Bos Instagram di Sidang: Scrolling 16 Jam Bukan Kecanduan Klinis?
- Istimewa
Namun, hubungan sebab-akibat langsung masih menjadi bahan perdebatan panjang. Banyak ahli berpendapat bahwa bukti yang ada saat ini masih bersifat asosiasi. Artinya, pemakaian lama berkorelasi dengan masalah mental, namun bukan satu-satunya penyebab utama.
Langkah Mitigasi yang Tersedia Saat Ini
Instagram sendiri telah memperkenalkan berbagai fitur untuk membatasi waktu layar. Pengguna dapat mengaktifkan pengingat harian dan batas durasi penggunaan aplikasi. Selain itu, fitur kontrol orang tua juga tersedia untuk membantu pengawasan aktivitas anak.
Meskipun begitu, para kritikus menganggap langkah tersebut belum cukup efektif. Mereka menilai mekanisme utama yang mengejar keterlibatan pengguna tetap mendominasi. Fitur keselamatan dianggap hanya sebagai tambahan tanpa mengubah akar masalah pada desain algoritma.
Implikasi Masa Depan bagi Industri Media Sosial
Kasus ini memberikan tekanan besar bagi pengembang produk di seluruh dunia. Perusahaan harus mulai mempertimbangkan bagaimana fitur mereka memengaruhi perkembangan otak remaja. Jika metrik utama hanya mengejar keterlibatan (engagement), risiko regulasi akan semakin besar.
Bagi orang tua, situasi ini mempertegas pentingnya literasi digital di lingkungan keluarga. Selain mengandalkan fitur aplikasi, pengawasan terhadap perubahan suasana hati remaja sangat diperlukan. Langkah ini menjadi kunci untuk mencegah dampak buruk teknologi yang lebih dalam.
Persidangan Mosseri bukan sekadar debat istilah medis di ruang sidang. Kasus ini mempertanyakan batas tanggung jawab antara pilihan pengguna dan desain teknologi. Keputusan akhir pengadilan nantinya akan menentukan standar keamanan baru bagi seluruh platform digital.