AI Mendorong Pendinginan Cair Dominasi Pusat Data

AI Mendorong Pendinginan Cair Dominasi Pusat Data
Sumber :
  • TechRadar

4 dari 5 Ancaman Siber Berasal dari Infrastruktur Idle
  • Permintaan AI dan HPC menggandakan kebutuhan energi pusat data global (IEA) hingga tahun 2030.
  • Pendinginan cair 3.000 kali lebih efisien menghilangkan panas dibanding udara, memangkas konsumsi daya hingga 40%.
  • Pendinginan udara (air cooling) tidak lagi mampu menangani kepadatan daya tinggi yang dihasilkan GPU AI modern.

Revolusi Pembelajaran: Bisakah Edukasi Lewat Main Game Efektif?

Permintaan global terhadap teknologi canggih, seperti kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kinerja tinggi (HPC), melonjak drastis. Lonjakan ini mendesak operator infrastruktur memikirkan kembali efisiensi sistem Pendinginan Pusat Data. Saat ini, pusat data menyumbang sekitar 1,5% konsumsi listrik dunia. Namun, Badan Energi Internasional (IEA) memprediksi beban energi ini akan berlipat ganda pada tahun 2030, didorong oleh kebutuhan AI yang rakus daya.

Metode konvensional, yaitu pendinginan udara, kini kesulitan menyeimbangi kebutuhan daya pusat data modern dan masa depan. Kepadatan daya yang ekstrem menuntut solusi pendinginan yang lebih andal dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pendinginan cair (liquid cooling) muncul sebagai alternatif penting. Pengelola pusat data harus segera membuat pilihan tepat terkait pendinginan untuk memastikan operasional yang efisien dan berkelanjutan.

Bocor! Xiaomi 17 Max Usung Baterai Silikon Raksasa 8000mAh

Mengukur Efisiensi Termal: Cair vs Udara

Keunggulan utama pendinginan cair terletak pada efisiensi termalnya yang superior. Air mampu menghilangkan panas lebih dari 3.000 kali lipat dibanding udara.

Efisiensi luar biasa ini berarti operator pusat data memerlukan listrik jauh lebih sedikit untuk menjaga peralatan tetap dingin. Teknik seperti pendinginan langsung ke node (direct-to-node cooling) bahkan dapat membuang hingga 98% panas dari server.

Secara keseluruhan, adopsi pendinginan cair terbukti mengurangi konsumsi daya hingga 40%. Selain itu, air hangat yang dikeluarkan dapat dimanfaatkan kembali secara produktif, misalnya untuk memanaskan fasilitas gedung atau kolam renang.

Tantangan Kepadatan Daya dan Skalabilitas Ruang

Infrastruktur yang didinginkan udara membutuhkan ruang fisik yang besar. Sistem ini umumnya hanya mampu mendukung sekitar 70 kilowatt per rak sebelum mencapai batas kapasitas panas spesifiknya.

Sayangnya, GPU yang menggerakkan platform AI membutuhkan daya hingga 10 kali lebih besar dibandingkan CPU tradisional. Fitur desain seperti penumpukan silikon 3D semakin memadatkan komponen. Kepadatan daya yang meningkat tajam ini mendorong pendinginan udara melampaui ambang batas kelayakannya.

Halaman Selanjutnya
img_title