31% Perusahaan Global Kena Serangan Siber Rantai Pasokan
- Istimewa
- Riset Kaspersky menunjukkan 31% perusahaan global mengalami serangan siber melalui rantai pasokan.
- Di Asia Pasifik, 20% perusahaan Indonesia teridentifikasi menjadi target ancaman ini.
- Kompleksitas operasional korporasi besar meningkatkan risiko kerentanan keamanan hingga 36%.
- Mayoritas perusahaan belum memprioritaskan keamanan rantai pasok meski dampak operasionalnya sangat fatal.
Laporan global terbaru dari Kaspersky mengungkapkan ancaman serius bagi dunia usaha di seluruh dunia. Sebanyak 31% perusahaan global terbukti menjadi target serangan siber rantai pasokan selama setahun terakhir.
Kawasan Asia Pasifik (APAC) menunjukkan angka yang bervariasi namun tetap mengkhawatirkan. China memimpin dengan 40% perusahaan terdampak, sementara 20% perusahaan di Indonesia juga mengalami serangan serupa.
Risiko ini kian meningkat seiring dengan kompleksitas hubungan bisnis modern. Sergey Soldatov, Kepala Pusat Operasi Keamanan Kaspersky, menegaskan bahwa konektivitas antar-organisasi yang semakin erat justru memperlebar celah bagi para peretas.
Dampak Serangan Siber Rantai Pasokan pada Korporasi Besar
Data menunjukkan bahwa perusahaan skala besar memikul beban risiko yang jauh lebih berat. Sekitar 36% korporasi besar melaporkan serangan, angka yang melampaui statistik pada segmen usaha kecil dan menengah (UKM).
Faktor utama kerentanan ini terletak pada ekosistem kemitraan yang sangat luas. Rata-rata perusahaan besar bekerja sama dengan hingga 100 pemasok dan 130 kontraktor pihak ketiga secara bersamaan.
Selain itu, serangan melalui "hubungan tepercaya" (trusted relationship) juga menjadi tren yang mengancam. Singapura mencatat paparan tertinggi di Asia Pasifik dengan rasio satu dari tiga perusahaan mengalami jenis serangan ini.
Kesenjangan Persepsi dan Prioritas Keamanan
Terdapat anomali antara tingkat risiko yang nyata dengan prioritas manajemen perusahaan. Meskipun serangan siber rantai pasokan sangat berbahaya, hanya 9% perusahaan yang menempatkannya sebagai prioritas utama keamanan mereka.
Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, menyoroti adanya ketimpangan persepsi risiko antarnegara. Ia menilai banyak organisasi masih kurang tepat dalam memperkirakan risiko, sehingga menghambat investasi keamanan yang memadai.
World Economic Forum turut mendukung data ini dengan menyatakan bahwa 65% perusahaan besar melihat kerentanan pihak ketiga sebagai hambatan utama ketahanan siber. Pengabaian terhadap aspek ini dapat melumpuhkan operasional bisnis secara signifikan.