Waspada! Kejahatan Siber Lebaran Meningkat, Ini Kata Pakar
- Istimewa
- Intensitas kejahatan siber melonjak drastis selama periode Ramadan hingga Idulfitri.
- Pelaku semakin agresif menggunakan modus lama karena desakan kebutuhan ekonomi.
- OJK mencatat lebih dari 13 ribu laporan penipuan dalam 10 hari pertama Ramadan.
- Jutaan ancaman berbasis web mengintai pengguna internet di Indonesia.
Aktivitas kejahatan siber Lebaran menunjukkan tren kenaikan yang signifikan seiring meningkatnya volume transaksi digital masyarakat. Para pelaku kini semakin agresif melancarkan aksi penipuan karena dorongan motif ekonomi yang mendesak. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh pengguna layanan keuangan digital di tanah air.
Modus Rekayasa Sosial yang Semakin Nekat
Pakar keamanan siber, Alfons Tanujaya, menjelaskan bahwa pola serangan siber menjelang Idulfitri sebenarnya tidak banyak berubah. Namun, para peretas kini bekerja lebih giat dan berani dalam mengeksekusi aksinya. Mereka memanfaatkan momen ketika masyarakat sangat membutuhkan uang untuk keperluan hari raya.
Pelaku umumnya masih mengandalkan skema lama seperti tawaran investasi bodong dan hadiah instan. Selain itu, mereka sering menyamar sebagai petugas resmi dari bank, kepolisian, atau kantor pajak. Teknik ini bertujuan untuk mencuri identitas dan menguras saldo mobile banking milik korban.
Waspada Terhadap Tautan Phishing
Metode utama yang patut diwaspadai adalah pengiriman tautan phishing melalui berbagai platform pesan singkat. Penjahat mengemas tautan tersebut dengan narasi yang meyakinkan agar korban bersedia memberikan data sensitif. Alfons mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada situs web yang tidak resmi.
Keamanan aset digital sepenuhnya bergantung pada kedisiplinan pengguna dalam menjaga data pribadi. Jangan pernah memberikan kode OTP atau kata sandi kepada siapa pun, meskipun mereka mengaku sebagai petugas berwenang. Kewaspadaan ini menjadi benteng utama dalam menghadapi kejahatan siber Lebaran.
Data Ancaman Digital di Indonesia
Berdasarkan laporan dari Kaspersky, ancaman siber di Indonesia mencapai angka yang mengkhawatirkan sepanjang tahun 2025. Perusahaan tersebut berhasil memblokir hampir 15 juta ancaman berbasis web. Data ini menunjukkan bahwa satu dari empat pengguna internet di Indonesia berisiko terkena serangan online.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat lonjakan pengaduan masyarakat yang sangat tajam. Hanya dalam sepuluh hari pertama Ramadan 2026, terdapat 13.130 laporan penipuan yang melibatkan puluhan ribu rekening. Angka ini meningkat pesat jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Langkah Strategis Melindungi Aset Digital
Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) terus berupaya mempercepat penanganan kasus penipuan di sektor keuangan. Hingga saat ini, lembaga tersebut telah memproses 477.600 laporan dari masyarakat dan pelaku usaha. IASC juga telah memblokir ratusan ribu rekening yang terindikasi kuat terlibat dalam aktivitas ilegal.
Sejauh ini, total dana korban yang berhasil diamankan mencapai Rp566,1 miliar. Selain memblokir rekening, IASC juga melacak puluhan ribu nomor telepon yang digunakan oleh para pelaku penipuan. Upaya kolaboratif antara perbankan dan otoritas keamanan menjadi kunci untuk menekan angka kejahatan siber Lebaran.
Masyarakat harus lebih proaktif melaporkan segala bentuk aktivitas mencurigakan kepada pihak berwajib atau pusat pengaduan resmi. Melalui kesadaran keamanan yang tinggi, kita dapat meminimalisir risiko kerugian finansial akibat serangan siber yang kian masif.