Misteri Terpecahkan: Ulat Bisa Mendengar Tanpa Telinga
- Istimewa
- Para peneliti menemukan bahwa ulat bisa mendengar suara di udara, tetapi mereka tidak menggunakan telinga.
- Mekanisme pendengaran ulat bergantung pada bulu-bulu halus (setae) yang berfungsi sebagai sensor pergerakan udara.
- Reaksi ulat terhadap suara di udara 10 hingga 100 kali lebih kuat dibandingkan respons terhadap getaran permukaan.
- Temuan unik ini menjadi inspirasi krusial bagi pengembangan teknologi mikrofon generasi baru.
Penemuan ilmiah revolusioner mengungkap cara kerja mekanisme pendengaran serangga yang paling tak terduga. Ternyata, ulat bisa mendengar suara di lingkungan sekitarnya tanpa memerlukan telinga sama sekali.
Para ahli biologi menyebutkan bulu-bulu kecil di tubuh ulat berfungsi sebagai alat pendeteksi suara utama. Temuan ini tidak hanya mengubah pemahaman kita tentang biologi ulat, tetapi juga menawarkan cetak biru baru untuk teknologi sensor manusia.
Eksperimen di Ruang Paling Sunyi Dunia
Penemuan ini bermula dari observasi sederhana oleh Carol Miles, seorang ahli biologi terkemuka dari Universitas Binghamton, New York. Miles memperhatikan reaksi terkejut ulat setiap kali ia menimbulkan suara keras di dekat mereka.
Miles lantas memimpin tim peneliti untuk menyelidiki misteri ini. Mereka harus memastikan apakah ulat benar-benar memproses suara dari udara.
Oleh karena itu, peneliti membawa ulat ngengat tembakau menuju ruang anechoic milik universitas. Ruangan ini dikenal sebagai salah satu tempat paling sunyi di dunia.
Di ruang anechoic, ilmuwan dapat mengontrol suara dengan sangat presisi. Langkah ini memungkinkan mereka mengisolasi stimulus suara yang memicu respons ulat.
Membedakan Suara Udara dan Getaran
Awalnya, tim peneliti menghadapi tantangan. Mereka belum yakin apakah respons ulat timbul karena gelombang suara di udara, atau karena getaran yang merambat melalui permukaan tempat mereka berpijak.
Untuk menjawab keraguan tersebut, tim menguji dua jenis rangsangan secara terpisah. Mereka menguji suara berfrekuensi tinggi dan rendah, baik melalui udara maupun melalui permukaan.
Hasilnya menunjukkan ulat merespons dua jenis rangsangan tersebut. Menariknya, reaksi mereka terhadap suara yang merambat di udara jauh lebih kuat. Respons tersebut bahkan 10 hingga 100 kali lebih besar dibandingkan getaran yang mereka rasakan melalui kaki.