Harga HDD, Router & STB Naik Gila-gilaan! Ini Penyebabnya

Harga HDD, Router & STB Naik Gila-gilaan! Ini Penyebabnya
Sumber :
  • HP

Gadget – Dunia teknologi sedang menghadapi gelombang kejut yang tak terhindarkan: harga perangkat elektronik konsumen seperti hard disk drive (HDD), router Wi-Fi, dan set-top box (STB) diprediksi akan melonjak tajam hingga 2026. Penyebab utamanya? Ledakan permintaan infrastruktur Artificial Intelligence (AI) yang memicu kelangkaan komponen memori terutama DRAM dan NAND flash di seluruh dunia.

Krisis Pasokan Semikonduktor Guncang Pasar, Harga Server Meroket 70%

Menurut laporan terbaru dari Counterpoint Research, harga memori telah naik lebih dari 600 persen dalam setahun terakhir. Namun, yang paling mencengangkan: harga RAM untuk perangkat broadband seperti router dan STB melonjak hampir tujuh kali lipat dalam sembilan bulan, jauh melebihi kenaikan di sektor smartphone yang “hanya” tiga kali lipat.

Artikel ini mengupas akar krisis, dampak langsung ke konsumen, proyeksi hingga 2026, serta strategi mitigasi bagi produsen dan pengguna yang terancam oleh fenomena yang kini disebut “cipflasi” inflasi akibat kelangkaan chip.

Samsung Naikkan Harga RAM 80%, iPhone 18 Terancam Jadi Lebih Mahal

Akar Masalah: AI Haus Data, Memori Jadi Komoditas Langka

Revolusi AI tidak hanya membutuhkan GPU. Ia juga haus data dalam skala eksabyte mulai dari dataset pelatihan, log inferensi, hingga arsip hasil web scraping. Untuk menyimpan data tersebut secara ekonomis, perusahaan cloud raksasa seperti Google, Microsoft, dan Amazon memilih HDD sebagai solusi utama untuk data cold dan warm, karena biaya per terabyte jauh lebih murah dibanding SSD.

Apple Terpaksa Setuju Kenaikan Harga LPDDR 100%

Akibatnya, produsen HDD seperti Western Digital (WD), Seagate, dan Toshiba kini mengalokasikan 89% kapasitas produksinya untuk segmen enterprise dan cloud, meninggalkan hanya 5% untuk pasar konsumen.
CEO Western Digital, Irving Tan, bahkan mengungkap fakta mengejutkan:

“Stok HDD kami untuk tahun kalender 2026 sudah hampir sold out. Kami memiliki purchase order tetap dari tujuh pelanggan terbesar.”

Lebih parah lagi, WD telah menandatangani kontrak jangka panjang hingga 2028 dengan hyperscaler global. Artinya, pasokan HDD untuk PC rakitan, laptop gaming, NAS rumahan, atau server UKM akan semakin langka dan otomatis, harganya melambung.

Router & STB: Korban Tak Terduga dari Ledakan AI

Jika HDD adalah korban langsung, maka router dan STB adalah korban tak terduga. Perangkat broadband ini ternyata sangat bergantung pada modul memori jenis LPDDR4/5 dan NAND flash untuk menjalankan sistem operasi, manajemen jaringan, dan fitur keamanan.

Menurut Counterpoint:

  • Kontribusi memori terhadap biaya produksi router naik dari 3% menjadi lebih dari 20% dalam setahun.
  • Perangkat entry-level dan mid-range paling terpukul, karena margin keuntungan tipis.
  • Produsen OEM kecil tanpa daya tawar kuat terpaksa menaikkan harga jual atau mengurangi spesifikasi.

Padahal, 2026 adalah tahun di mana operator telekomunikasi global gencar ekspansi layanan fiber dan fixed wireless access (FWA). Mereka butuh jutaan unit CPE (Customer Premises Equipment) termasuk router dan STB untuk menjangkau pelanggan baru. Kini, rencana itu terancam terhambat oleh biaya perangkat yang melonjak.

