Block PHK 4.000 Karyawan Gara-gara AI, Saham Justru Melejit!
- Istimewa
- Block resmi memangkas 4.000 karyawan untuk meningkatkan produktivitas melalui kecerdasan buatan (AI).
- Keputusan ini memicu lonjakan harga saham Block hingga lebih dari 20 persen di pasar saham.
- Jack Dorsey menegaskan bahwa tim kecil yang didukung AI kini mampu bekerja lebih efektif dan cepat.
- Laporan keuangan terbaru menunjukkan pendapatan perusahaan mencapai Rp100 triliun, melampaui ekspektasi.
Perusahaan fintech raksasa Block resmi mengumumkan langkah radikal terkait efisiensi operasional mereka. Induk dari Square dan Cash App ini melakukan PHK Block AI terhadap 4.000 karyawannya. Mantan CEO Twitter, Jack Dorsey, memimpin langsung kebijakan strategis ini demi merespons perkembangan teknologi yang masif.
Keputusan besar ini diambil setelah perusahaan melihat potensi peningkatan produktivitas lewat bantuan kecerdasan buatan. Dorsey menyampaikan bahwa alat berbasis AI kini berkembang sangat pesat setiap minggunya. Kondisi tersebut memungkinkan perusahaan untuk merampingkan struktur organisasi tanpa mengorbankan performa bisnis inti.
Dampak Efisiensi AI pada Kinerja Keuangan Block
Pasar merespons positif langkah efisiensi yang diambil oleh manajemen Block. Saham perusahaan dilaporkan melonjak lebih dari 20 persen dalam perdagangan pra-pasar tak lama setelah pengumuman tersebut. Investor menilai ketergantungan pada AI akan mendongkrak profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang.
Berdasarkan laporan terbaru pada Selasa (3/3/2026), Block mencatatkan pendapatan kuartal keempat sebesar US$6,25 miliar. Nilai yang setara dengan Rp100 triliun ini berhasil melampaui prediksi para analis Wall Street. Dorsey menegaskan bahwa kinerja ekonomi perusahaan tetap berada di posisi yang sangat kuat.
Tantangan Moral Karyawan dan Risiko Teknologi
Meskipun laporan keuangan menguat, dinamika internal perusahaan dikabarkan sedang mengalami guncangan hebat. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa moral karyawan menurun drastis dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini terjadi karena perusahaan mulai mewajibkan penggunaan AI generatif dalam hampir seluruh alur kerja.
Selain masalah moral, Block juga mengakui adanya risiko siber yang membayangi strategi baru ini. Dalam laporan tahunannya, manajemen memperingatkan potensi kegagalan teknologi dan ancaman keamanan data. Pergeseran ke arah otomasi penuh menuntut pengawasan yang jauh lebih ketat daripada sebelumnya.