Shin Tae-yong Sampai Harus Bujuk Pemain Demi Timnas Indonesia, Tapi Tetap Disalahkan: “Nggak Ada Pilihan!”
- tvonenews.com
Setelah melalui sejumlah upaya dan tekanan dari berbagai pihak, sang pemain akhirnya memutuskan bertahan dan bahkan dimainkan sebagai starter dalam laga melawan China.
“Dan ya, lawan China dia main. Harusnya bisa tampil baik karena levelnya juga bagus,” ujar Jeje.
Sayangnya, meski upaya itu berhasil menjaga stabilitas tim, hasil akhir tetap pahit. Timnas Indonesia kalah 2-1 dari China, dan kekalahan itu kembali menambah tekanan terhadap Shin Tae-yong.
Disalahkan karena Starting Lineup?
Setelah kekalahan tersebut, muncul kabar bahwa PSSI marah terhadap Shin Tae-yong karena tidak setuju dengan susunan pemain yang diturunkannya. Namun Jeje menegaskan bahwa kabar itu tidak benar.
“Marah sih nggak tahu, tapi ada yang komplain soal starting-nya. Tapi menurut saya, itu wewenang head coach. Kenapa orang lain yang harus ngatur?” tegasnya.
Ia menambahkan, memang ada pihak-pihak tertentu yang memberi saran soal siapa yang sebaiknya dimainkan, namun Shin Tae-yong tetap memegang prinsip profesionalnya.
“Ada yang komplain, iya, tapi nggak sampai nyuruh pertandingan berikutnya harus mainin siapa,” ujarnya lagi.
Publik Makin Simpati pada Shin Tae-yong
Pernyataan Jeje ini langsung memancing simpati publik. Banyak yang menilai bahwa Shin Tae-yong telah memberikan segalanya untuk Timnas Indonesia — mulai dari strategi, disiplin, hingga pengorbanan pribadi. Bahkan ketika harus “merendahkan diri” membujuk pemain agar tetap bertahan demi semangat tim.
Bagi banyak penggemar, hal ini menjadi bukti nyata bahwa pelatih berusia 55 tahun itu bukan hanya sekadar pelatih taktis, tetapi juga sosok yang tulus membangun mental dan karakter pemain Indonesia.
Bahkan ketika hasil di lapangan tidak selalu berpihak padanya, Shin Tae-yong tetap berusaha menjaga profesionalisme dan solidaritas skuad Garuda.
Cerita ini memperlihatkan bahwa pekerjaan seorang pelatih tidak hanya sebatas taktik dan strategi. Dalam tekanan besar dan ekspektasi tinggi, pelatih juga harus menjadi pemimpin, motivator, bahkan mediator di tengah situasi yang sulit.
Apa yang dialami Shin Tae-yong menjadi potret nyata perjuangan pelatih asing yang menghadapi tantangan kompleks di sepak bola Indonesia — mulai dari budaya, tekanan media, hingga politik internal federasi.