Ubisoft Pangkas Lagi! Studio Abu Dhabi Kena PHK Massal demi Growtopia
- ubisoft
Gadget – Dunia industri game kembali diguncang kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Kali ini, Ubisoft raksasa pengembang game asal Prancis mengumumkan telah melepas 29 karyawan dari studio mobile-nya di Abu Dhabi sebagai bagian dari strategi restrukturisasi global yang telah berlangsung sejak akhir 2024.
Langkah ini bukan hanya soal efisiensi biaya, melainkan perubahan arah strategis besar-besaran: Ubisoft memutuskan untuk menghentikan sejumlah proyek mobile dan memusatkan seluruh sumber daya studio Abu Dhabi pada satu game saja Growtopia.
Keputusan ini, yang diambil pada November 2025 dan dieksekusi tak lama setelahnya, menandai babak baru dalam upaya Ubisoft bertahan di tengah tekanan finansial pasca-kegagalan beberapa judul utamanya. Namun, di balik narasi “fokus dan efisiensi”, ada puluhan karier yang terhenti dan pertanyaan besar tentang masa depan industri game yang semakin tidak stabil.
Artikel ini mengupas latar belakang PHK, dampak terhadap tim pengembang, strategi bisnis di balik keputusan ini, serta konteks krisis berkelanjutan yang sedang dihadapi Ubisoft.
Latar Belakang: Restrukturisasi Global yang Tak Kunjung Usai
Sejak akhir 2024, Ubisoft telah melakukan serangkaian PHK besar-besaran di berbagai studionya, termasuk di Montreal, Toronto, Barcelona, dan Singapura. Total ratusan pekerja telah kehilangan pekerjaan dalam kurun waktu kurang dari 18 bulan.
Penyebab utamanya adalah kinerja finansial yang mengecewakan, terutama dari game-game seperti Skull and Bones dan Assassin’s Creed Mirage, yang gagal mencapai target penjualan meski biaya pengembangan sangat tinggi. Akibatnya, perusahaan terpaksa meninjau ulang portofolio proyeknya dan memangkas apa yang dianggap “tidak esensial”.
Studio Abu Dhabi, yang dibuka pada 2021 dengan misi mengembangkan game mobile berbasis IP Ubisoft, awalnya dipandang sebagai aset strategis. Namun, dalam laporan internal yang bocor, disebutkan bahwa banyak proyek di sana berjalan lambat dan tidak menunjukkan potensi komersial yang jelas.
Fokus pada Growtopia: Mengapa Game Ini Dipilih?
Dari semua proyek di studio Abu Dhabi, hanya Growtopia yang selamat dari pemangkasan.
Growtopia adalah MMO sandbox 2D berbasis pixel yang awalnya dikembangkan oleh Robinson Technologies pada 2013, lalu diakuisisi Ubisoft pada 2017. Meski bukan game blockbuster, Growtopia memiliki komunitas pemain yang sangat loyal, terutama di kalangan remaja dan anak muda di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah.
Beberapa alasan mengapa Growtopia menjadi prioritas:
- Biaya operasional rendah dibanding game AAA
- Pendapatan stabil melalui mikrotransaksi (cosmetic items, world slots)
- Komunitas aktif yang terus berkembang tanpa perlu kampanye pemasaran besar
- Potensi ekspansi lintas platform (mobile, PC, bahkan edukasi)
Dengan fokus pada satu game, Ubisoft berharap bisa mengoptimalkan ROI (Return on Investment) dan menghindari pemborosan sumber daya pada proyek-proyek spekulatif.
Dampak pada Karyawan: 29 Karier Terhenti dalam Sekejap
Menurut laporan dari Game Developer, 29 karyawan termasuk programmer, desainer, dan staf QA diberhentikan secara bersamaan. Banyak dari mereka adalah talenta lokal UEA yang direkrut untuk mendukung visi “game development regional” Ubisoft.
Dalam pernyataan resminya, Ubisoft menyatakan:
“Kami menghargai kontribusi luar biasa dari semua anggota tim yang terdampak. Kami sedang memberikan dukungan transisi, termasuk paket pesangon, layanan penempatan kerja, dan konseling karier.”
Namun, di media sosial, beberapa mantan karyawan menyuarakan kekecewaan. Mereka merasa tidak diberi peringatan yang cukup dan proyek yang mereka kerjakan tiba-tiba dihentikan tanpa evaluasi menyeluruh.
“Kami bekerja siang-malam selama 18 bulan untuk game itu. Lalu dalam satu rapat, semuanya dianggap ‘tidak layak’,” tulis seorang mantan developer di LinkedIn.
Konteks Lebih Luas: Krisis Berkelanjutan di Industri Game
PHK di Abu Dhabi bukan insiden terisolasi. Industri game global sedang mengalami gelombang PHK terburuk dalam sejarah, dengan lebih dari 10.000 pekerja kehilangan pekerjaan sejak 2023 termasuk di Microsoft, Sony, Electronic Arts, dan Activision Blizzard.
Penyebabnya kompleks:
- Overekspansi pasca-pandemi
- Kegagalan monetisasi game live-service
- Tekanan investor untuk profit jangka pendek
- Ketidakpastian regulasi AI dan hak cipta
Ubisoft, yang pernah menjadi simbol inovasi dengan seri Assassin’s Creed dan Far Cry, kini terjebak dalam siklus restrukturisasi yang tak berujung, sambil berusaha mempertahankan relevansi di era mobile dan cloud gaming.
Reaksi Komunitas dan Masa Depan Studio Abu Dhabi
Komunitas Growtopia menyambut positif keputusan ini. Banyak pemain berharap fokus penuh Ubisoft akan membawa pembaruan fitur baru, peningkatan server, dan integrasi lintas platform yang selama ini ditunda.
Namun, di sisi lain, keputusan ini juga memicu kekhawatiran:
“Jika satu game gagal, apakah studio Abu Dhabi akan ditutup total?”
Saat ini, studio tersebut masih beroperasi, tetapi dengan tim yang jauh lebih kecil. Masa depannya bergantung sepenuhnya pada kesuksesan Growtopia dalam 12–18 bulan ke depan.
Kesimpulan: Strategi Bertahan atau Tanda Kejatuhan?
PHK di studio Abu Dhabi mencerminkan dilema besar yang dihadapi Ubisoft: antara ambisi kreatif dan tekanan finansial. Dengan memangkas proyek dan fokus pada aset yang sudah menghasilkan, perusahaan berusaha bertahan tapi dengan risiko kehilangan inovasi jangka panjang.
Bagi para pekerja, ini adalah pengingat pahit bahwa bahkan di perusahaan ternama, stabilitas kerja tidak lagi dijamin. Dan bagi industri, ini adalah alarm bahwa model bisnis game modern sedang dalam krisis identitas.
Satu hal yang pasti: selama Ubisoft belum menemukan keseimbangan antara profit dan kreativitas, daftar PHK kemungkinan besar akan terus bertambah.
| Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di : | |
|---|---|
| @gadgetvivacoid | |
| Gadget VIVA.co.id | |
| X (Twitter) | @gadgetvivacoid |
| Whatsapp Channel | Gadget VIVA |
| Google News | Gadget |