Emas vs Dinar: Perbedaan, Fungsi, dan Pilihan Terbaik untuk Investasi

Emas vs Dinar
Sumber :
  • ilustrasi

Perbincangan soal emas vs dinar kerap memunculkan anggapan bahwa keduanya adalah hal yang sama. Wajar saja, karena dinar memang berbahan dasar emas. Namun demikian, jika ditelaah lebih dalam, emas dan dinar memiliki perbedaan yang cukup mendasar, mulai dari fungsi, bentuk, hingga konteks penggunaannya. Oleh karena itu, penting untuk memahami keduanya secara utuh agar tidak keliru dalam memilih.

Purbaya Optimistis IHSG Senin Aman, Investor Diminta Tak Panik

Pada dasarnya, emas adalah logam mulia yang sudah digunakan manusia sejak ribuan tahun lalu. Dari masa kerajaan kuno hingga era modern, emas tetap memiliki nilai yang diakui lintas zaman dan lintas wilayah. Hingga kini, emas masih berperan sebagai alat penyimpan nilai, bahan perhiasan, instrumen investasi, serta cadangan kekayaan negara.

Menariknya, emas tidak terikat pada sistem ekonomi tertentu. Siapa pun dapat memilikinya, kapan pun, dan di mana pun. Karena sifatnya yang relatif stabil, emas sering disebut sebagai safe haven, terutama ketika kondisi ekonomi global sedang tidak menentu atau saat inflasi melonjak. Dalam situasi seperti itu, emas cenderung mampu mempertahankan nilainya dibandingkan uang kertas.

Amazon Siapkan Rp837 T untuk Suntik OpenAI: Konflik Kepentingan?

Dari segi bentuk, emas hadir dalam berbagai varian. Ada emas batangan yang umum digunakan untuk investasi, emas koin yang bernilai koleksi sekaligus investasi, serta emas perhiasan yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai jual. Adapun nilai emas ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu berat dan kadar kemurnian, misalnya 24 karat yang menandakan emas murni.

Sementara itu, dinar memiliki karakter yang sedikit berbeda. Dinar pada dasarnya adalah koin emas dengan standar tertentu. Dalam sejarah Islam, satu dinar ditetapkan setara dengan sekitar 4,25 gram emas berkadar 22 karat. Artinya, dinar bukan sekadar emas biasa, melainkan emas yang telah distandarkan berat dan kadarnya.

Akuisisi Cove Casa Mia: Dominasi Raksasa Co-living Asia Pasifik

Lebih jauh lagi, dinar tidak hanya berfungsi sebagai aset, tetapi juga sebagai alat tukar dan standar nilai. Dalam praktiknya, dinar sering dikaitkan dengan sistem moneter berbasis emas yang pernah digunakan pada masa lalu. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai dinar banyak ditemui dalam kajian ekonomi syariah, muamalah Islam, hingga wacana alternatif terhadap sistem uang fiat yang digunakan saat ini.

Halaman Selanjutnya
img_title