualcomm, Eric Demmers, sebagai Chief GPU Architect langkah agresif yang menunjukkan keseriusan mereka menyaingi arsitektur canggih seperti H100 dan Blackwell dari Nvidia.
Namun, di balik ambisi besar ini, Intel juga mengungkap kekhawatiran mendalam: ancaman dari Huawei, yang meski terkena sanksi ketat AS, justru berhasil merekrut ratusan insinyur chip top dunia dan berpotensi “melompat maju” dalam perlombaan teknologi.
Artikel ini mengupas tuntas strategi Intel, profil tokoh kunci di balik GPU barunya, tantangan dari Nvidia, serta ancaman tak terduga dari China yang bisa mengubah peta kekuatan industri chip global.
Intel vs Nvidia: Pertarungan untuk Menguasai Infrastruktur AI Dunia
Selama lima tahun terakhir, Nvidia menjadi tulang punggung revolusi AI. Chip GPU-nya terutama seri A100 dan H100 menjadi standar emas di hampir semua pusat data AI, dari Meta dan Google hingga startup generatif AI. Pangsa pasarnya mencapai lebih dari 80% di segmen akselerator AI.
Intel, yang selama ini fokus pada CPU, tertinggal jauh. Namun, dengan kepemimpinan baru di bawah Lip-Bu Tan, perusahaan kini bertransformasi total. GPU untuk data center AI bukan lagi opsi melainkan keharusan.
“Ini (pengembangan GPU) terkait erat dengan pusat data,” tegas Tan, menegaskan bahwa produk ini tidak ditujukan untuk gaming atau konsumen biasa, melainkan untuk pelanggan enterprise yang membutuhkan komputasi paralel skala besar.
Eric Demmers: Senjata Rahasia Intel untuk Kalahkan Nvidia
Salah satu langkah paling strategis Intel adalah perekrutan Eric Demmers, mantan eksekutif senior Qualcomm yang dikenal sebagai arsitek di balik chipset mobile performa tinggi. Sebagai Chief GPU Architect, Demmers akan langsung melapor ke Kevork Kechichian, bos divisi chip data center Intel.
Tan mengakui bahwa meyakinkan Demmers untuk bergabung bukan perkara mudah. “Saya sangat senang dia bergabung dengan saya,” ujarnya penuh antusiasme.
Keberadaan Demmers menandakan bahwa Intel tidak hanya ingin membuat GPU tapi GPU yang benar-benar kompetitif dalam efisiensi energi, bandwidth memori, dan skalabilitas kluster, tiga pilar utama yang selama ini menjadi keunggulan Nvidia.
Kolaborasi dengan Pelanggan: Desain Berbasis Kebutuhan Nyata
Berbeda dengan pendekatan “build it and they will come”, Intel kini bekerja intensif dengan pelanggan data center untuk mendefinisikan spesifikasi GPU yang benar-benar dibutuhkan. Ini termasuk:
- Kebutuhan bandwidth antar-chip
- Efisiensi daya per watt
- Kompatibilitas dengan framework AI seperti PyTorch dan TensorFlow
- Dukungan untuk inferensi dan pelatihan model besar
Dengan pendekatan ini, Intel berharap GPU-nya tidak hanya cepat, tapi juga praktis, hemat biaya, dan mudah diintegrasikan ke infrastruktur yang sudah ada.
Ancaman dari Timur: Huawei dan “Strategi Orang Miskin” yang Mengkhawatirkan
Di tengah persiapannya melawan Nvidia, Intel justru mengungkap kekhawatiran lain: Huawei.
Meski terkena sanksi AS yang melarang akses ke software desain chip canggih seperti Cadence dan Synopsys, Huawei ternyata berhasil merekruit sekitar 100 desainer chip kelas dunia. Ketika ditanya mengapa mau bergabung dengan perusahaan yang “tools-nya terbatas”, jawaban mereka bikin merinding:
“Meskipun kami tidak punya akses ke tools terbaik... kami punya cara ‘orang miskin’ untuk melakukannya, dan kami bisa melakukannya.”
Tan memperingatkan bahwa Huawei hanya tertinggal sedikit dan berpotensi melompati pesaing jika tidak diwaspadai. Ini menunjukkan bahwa perang chip bukan hanya soal teknologi tapi juga ketahanan, inovasi di bawah tekanan, dan semangat nasionalisme teknologi.
Intel Foundry: Harapan Baru dari Bisnis Manufaktur
Selain GPU, bisnis pabrik chip (Intel Foundry) juga mulai menunjukkan tanda kebangkitan. Tan mengungkap bahwa beberapa pelanggan kini sedang berkolaborasi erat dengan Intel untuk teknologi manufaktur 14A, yang direncanakan mulai produksi massal akhir 2025.
Jika sukses, ini bisa menjadi sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat posisi Intel sebagai pemain vertikal dari desain hingga produksi.
Kesimpulan: Tiga Raksasa, Satu Medan Perang
Peta persaingan chip AI kini membentuk segitiga tegang:
- Nvidia: pemimpin mapan dengan ekosistem CUDA yang sulit ditandingi
- Intel: raksasa yang bangkit kembali, dengan talenta baru dan strategi kolaboratif
- Huawei: underdog yang tak kenal lelah, berinovasi di tengah blokade
Bagi dunia enterprise, persaingan ini justru menguntungkan karena akan mendorong inovasi lebih cepat, harga lebih kompetitif, dan diversifikasi pasokan.
Namun, bagi Intel, taruhannya sangat tinggi. Jika gagal, mereka bisa kehilangan relevansi di era AI. Tapi jika sukses, GPU barunya bisa menjadi katalis kebangkitan kedua setelah era Pentium.
Satu hal pasti: perang chip AI baru saja memasuki babak paling seru.
| Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di : | |
|---|---|
| @gadgetvivacoid | |
| Gadget VIVA.co.id | |
| X (Twitter) | @gadgetvivacoid |
| Whatsapp Channel | Gadget VIVA |
| Google News | Gadget |