Louis van Gaal ke Timnas Indonesia? 5 Bintang Dunia Ini Pernah Jadi Korban Konflik Sang Pelatih
- FIFA
Gadget – Nama Louis van Gaal kembali mencuat setelah muncul kabar bahwa pelatih asal Belanda itu akan segera mengumumkan langkah besar lewat konferensi pers pada Senin, 20 Oktober 2025. Di tengah rumor itu, spekulasi semakin liar: Van Gaal disebut akan menjadi pelatih baru Timnas Indonesia, menggantikan Patrick Kluivert yang baru saja berpisah dengan PSSI.
Meski reputasinya luar biasa—pernah melatih klub besar seperti Barcelona, Bayern Munich, dan Manchester United—Van Gaal bukan tanpa sisi gelap. Ia dikenal keras, disiplin ekstrem, dan kerap bentrok dengan pemain bintangnya sendiri.
Karakter kuatnya memang sering menghasilkan tim tangguh, tapi di sisi lain bisa memicu konflik di ruang ganti. Karena itu, jika benar PSSI mendatangkannya, keharmonisan skuad Garuda perlu dijaga dengan cermat.
Berikut adalah lima pemain top dunia yang pernah berselisih dengan Louis van Gaal selama kariernya.
1. Juan Román Riquelme – Korban Politik Klub
Saat melatih Barcelona, Van Gaal bersitegang dengan Juan Román Riquelme, bintang Argentina yang dikenal dengan permainan elegan dan tempo lambat.
Van Gaal terang-terangan menganggap Riquelme sebagai pemain “politik”, bukan pilihan taktis. Ia merasa kehadiran sang gelandang hanya untuk memenuhi tekanan manajemen, bukan kebutuhan tim.
Akibatnya, Riquelme jarang dimainkan dan akhirnya dipinjamkan ke Villarreal, di mana ia justru bersinar dan menjadi ikon klub.
2. Franck Ribéry – Menyebut Van Gaal “Orang Jahat”
Di Bayern Munich, giliran Franck Ribéry yang merasa frustrasi. Pemain asal Prancis itu menilai Van Gaal terlalu diktator dan tak memberi ruang dialog.
“Dengan Van Gaal, tidak ada komunikasi. Ia hanya bicara, tidak mau mendengarkan,” ujar Ribéry kepada L’Équipe.
Meskipun Bayern meraih gelar di bawah kepemimpinan Van Gaal, hubungan keduanya tetap beku. Ribéry bahkan menyebut sang pelatih sebagai “orang jahat” karena sikap kerasnya terhadap pemain.
3. Robin van Persie – Dari Andalan Jadi Korban
Saat memimpin Timnas Belanda di Piala Dunia 2014, Van Gaal mempercayai Robin van Persie sebagai ujung tombak utama. Namun hubungan itu memburuk ketika keduanya kembali bekerja sama di Manchester United.
Van Gaal menilai performa Van Persie menurun dan tak segan “menghukum” dengan mencadangkannya. Tak lama kemudian, sang striker dijual ke Fenerbahçe.
Van Persie pernah mengaku kecewa karena diperlakukan dingin oleh pelatih yang dulu membawanya bersinar di level internasional.
4. Rivaldo – Tak Mau Tunduk pada Strategi
Kisah serupa juga terjadi dengan Rivaldo di masa Van Gaal melatih Barcelona. Pemain terbaik dunia tahun 1999 itu menolak permintaan Van Gaal untuk bermain di posisi sayap kiri, karena merasa lebih efektif sebagai playmaker di tengah.
Van Gaal bersikeras dengan taktiknya, dan Rivaldo pun menolak mentah-mentah. Perselisihan itu membuat hubungan keduanya pecah dan sang bintang akhirnya meninggalkan klub.
Rivaldo bahkan pernah berkata, “Saya kehilangan kebahagiaan bermain bola karena dia.”
5. Luca Toni – Konflik Terbuka di Bayern Munich
Selain Ribéry, Luca Toni juga menjadi korban kebijakan keras Van Gaal di Bayern Munich. Striker asal Italia itu menilai sang pelatih tidak menghargai pemain senior dan sering mempermalukan pemain di depan publik.
Toni akhirnya dikeluarkan dari skuad utama setelah berselisih di ruang ganti. Ia kemudian hengkang ke AS Roma dengan perasaan kecewa, menyebut Van Gaal sebagai “pelatih yang tak punya empati”.
Van Gaal dan Risiko Bagi Timnas Indonesia
Kehadiran Louis van Gaal di Timnas Indonesia tentu akan menjadi sorotan besar dunia sepak bola Asia. Reputasinya sebagai pelatih berpengalaman bisa membawa Garuda ke level baru. Namun, pendekatannya yang keras bisa menjadi pedang bermata dua.
Para pemain muda Indonesia yang masih dalam tahap berkembang bisa saja kesulitan beradaptasi dengan gaya kepemimpinannya yang disiplin ekstrem dan tanpa kompromi.
Sementara itu, sosok seperti Erick Thohir dan manajemen PSSI harus mampu menyiapkan lingkungan yang kondusif jika benar Van Gaal bergabung. Harmoni tim menjadi faktor utama agar sistem yang ia bangun tidak berujung konflik internal seperti yang kerap terjadi di masa lalu.
Louis van Gaal memang pelatih dengan rekam jejak mengesankan, tapi juga dikenal dengan ego dan pendekatan otoriter. Ia bisa menciptakan tim solid, tapi juga bisa membuat ruang ganti panas jika tidak dikelola dengan baik.
Jika rumor ini benar, Timnas Indonesia akan menghadapi babak baru yang penuh tantangan—antara potensi besar dan risiko konflik internal.
Bagi PSSI, keputusan ini harus diambil dengan perhitungan matang, bukan sekadar nama besar.
| Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di : | |
|---|---|
| @gadgetvivacoid | |
| Gadget VIVA.co.id | |
| X (Twitter) | @gadgetvivacoid |
| Whatsapp Channel | Gadget VIVA |
| Google News | Gadget |