Menelaah Serat Optik: Infrastruktur Penting Transformasi Digital

Teguh Prasetya
Sumber :
  • Foto: Istimewa

Data dari Telecom Review Asia memproyeksikan pasar infrastruktur jaringan serat optik di Asia Pasifik akan tumbuh dengan CAGR 15,9% hingga 2028. Angka ini mencerminkan peluang investasi yang besar sekaligus menunjukkan urgensi pengembangan infrastruktur ini di Indonesia.

Borneo Digital Summit 2025 di Balikpapan, Transformasi Digital Pemda

Direktur Utama Alita Praya Mitra, Teguh Prasetya, menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan. "Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci untuk mendukung target digitalisasi nasional," ujarnya. Sejak 2020, Alita telah mengimplementasikan Optical Network Management System integrated (ONMSi) untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan serat optik. Hasilnya, perusahaan berhasil:

  • Mengurangi potensi denda layanan hingga 98% melalui deteksi dini gangguan.

  • Meningkatkan efisiensi perawatan preventif hingga 22% berkat pemantauan jaringan berbasis data real-time.

  • Mempercepat perbaikan hingga 56% dengan sistem pelaporan otomatis.

Langkah Perdana Dirut Baru Telkom: Perkuat Kolaborasi

Langkah ini membuktikan bahwa penggunaan teknologi pengelolaan jaringan yang terintegrasi dapat meningkatkan keandalan layanan sekaligus efisiensi operasional.

Dukungan Mitra Teknologi

Kolaborasi Telkom & Thales Perkuat Keamanan Data Konsumen

Vice President Sales Viavi, Rajesh Rao, menyampaikan komitmen perusahaannya dalam mendukung transformasi digital Indonesia. "Kami menghadirkan solusi pengujian dan penjaminan kualitas yang memungkinkan penggelaran jaringan fiber berperforma tinggi. Dengan ini, penyedia layanan bisa mempercepat konektivitas dan meningkatkan keandalan jaringan," tuturnya.

Peran mitra teknologi seperti Viavi tidak hanya memastikan kualitas teknis, tetapi juga mendorong transfer pengetahuan dan penggunaan alat-alat canggih untuk mempercepat pembangunan infrastruktur.

Tantangan dan Strategi Mitigasi

Meski prospek serat optik menjanjikan, implementasinya di lapangan bukan tanpa kendala. Ketua Umum APJATEL, Jerry Siregar, mengungkapkan bahwa salah satu tantangan utama adalah kurangnya harmonisasi regulasi telekomunikasi, terutama terkait Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang sering kali tidak terkoordinasi dengan pemilik jaringan utilitas. Akibatnya, pembangunan jaringan sering menghadapi kendala teknis di lapangan.

"Kini, kami mendorong penataan jaringan yang lebih memperhatikan estetika dan keamanan kota," ungkap Jerry. APJATEL pun terus mendorong kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan standar penataan jaringan serat optik yang lebih baik dan terintegrasi.

Strategi pembangunan ke depan juga difokuskan untuk meminimalisir risiko kerusakan jaringan yang sudah tertata, sekaligus memastikan infrastruktur dapat mendukung pertumbuhan kebutuhan data masyarakat yang terus meningkat.

Halaman Selanjutnya
img_title