Patrick Kluivert Tak Menyesal Meski Gagal ke Piala Dunia: Tim Peringkat 118 pun Bisa Lawan Arab dan Irak
- ig/@patrickkluivert9
Ia menambahkan, walau mimpi tampil di Piala Dunia harus tertunda, perjalanan ini telah menumbuhkan fondasi kuat untuk masa depan sepak bola Indonesia. “Kami mungkin gagal sekarang, tapi mentalitas juara sedang tumbuh di tim ini,” tegasnya.
Rasa Kecewa Tak Bisa Disembunyikan
Meski berusaha tegar, Kluivert tetap mengakui rasa kecewa yang mendalam. Ia tahu betapa besar ekspektasi publik terhadap Timnas Indonesia setelah penampilan gemilang di babak-babak sebelumnya.
“Mimpi Piala Dunia sirna begitu saja. Kekecewaan bukan hanya saya rasakan, tetapi seluruh bangsa Indonesia. Ini benar-benar berat,” ucapnya dengan nada emosional.
Pelatih asal Belanda itu pun menyatakan siap bertanggung jawab penuh atas hasil tersebut. Dalam unggahan media sosialnya pada Senin (13/10), Kluivert menulis bahwa ia siap dievaluasi oleh PSSI dan menerima apa pun keputusan terkait masa depannya sebagai pelatih kepala.
Nasib Kluivert Masih Menunggu Keputusan PSSI
Setelah pertandingan terakhir melawan Irak, Kluivert dan tim pelatih langsung terbang kembali ke Belanda. Sementara itu, masa depannya bersama Timnas Indonesia masih menunggu keputusan rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang jadwalnya belum ditentukan.
Kendati demikian, warisan Kluivert di skuad Garuda tak bisa diabaikan. Di bawah arahannya, Timnas Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dalam hal kedisiplinan taktik, tempo permainan, dan keberanian melawan tim-tim besar Asia.
Dari sisi mental, para pemain juga terlihat jauh lebih percaya diri dan tidak lagi bermain bertahan total seperti di era sebelumnya.
Kegagalan ini bisa menjadi batu loncatan. Banyak pihak menilai bahwa pengalaman melawan tim seperti Arab Saudi dan Irak merupakan bekal berharga bagi pemain muda Indonesia untuk tampil lebih siap di kompetisi internasional berikutnya.
Kluivert bahkan percaya, jika fondasi ini dijaga, Indonesia bisa kembali menantang tim-tim besar di Asia dalam waktu dekat.
“Yang terpenting adalah kami sudah berani melawan. Dari posisi 118 dunia, kami membuktikan bisa menekan tim peringkat 58 dan 59. Itu bukti bahwa kami di jalur yang benar,” pungkas Kluivert.
Dengan segala dinamika dan tekanan yang dihadapi, perjalanan Timnas Indonesia di bawah Patrick Kluivert menjadi pelajaran penting. Walau gagal menembus Piala Dunia 2026, tim ini telah menumbuhkan semangat baru: bahwa Garuda kini tak lagi takut terbang melawan langit Asia.