Cipflasi: Ketika Harga Chip Lebih Mahal dari Emas

Istilah “cipflasi” mulai populer untuk menggambarkan kondisi di mana harga komponen semikonduktor naik lebih cepat daripada inflasi umum bahkan sempat melebihi harga emas per gram dalam beberapa kasus ekstrem.
Faktor pendorongnya kompleks:

  • Permintaan AI tak terkendali → butuh server + storage massal
  • Kapasitas produksi terbatas → investasi pabrik chip butuh waktu 2–3 tahun
  • Geopolitik & rantai pasok → sanksi AS-China ganggu distribusi global
  • Spekulasi pasar → distributor menimbun stok, mendorong harga spot naik

Akibatnya, harga spot (pasar bebas) untuk DRAM dan NAND jauh lebih tinggi daripada harga kontrak jangka panjang membuat produsen kecil dan konsumen akhir membayar premium besar.

Dampak ke Konsumen: Rakit PC, Beli Laptop, atau Upgrade Internet? Siapkan Dompet Tebal

Bagi pengguna akhir, efeknya sudah mulai terasa:

1. PC Rakitan & Gaming
HDD 4–8 TB kini lebih sulit ditemukan di toko ritel.
Harga HDD 4TB naik dari Rp800 ribu ke Rp1,4 juta+ dalam 6 bulan.
Builder terpaksa beralih ke SSD berkapasitas kecil mengorbankan ruang penyimpanan.

2. Perangkat Jaringan Rumahan
Router Wi-Fi 6 entry-level (misal TP-Link Archer AX21) diprediksi naik 20–30% pada 2026.
ISP mungkin mengurangi subsidi STB gratis atau membebankan biaya sewa bulanan.

3. Produk Jadi (Prebuilt PC/Laptop)
Produsen seperti Dell, HP, Lenovo memangkas kapasitas HDD atau mengganti dengan SSD 256GB murah.
Harga laptop gaming dengan storage besar naik signifikan, meski spesifikasi CPU/GPU sama.

Proyeksi Hingga 2026: Kapan Krisis Ini Berakhir?

Counterpoint memperkirakan:

  • Puncak harga memori terjadi pada paruh pertama 2026.
  • Kendala pasokan masih berlanjut hingga akhir 2026, bahkan awal 2027.
  • Investasi baru di pabrik NAND/DRAM baru berdampak pada 2027–2028.

Artinya, konsumen harus bersiap menghadapi 12–18 bulan ke depan dengan harga perangkat elektronik yang terus naik kecuali mereka bersedia menurunkan ekspektasi spesifikasi.

Strategi Mitigasi: Apa yang Bisa Dilakukan?

Bagi Konsumen:

  • Beli perangkat sekarang jika ada anggaran harga kemungkinan naik lagi.
  • Prioritaskan upgrade bertahap: beli SSD kecil dulu, tambah HDD nanti.
  • Pertimbangkan produk refurbished atau open-box dari merek tepercaya.

Bagi Produsen & ISP:

  • Amankan kontrak jangka panjang dengan pemasok memori.
  • Optimalkan desain BOM (Bill of Materials) untuk minimalkan penggunaan DRAM/NAND.
  • Edukasi pelanggan tentang kenaikan biaya akibat faktor eksternal.

Kesimpulan: Era Baru Teknologi Di Mana Data Lebih Berharga dari Logam Mulia

Krisis memori global bukan sekadar gangguan sementara ia adalah tanda pergeseran struktural dalam ekonomi digital. Di era AI, data adalah minyak baru, dan penyimpanannya adalah infrastruktur strategis.

Bagi konsumen, ini berarti era perangkat elektronik murah mungkin berakhir setidaknya untuk sementara. Tapi bagi industri, ini adalah peringatan keras bahwa ketergantungan pada komponen kritis harus dikelola dengan lebih baik.

Satu hal pasti: siapa pun yang meremehkan dampak AI terhadap rantai pasok elektronik, kini sedang membayar mahal atas kelalaiannya. Dan sayangnya, kita semua sebagai konsumen ikut menanggung tagihannya.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget