Perusahaan Mulai Serius Tangani Risiko Keamanan AI
- TechRadar
Aplikasi AI yang paling umum dalam keamanan siber meliputi deteksi phishing (52%), deteksi intrusi (46%), dan otomatisasi operasi keamanan (43%). Penerapan alat ini membantu perusahaan menghadapi volume ancaman yang semakin besar. Namun, implementasi AI juga menghadapi hambatan signifikan. Kekurangan tenaga ahli (54%), kebutuhan validasi manusia (41%), dan ketidakpastian mengenai risiko (39%) menjadi penghalang utama adopsi AI di bidang keamanan siber.
Perbedaan Prioritas antara CEO dan CISO
Laporan WEF menunjukkan adanya perbedaan persepsi yang menarik antara level kepemimpinan C-Suite mengenai ancaman spesifik.
Para CEO kini menempatkan penipuan dan kerentanan AI sebagai kekhawatiran tertinggi mereka. Namun, Kepala Keamanan Informasi (CISO) memiliki fokus berbeda. Mereka paling khawatir terhadap ancaman ransomware dan gangguan rantai pasok. Perbedaan ini menggarisbawahi tantangan dalam menyelaraskan prioritas antara risiko bisnis (CEO) dan risiko operasional teknis (CISO).
Proyeksi Ancaman AI di Masa Depan
Melihat ke depan, WEF memprediksi ancaman berbasis AI akan menjadi jauh lebih canggih dan meyakinkan. Ancaman utama yang diprediksi meliputi phishing yang sangat meyakinkan, penipuan deepfake, dan rekayasa sosial (social engineering) yang sepenuhnya otomatis.
Meskipun AI mempercepat evolusi metode serangan, metode serangan yang paling umum tetaplah phishing. Metode ini telah lama menjadi inti dari serangan siber. Ke depan, perusahaan harus terus memperkuat pertahanan mendasar sambil mempersiapkan diri menghadapi serangan yang dimodifikasi oleh kecanggihan Kecerdasan Buatan.