Patrick Kluivert Tak Menyesal Meski Gagal ke Piala Dunia: Tim Peringkat 118 pun Bisa Lawan Arab dan Irak
- ig/@patrickkluivert9
Gadget – Mimpi Timnas Indonesia tampil di ajang sepak bola terbesar dunia, Piala Dunia 2026, resmi berakhir. Harapan publik Tanah Air pupus setelah skuad Garuda kalah dari dua lawan tangguh, Arab Saudi dan Irak, di babak keempat kualifikasi zona Asia.
Namun di balik kegagalan itu, pelatih Patrick Kluivert justru memilih untuk melihat sisi positif. Ia menilai timnya sudah menunjukkan karakter kuat dan perkembangan nyata di lapangan.
Kluivert mengaku bangga dengan perjuangan anak asuhnya yang berani menantang dua tim dengan peringkat FIFA jauh lebih tinggi. “Sebagai pelatih kepala, saya sangat bangga pada mereka. Cara mereka bermain fantastis, bisa menghadapi tim peringkat 58 dan 59 dunia, sementara kami di posisi 118,” ujarnya dalam wawancara yang dikutip Reuters.
Bagi Kluivert, dua kekalahan dari Arab Saudi dan Irak memang menyakitkan, tapi juga menjadi cermin kemajuan Timnas Indonesia. Ia melihat semangat juang, kedisiplinan, dan mental bertanding para pemain telah meningkat pesat sejak awal dirinya memimpin.
Indonesia Masih Tertinggal, Tapi Sudah Berani Melawan
Dalam dua laga terakhir, Indonesia tampil penuh determinasi. Walau kalah secara skor, permainan mereka dianggap lebih terorganisasi. Beberapa peluang tercipta lewat kombinasi cepat antara Ragnar Oratmangoen, Jay Idzes, dan Kevin Diks.
“Para pemain sudah bekerja luar biasa. Mereka bukan tim muda yang gugup, justru tampil dengan percaya diri. Hanya saja gol tidak datang ketika kami membutuhkannya,” ungkap eks striker Barcelona itu.
Kluivert menegaskan bahwa kekalahan ini bukan karena kurangnya pengalaman. Justru, ia melihat banyak pemain yang kini sudah mulai matang dan paham filosofi permainan modern yang ia terapkan. Ia menilai hasil di lapangan tidak sepenuhnya mencerminkan performa nyata tim.
Kluivert: Kami Sudah Bekerja Keras Sebagai Tim
Kluivert juga menyoroti kerja keras seluruh elemen tim — dari staf pelatih, tim medis, hingga pemain cadangan. Ia menilai seluruh pihak telah berjuang maksimal demi membawa Indonesia sejajar dengan kekuatan Asia lainnya.
“Kami bekerja keras sebagai satu kesatuan. Semua pihak, dari staf medis hingga pemain, berkontribusi besar untuk perkembangan tim ini,” kata Kluivert.
Ia menambahkan, walau mimpi tampil di Piala Dunia harus tertunda, perjalanan ini telah menumbuhkan fondasi kuat untuk masa depan sepak bola Indonesia. “Kami mungkin gagal sekarang, tapi mentalitas juara sedang tumbuh di tim ini,” tegasnya.
Rasa Kecewa Tak Bisa Disembunyikan
Meski berusaha tegar, Kluivert tetap mengakui rasa kecewa yang mendalam. Ia tahu betapa besar ekspektasi publik terhadap Timnas Indonesia setelah penampilan gemilang di babak-babak sebelumnya.
“Mimpi Piala Dunia sirna begitu saja. Kekecewaan bukan hanya saya rasakan, tetapi seluruh bangsa Indonesia. Ini benar-benar berat,” ucapnya dengan nada emosional.
Pelatih asal Belanda itu pun menyatakan siap bertanggung jawab penuh atas hasil tersebut. Dalam unggahan media sosialnya pada Senin (13/10), Kluivert menulis bahwa ia siap dievaluasi oleh PSSI dan menerima apa pun keputusan terkait masa depannya sebagai pelatih kepala.
Nasib Kluivert Masih Menunggu Keputusan PSSI
Setelah pertandingan terakhir melawan Irak, Kluivert dan tim pelatih langsung terbang kembali ke Belanda. Sementara itu, masa depannya bersama Timnas Indonesia masih menunggu keputusan rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang jadwalnya belum ditentukan.
Kendati demikian, warisan Kluivert di skuad Garuda tak bisa diabaikan. Di bawah arahannya, Timnas Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dalam hal kedisiplinan taktik, tempo permainan, dan keberanian melawan tim-tim besar Asia.
Dari sisi mental, para pemain juga terlihat jauh lebih percaya diri dan tidak lagi bermain bertahan total seperti di era sebelumnya.
Kegagalan ini bisa menjadi batu loncatan. Banyak pihak menilai bahwa pengalaman melawan tim seperti Arab Saudi dan Irak merupakan bekal berharga bagi pemain muda Indonesia untuk tampil lebih siap di kompetisi internasional berikutnya.
Kluivert bahkan percaya, jika fondasi ini dijaga, Indonesia bisa kembali menantang tim-tim besar di Asia dalam waktu dekat.
“Yang terpenting adalah kami sudah berani melawan. Dari posisi 118 dunia, kami membuktikan bisa menekan tim peringkat 58 dan 59. Itu bukti bahwa kami di jalur yang benar,” pungkas Kluivert.
Dengan segala dinamika dan tekanan yang dihadapi, perjalanan Timnas Indonesia di bawah Patrick Kluivert menjadi pelajaran penting. Walau gagal menembus Piala Dunia 2026, tim ini telah menumbuhkan semangat baru: bahwa Garuda kini tak lagi takut terbang melawan langit Asia.
| Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di : | |
|---|---|
| @gadgetvivacoid | |
| Gadget VIVA.co.id | |
| X (Twitter) | @gadgetvivacoid |
| Whatsapp Channel | Gadget VIVA |
| Google News | Gadget |